Al-Quds, Purna Warta -Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, memotong pendanaan untuk akademi film rezim Israel dan ajang penghargaan film paling bergengsi setelah sebuah film tentang mimpi seorang anak Palestina berusia 12 tahun untuk melihat laut memenangkan kategori film fitur terbaik.
Baca juga: Selebritas Bersatu dalam Acara Penggalangan Dana Gaza Terbesar di Inggris
Dalam pernyataan di platform media sosial X, Zohar—anggota partai sayap kanan Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu—mengumumkan bahwa ia menangguhkan pendanaan untuk acara tersebut karena menilai film itu berpihak pada Palestina dan menggambarkan tentara Israel secara negatif.
“Selama saya menjabat, warga Israel tidak akan membayar dari kantong mereka untuk sebuah acara memalukan yang meludahi tentara Israel,” ujarnya. “Warga Israel berhak agar uang pajak mereka digunakan untuk hal-hal yang lebih penting dan bernilai.”
Kemudian pada Rabu, Zohar kembali menyerang ajang Penghargaan Ophir, dengan menuduhnya mempromosikan “narasi asing yang terputus dari realitas, melawan Israel dan tentaranya.”
Pada Selasa malam di Tel Aviv, Akademi Film dan Televisi Israel memberikan penghargaan Best Picture 2025 kepada “The Sea” dalam ajang Ophir Awards, yang dikenal sebagai “Oscar Israel.”
Film karya sutradara sekaligus penulis Shai Carmeli Pollak serta diproduseri Baher Agbariya ini menceritakan perjalanan seorang anak laki-laki dari rumahnya di Ramallah, Tepi Barat yang diduduki, menuju Tel Aviv di wilayah pendudukan Israel.
“The Sea” juga meraih empat penghargaan lain, termasuk aktor terbaik yang dimenangkan Muhammad Ghazawi, 13 tahun, yang mencatat sejarah sebagai penerima termuda penghargaan tersebut. Selain itu, Khalifa Natour yang berperan sebagai ayah sang bocah memenangkan aktor pendukung terbaik.
Film ini dijadwalkan mewakili Israel di ajang Oscar kategori International Feature Film.
Dalam acara tersebut, sejumlah pembuat film dan nominasi menyerukan penghentian perang brutal Israel di Gaza, yang sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan sedikitnya 65.141 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Produser lainnya mengecam rezim pendudukan Tel Aviv.
“Film ini tentang hak setiap anak untuk hidup damai, sebuah hak dasar yang tidak akan pernah kami lepaskan,” kata Agbariya. “Perdamaian dan kesetaraan bukanlah ilusi, melainkan pilihan nyata yang bisa diwujudkan di sini dan sekarang.”
Baca juga: Spanyol Akan Selidiki Kejahatan Israel di Gaza Bersama Mahkamah Pidana Internasional (ICC)
Ketua akademi, Assaf Amir, menekankan bahwa film ini adalah karya sensitif tentang kemanusiaan secara umum, khususnya tentang seorang anak Palestina yang hanya memiliki satu harapan: mencapai laut.
Sementara itu, kalangan hukum menyoroti legalitas keputusan pencabutan dana tersebut. Pengacara Oded Feller menilai Zohar “melontarkan ancaman tanpa dasar” dan tidak memiliki kewenangan untuk menahan pendanaan.
“Anggaran kementerian bukan milik ibunya, dan ia tidak berhak mencampuri konten budaya atau penilaian profesional pihak yang memilih film,” ujar Feller.
Tahun lalu, film dokumenter gabungan Israel-Palestina “No Other Land” memenangkan Oscar untuk kategori Best Documentary Feature.
Film tersebut mengangkat perjuangan aktivis Palestina mencegah militer Israel menghancurkan komunitas mereka di desa Masafer Yatta, Tepi Barat yang diduduki.
Reaksi rezim Israel sangat keras, dengan Zohar menyebut kemenangan itu sebagai “momen yang memalukan bagi dunia perfilman” dan menggambarkannya sebagai “sabotase” terhadap Tel Aviv.


