Laporan The Guardian: Israel Terkejut dan Sedih atas Nota Kesepahaman Tehran–Washington / “Kami Tidak Memiliki Seorang Pun Sahabat di Dunia!”

akhir

London, Purna Warta – Harian Inggris The Guardian, dalam laporan yang ditulis oleh jurnalisnya, Jason Burke, dari wilayah Palestina yang diduduki, mengulas perasaan warga Yahudi di wilayah pendudukan setelah diumumkannya berakhir perang.

Surat kabar tersebut menulis bahwa masyarakat Israel berada dalam kondisi terkejut dan bingung, serta merasa bahwa Amerika Serikat telah mengkhianati Israel. Menurut laporan itu, banyak warga Israel masih mendukung berlanjutnya operasi militer pemerintah mereka dan, meskipun merasakan kekecewaan setelah tercapainya kesepahaman untuk mengakhiri perang, tetap berharap konflik terhadap Iran, Lebanon, dan Palestina terus berlanjut.

The Guardian juga menilai bahwa meskipun Benjamin Netanyahu mengalami sejumlah kegagalan, ia masih memiliki peluang besar untuk mempertahankan kekuasaannya dalam pemilihan umum yang diperkirakan berlangsung pada musim gugur mendatang dan diprediksi berlangsung sangat ketat.

Jason Burke, koresponden The Guardian di Yerusalem yang diduduki dan kota Rehovot, menulis bahwa di Kafe-Restoran Tree yang terletak dekat Jalan Herzl di kota Rehovot, terdapat banyak isu yang hampir disepakati oleh semua pengunjung.

Hampir tidak ada yang membantah bahwa perjanjian gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat yang ditandatangani beberapa hari sebelumnya merupakan kesepakatan yang sangat merugikan Israel.

Avi Perez, 55 tahun, mengatakan:

“Donald Trump telah mengkhianati kami.”

Israel Merasa Dikepung Ancaman

Banyak warga juga meyakini bahwa Israel kini menghadapi lebih banyak ancaman dibandingkan sebelumnya dan harus menghadapinya sendirian.

Shaham Novik, 35 tahun, sambil melihat daftar menu berkata:

“Ini aneh. Suatu hari kami bersama anak-anak berada di tempat perlindungan, lalu keesokan harinya semuanya seolah kembali normal. Padahal tidak ada satu pun masalah yang benar-benar terselesaikan.”

Rehovot, yang terletak sekitar 19 kilometer dari Tel Aviv, selama bertahun-tahun dianggap sebagai gambaran “Israel kelas menengah” dalam berbagai survei.

Di jalan-jalan utama kota itu tampak deretan bendera Israel dan bendera pelangi, suara musik elektronik terdengar dari beberapa sudut kota, kelompok Yahudi Ortodoks berkumpul di sejumlah lokasi, sementara lalu lintas akhir pekan padat akibat proyek pembangunan sistem transportasi baru.

Sebagian warga datang ke restoran tersebut untuk sejenak menjauh dari berita, yang pada Jumat pagi didominasi laporan mengenai kembali pecahnya pertempuran di Lebanon.

Di Lebanon, pasukan Israel melancarkan gelombang serangan udara yang dilaporkan menewaskan 18 orang dan melukai 33 lainnya. Serangan tersebut terjadi setelah Hizbullah menyerang sebuah tank Israel dan menewaskan empat tentara Israel, termasuk seorang perwira senior.

“Semua Orang Senang dengan Perang”

Banyak warga Israel memandang kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat dengan Iran sebagai sebuah pengkhianatan.

Sejumlah analis menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai bentuk penyerahan diri dan penghinaan yang bahkan lebih buruk daripada skenario yang sebelumnya dikhawatirkan Israel.

Kekhawatiran yang meluas muncul bukan hanya karena Iran dinilai dapat kembali bangkit lebih kuat setelah konflik, tetapi juga karena kesepakatan yang diberlakukan di Lebanon dianggap membatasi kemampuan Israel menghadapi Hizbullah, yang dipandang sebagai ancaman utama bagi wilayah utara Israel.

Udi Teneh, seorang konsultan strategi politik dan manajer kampanye internasional di Israel, mengatakan:

“Orang-orang Israel percaya bahwa perang di Lebanon adalah perang yang dapat dibenarkan. Setiap orang yang tinggal di Israel mengetahui bahwa Iran dan Hizbullah adalah satu kesatuan.”

Di kota Metula, yang berada tepat di dekat perbatasan Lebanon, suasana kemarahan terlihat jelas.

Daniel Dorfman, pemilik sebuah restoran, mengatakan:

“Hampir semua orang sangat senang dengan perang ini, tetapi kesepakatan Amerika benar-benar tidak baik bagi Israel. Ini adalah kesalahan besar.”

Sejumlah warga lainnya berbicara mengenai “kegagalan total” Israel dalam mencapai tujuan perang, yakni perubahan rezim di Iran, penghancuran program nuklir Iran, dan pemusnahan kemampuan rudal balistik negara tersebut.

Mereka juga menilai bahwa setelah memulai perang “bahu-membahu” dengan Amerika Serikat, Israel justru tersisih dari proses penyelesaiannya dan bahkan disebut oleh Donald Trump sebagai “kekuatan kecil”.

Alih-alih diundang ke Gedung Putih untuk memberikan masukan kepada Trump, Netanyahu justru menghadapi kritik keras terkait tingginya korban sipil akibat serangan berkelanjutan Israel di Lebanon, yang menurut laporan telah menewaskan lebih dari 3.900 orang.

Nadav Eyal, kolumnis harian Yedioth Ahronoth, menulis:

“Kata-kata seperti keterkejutan dan kesedihan bahkan tidak cukup untuk menggambarkan suasana yang kini dirasakan oleh sebagian kalangan pemerintahan Israel.”

Netanyahu Kehilangan Perang, Namun Masih Memiliki Peluang Politik

Netanyahu yang berusia 76 tahun dan sedang menghadapi proses hukum atas tuduhan korupsi kini menghadapi tantangan besar untuk meyakinkan pemilih bahwa hanya dirinya yang mampu menjaga keamanan Israel.

Profesor Tamar Hermann, pakar opini publik dari Israel Democracy Institute, mengatakan:

“Netanyahu menunjukkan tingkat kepercayaan diri dan ambisi yang sangat tinggi ketika menetapkan tujuan-tujuannya. Ketika tujuan tersebut gagal dicapai, masyarakat akan menilai bahwa ia tidak mampu memenuhi janjinya.”

Rehovot juga dianggap sebagai salah satu kota yang penting untuk mengukur preferensi pemilih Yahudi, yang mencakup sekitar tiga perempat pemilih Israel.

Pemilihan umum nasional diperkirakan akan digelar pada Oktober mendatang.

Seorang pejabat senior dari kubu oposisi mengatakan:

“Pemilu mendatang akan menjadi titik balik yang sangat besar. Sulit untuk melebih-lebihkan pentingnya pemilu ini bagi masa depan negara.”

Kepercayaan terhadap Netanyahu, bahkan di kalangan pendukungnya sendiri, mengalami penurunan akibat berbagai kegagalan yang dinilai berkontribusi terhadap serangan Hamas pada Oktober 2023.

Sementara itu, perang berkepanjangan Israel di Gaza yang menurut laporan telah menewaskan lebih dari 73.000 orang, sebagian besar warga sipil, juga menyebabkan meningkatnya isolasi internasional terhadap Israel.

Meskipun Israel disebut menguasai sekitar 70 persen wilayah Gaza, Hamas masih mempertahankan pengaruhnya atas sebagian besar populasi wilayah tersebut. Demikian pula operasi militer berulang terhadap Hizbullah di Lebanon dinilai belum mencapai hasil yang menentukan.

Meski demikian, sebagian warga tetap memberikan dukungan kepada Netanyahu.

Dalam sebuah survei terhadap pemilih yang belum menentukan pilihan, sebanyak 43 persen menyatakan bahwa koalisi yang dipimpin Netanyahu merupakan pihak yang paling mampu menghadapi Iran.

Avi Perez, seorang insinyur, mengatakan:

“Netanyahu adalah manusia biasa dan tentu membuat kesalahan. Namun ia tahu bagaimana memperbaiki keadaan. Ia memahami apa yang dibutuhkan Israel. Ia berbicara untuk Israel. Trump berbicara untuk kepentingan bisnisnya sendiri.”

Polarisasi Politik yang Semakin Tajam

Lily Novik, 34 tahun, seorang dokter yang tinggal di Rehovot, mengatakan bahwa masyarakat Israel kini semakin terpecah dalam banyak persoalan.

Menurutnya:

“Netanyahu telah berusaha memecah belah kami dan ia berhasil. Ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Sementara itu, tidak ada yang peduli pada masalah-masalah mendasar seperti harga perumahan atau inflasi.”

Ia menambahkan:

“Saya percaya ketika Iran mengatakan ingin menghancurkan Israel. Mengapa saya tidak percaya? Tetapi pemerintah ini memanfaatkan perang untuk mengesahkan undang-undang yang memecah belah masyarakat dan semata-mata demi mempertahankan kekuasaan.”

Sejumlah pejabat oposisi juga menyatakan bahwa warga Yahudi Israel kini lebih terpecah dibandingkan sebelumnya.

Salah seorang dari mereka mengatakan:

“Orang Israel terus berdebat tanpa benar-benar memahami satu sama lain. Tidak ada lagi landasan bersama yang menyatukan mereka.”

Namun, Tamar Hermann tidak sepenuhnya sependapat. Ia mengingatkan bahwa Israel juga pernah mengalami periode polarisasi yang sangat tajam pada dekade-dekade sebelumnya, termasuk pada tahun 1990-an.

Menurutnya, mayoritas pemilih Yahudi masih memiliki lebih banyak kesamaan daripada perbedaan, termasuk dukungan terhadap ekonomi liberal yang disertai negara kesejahteraan yang kuat, sikap tegas dalam isu keamanan, keyakinan akan pentingnya mempertahankan Israel sebagai negara Yahudi, serta pandangan bahwa solusi dua negara bagi konflik Palestina–Israel tidak realistis.

Dalam jangka pendek, sebagian besar dari mereka juga mendukung perang di Lebanon dan menolak keras kebijakan yang memberikan pengecualian wajib militer kepada komunitas Yahudi Ortodoks.

Hermann mengatakan:

“Semua pembicaraan mengenai polarisasi ini mungkin sebagian merupakan ramalan yang menjadi kenyataan karena terus-menerus diulang.”

Di Rehovot, Dalia Perez, 55 tahun, mengatakan bahwa peristiwa-peristiwa dalam sepekan terakhir membuatnya menyimpulkan bahwa:

“Perdamaian tidak akan pernah terwujud.”

Ia menambahkan:

“Saya dulu berharap perang-perang ini akan berakhir. Namun sekarang saya merasa kami akan selalu hidup dengan mengandalkan pedang kami sendiri. Kini kami memahami bahwa kami tidak memiliki seorang pun sahabat dan tidak dapat mempercayai siapa pun.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *