Al-Quds, Purna Warta – Laporan CIA yang diterbitkan pada Agustus, yang sebagian isinya diungkap pada Senin oleh media independen Drop Site News, menunjukkan bahwa sejumlah faktor tekanan besar telah muncul di tengah komunitas pemukim Yahudi yang tinggal di wilayah-wilayah pendudukan Israel, yang berpotensi memicu perang saudara.
Faktor-faktor tersebut mencakup krisis ekonomi akibat melonjaknya belanja militer; pasukan yang kembali dari zona tempur dengan membawa senjata berat dan pengalaman traumatis; kemarahan publik terkait pengecualian kaum ultra-Ortodoks dari wajib militer; kekerasan pemukim di Tepi Barat yang diduduki; serta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang berupaya mempertahankan kekuasaannya menjelang pemilu pada akhir Oktober.
Para pakar CIA mengatakan bahwa pengecualian kaum ultra-Ortodoks dari wajib militer telah menciptakan perpecahan mendalam di kalangan warga Israel, sementara biaya besar akibat agresi ekstensif di Gaza telah menyebabkan inflasi mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah, yang semakin meningkatkan ketidakpuasan terhadap rezim tersebut.
Mereka mengatakan para anggota militer yang kembali dari zona tempur di Gaza, Lebanon, dan Iran dalam kondisi trauma serta membawa persenjataan berat memiliki “senjata dan haus darah” yang dapat memicu perang saudara berskala penuh di wilayah-wilayah pendudukan.
Menurut laporan CIA tersebut, semakin meningkatnya isolasi Israel di dunia internasional, termasuk dari Amerika Serikat, juga telah berubah menjadi ancaman besar terhadap rezim tersebut. Laporan itu menambahkan bahwa isolasi tersebut dapat mempercepat keruntuhannya.
Laporan tersebut mengatakan bahwa interaksi berbagai faktor tekanan utama itu, ketika terjadi bersamaan dengan krisis internal yang mendalam, dapat memicu perang saudara. Situasi tersebut pada gilirannya dapat menciptakan skenario-skenario akut lainnya, termasuk hengkangnya perusahaan-perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan dari wilayah pendudukan atau negara-negara Arab meninjau kembali kesepakatan normalisasi mereka dengan rezim Israel.
Laporan tersebut menyimpulkan bahwa Israel sedang mengakumulasi kontradiksi ekonomi, politik, dan sosial di balik citra dominasi militernya dan keunggulan intelijennya. Laporan itu juga memperingatkan bahwa kekuatan militer dan dukungan Amerika Serikat yang berkelanjutan mungkin tidak mampu membendung bencana yang menanti rezim tersebut.


