Washington, Purna Warta – Sebuah usulan baru yang didukung Amerika Serikat dilaporkan bertujuan untuk membagi Jalur Gaza menjadi zona-zona yang dikendalikan secara terpisah oleh Israel dan Hamas, dengan pembangunan kembali hanya diizinkan di wilayah yang dikuasai Israel — langkah yang oleh para pengkritik dinilai dapat membuka jalan bagi kehadiran permanen Israel di wilayah Palestina tersebut.
Baca juga: Arab Saudi Bidik Peran di Gaza untuk Meminggirkan Hamas
Rencana ini, sebagaimana dilaporkan oleh The Wall Street Journal, disebut sebagai kerangka pascaperang paling signifikan yang dipertimbangkan sejak gencatan senjata rapuh antara Hamas dan rezim pendudukan Tel Aviv diberlakukan pada 10 Oktober.
“Tidak ada dana rekonstruksi yang akan dialirkan ke wilayah yang masih dikendalikan Hamas,”
kata Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump, yang terlibat langsung dalam negosiasi terkait Gaza, kepada wartawan di wilayah pendudukan Israel pada Selasa (21/10).
Kushner menambahkan,
“Saat ini sedang dipertimbangkan pembangunan di wilayah yang dikuasai militer Israel, selama wilayah itu bisa diamankan, untuk memulai pembangunan ‘Gaza baru’.”
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Gaza kini terdiri atas “dua zona — satu relatif aman dan satu lagi sangat berbahaya”, seraya menegaskan bahwa tujuan AS adalah memperluas zona aman tersebut secara geografis.
Menurut laporan tersebut, pejabat AS menyebut inisiatif ini bertujuan membentuk struktur sementara guna menstabilkan sebagian wilayah Gaza, sambil melanjutkan pembahasan soal pelucutan senjata dan pembentukan badan pemerintahan transisi yang nantinya dapat mengelola rekonstruksi komprehensif Gaza.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS menggambarkan rencana ini masih bersifat “awal”, dan pembaruan akan diumumkan “dalam beberapa hari mendatang.”
Namun, para mediator Arab menyatakan kekhawatiran atas usulan yang muncul dalam pertemuan terbaru tersebut, dan menolak gagasan pembagian Gaza, dengan peringatan bahwa hal itu bisa mengarah pada pembentukan zona permanen di bawah kendali Israel di wilayah itu.
Baca juga: Biaya Perang Gaza: 125.000 Pemukim Israel Melarikan Diri dari Negeri Antara 2022 dan 2024
Mereka juga menolak usulan pengiriman pasukan keamanan untuk menjaga stabilitas Gaza dalam kondisi seperti itu.
Peta gencatan senjata yang dirancang oleh Trump sudah mencakup garis kuning yang menandai zona kendali Israel, yang disebut akan berkurang secara bertahap seiring tercapainya sejumlah target.
Di jantung perdebatan ini, terdapat pertanyaan yang belum terjawab: bagaimana melucuti senjata Hamas dan membentuk otoritas alternatif yang mampu memulihkan pemerintahan sipil serta menarik investasi internasional.
Pejabat Gedung Putih menyebut Kushner — bekerja sama dengan utusan Steve Witkoff — sebagai penggerak utama di balik inisiatif ini, dengan dukungan langsung dari Trump.
Analis Israel menilai bahwa rencana ini dapat menjadi cara untuk melemahkan Hamas secara politik dan militer, dengan memperluas wilayah kendali Israel serta menciptakan zona penyangga antara Gaza dan kota-kota perbatasan wilayah pendudukan.
Namun, pengamat Palestina dan internasional memperingatkan bahwa rencana ini bisa meniru taktik yang diterapkan di Tepi Barat, yang berpotensi memecah Gaza dan menghapus kesatuan wilayahnya.
Sementara pembahasan mengenai rencana pascaperang Gaza masih berlangsung, wilayah tersebut tetap hancur lebur.
Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) memperkirakan 61 juta ton puing kini menutupi wilayah itu.
“Seluruh lingkungan telah terhapus dari peta; keluarga-keluarga mencari air dan tempat berlindung di antara reruntuhan,”
tulis UNRWA di platform X, seraya menegaskan bahwa bantuan masih diblokir, meskipun tim mereka terus menyalurkan bantuan yang menyelamatkan nyawa.
Pekan ini, Mahkamah Internasional (ICJ) memerintahkan Israel untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza, dan menolak klaim Israel bahwa banyak staf UNRWA terkait dengan Hamas — putusan yang kemudian dikesampingkan oleh Israel dengan dukungan AS.
Sementara itu, lebih dari 68.280 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 170.000 lainnya terluka akibat serangan Israel dalam dua tahun terakhir. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa ribuan pasien masih menunggu evakuasi untuk mendapatkan perawatan medis.


