Al-Quds, Purna Warta – Sebuah laporan mengungkapkan bahwa lebih dari 125.000 pemukim Israel pindah ke luar negeri antara awal 2022 hingga pertengahan 2024, menandai kehilangan sumber daya manusia terbesar yang pernah terjadi dalam periode waktu sesingkat itu.
Baca juga: Irak: RUU Aneksasi Tepi Barat oleh Israel ‘Pelanggaran Nyata’ terhadap Hukum Internasional
Menurut laporan yang disampaikan pada Senin kepada Komite Imigrasi dan Absorpsi Parlemen Israel (Knesset), saldo migrasi bersih Israel — yakni jumlah warga yang pergi tanpa niat kembali dikurangi dengan mereka yang kembali untuk tinggal jangka panjang — menurun sebanyak 125.200 pemukim Israel antara awal 2022 dan Agustus 2024.
Laporan tersebut mencatat bahwa peningkatan jumlah warga yang meninggalkan Israel secara permanen selama periode tersebut mungkin dipengaruhi oleh perang genosida Israel di Gaza.
Tren ini diperkirakan terus berlanjut hingga 2025, seiring dengan berlanjutnya perang di Gaza.
“Ini bukan sekadar gelombang emigrasi — ini tsunami warga Israel yang memilih untuk meninggalkan negara mereka,”
ujar Ketua Komite, Anggota Knesset Gilad Kariv.
Menurut pusat penelitian dan informasi Knesset yang menyusun laporan itu, sekitar 59.400 warga Israel meninggalkan negara tersebut pada 2022, sementara 82.800 orang — jumlah tertinggi sepanjang sejarah — pergi pada 2023.
Dalam delapan bulan pertama tahun 2024 saja, sekitar 50.000 orang dilaporkan telah meninggalkan Israel.
Baca juga: Laporan Pemberitaan: Militer Israel ‘Tidak Siap’ untuk Perang Baru Tanpa Tambahan Anggaran
Sebagai perbandingan, rata-rata jumlah emigran jangka panjang antara 2009 hingga 2021 hanya sekitar 40.500 orang per tahun.
Israel melancarkan perang genosida di Jalur Gaza pada Oktober 2023, yang menewaskan hampir 70.000 warga Palestina sebelum perang berakhir awal bulan ini melalui perjanjian gencatan senjata rapuh.


