Tehran, Purna Warta – Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Dr. Khalil al-Hayya sebagai Kepala Biro Politik Hamas yang baru. Ia juga melontarkan kritik keras terhadap rezim Zionis dengan menyatakan bahwa perlawanan Islam saat ini lebih kuat daripada sebelumnya.
Baca juga: Reaksi Pertama Israel terhadap Kesepakatan Nuklir Amerika Serikat–Arab Saudi
Brigadir Jenderal Esmail Qa’ani pada Senin menyatakan bahwa, meskipun entitas pendudukan terus melakukan berbagai kejahatan dan pembunuhan terarah, mereka sama sekali gagal mematahkan perlawanan Islam Palestina.
Sebaliknya, menurutnya, perlawanan Palestina kini berdiri lebih kuat dari sebelumnya dan terus melangkah di jalur yang disebutnya sebagai jalan kehormatan menuju kemenangan.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,” demikian bunyi pesan tersebut. “Saya menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Dr. Khalil al-Hayya sebagai Presiden Biro Politik Hamas kepada para tokoh besar Hamas dan seluruh mujahidin dari gerakan Perlawanan Islam yang agung ini.”
“Dengan memilih sosok yang menjadi simbol perlawanan dan kesyahidan, mereka sekali lagi membuktikan tekad kuat untuk melanjutkan jalan perlawanan Islam,” ujarnya.
“Rezim Zionis dipaksa menerima kenyataan bahwa, meskipun telah melakukan berbagai kejahatan, mereka tidak hanya gagal menghentikan Perlawanan, tetapi Perlawanan Islam saat ini justru lebih kuat daripada sebelumnya dan akan terus menempuh jalannya yang terhormat dan bermartabat,” tambahnya.
Dr. Khalil al-Hayya merupakan pemimpin senior asal Gaza yang telah berpengalaman dalam berbagai konflik, dikenal sebagai seorang cendekiawan, serta selamat dari beberapa upaya pembunuhan yang dituduhkan dilakukan oleh Israel. Ia menggantikan Yahya Sinwar yang disebut gugur (syahid) oleh Hamas. Pemilihannya oleh Dewan Syura Hamas dipandang sebagai penegasan atas kesinambungan kepemimpinan, ketangguhan organisasi, serta komitmen terhadap perlawanan bersenjata yang disertai keteguhan politik.
Al-Hayya merupakan orang pertama yang terpilih menduduki jabatan tersebut sejak Yahya Sinwar tewas pada Oktober 2024 dalam pertempuran melawan tentara Israel di Gaza, menurut Hamas.
Sebelumnya, Sinwar diangkat sebagai Kepala Biro Politik Hamas pada Agustus 2024 menggantikan Ismail Haniyeh, yang tewas dalam serangan Israel terhadap kediamannya di Teheran, Iran.
Perkembangan ini terjadi di tengah berlanjutnya operasi militer Israel di Jalur Gaza serta berbagai upaya untuk melumpuhkan kepemimpinan Palestina. Menurut pernyataan tersebut, tindakan-tindakan tersebut justru memperkuat perlawanan dan meningkatkan persatuannya dalam poros perlawanan.
Republik Islam Iran selama ini secara konsisten menyatakan dukungan terhadap rakyat Palestina serta kelompok-kelompok yang menentang pendudukan Israel dan agresi yang didukung Amerika Serikat.
Warga Palestina menggambarkan perjanjian gencatan senjata di Gaza sebagai sebuah “ilusi” karena aksi militer Israel seperti penembakan, operasi darat, serta blokade terhadap perlintasan masih terus berlangsung. Mereka menyatakan bahwa hanya sedikit bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk, sehingga memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah pesisir tersebut.
Baca juga: Operasi Anti-Israel di Nablus: Seorang Pemukim Israel Terluka Parah
Menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza, pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata oleh Israel telah menewaskan sedikitnya 1.127 warga Palestina dan melukai lebih dari 3.643 orang.
Perjanjian tersebut dicapai setelah perang yang berlangsung selama dua tahun, yang dimulai menyusul serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 dan operasi militer balasan Israel di Gaza.
Konflik tersebut terus berlanjut dalam berbagai bentuk. Menurut sumber yang dikutip dalam naskah ini, lebih dari 73.000 orang telah tewas, lebih dari 173.000 lainnya terluka, serta sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza mengalami kerusakan.


