Al-Quds, Purna Warta – Bertepatan dengan peringatan Operasi Badai Al-Aqsa (7 Oktober), sebuah pertemuan bertajuk “Memboikot Kebenaran” digelar di Teheran dengan dihadiri para jurnalis dan aktivis media. Pertemuan tersebut mengangkat kisah para jurnalis perempuan Palestina yang harus membayar mahal perjuangan mereka dalam menyampaikan kebenaran, mulai dari gugur sebagai syahid, terluka, hingga ditahan.
Baca juga: Penembakan Artileri di Gaza dan Serangan ke Sejumlah Kota serta Kamp Pengungsi di Tepi Barat
Ma’sumeh Abd al-Rahim, jurnalis jaringan berita Al-Alam, dalam laporannya pada peringatan 7 Oktober menyampaikan bahwa kisah para jurnalis Palestina kembali menjadi sorotan. Mereka telah membayar harga yang sangat mahal demi meningkatkan kesadaran publik dan menyampaikan kebenaran.
Menurut laporan tersebut, berdasarkan data Klub Tahanan Palestina, sekitar 40 jurnalis dari Gaza saat ini berada di penjara-penjara rezim pendudukan Zionis. Lima orang di antaranya adalah perempuan.
Selain itu, jumlah jurnalis yang ditangkap atau ditahan sejak 7 Oktober telah melampaui 250 orang, sementara lebih dari 260 jurnalis Palestina telah gugur sebagai syahid.
Menurut laporan jurnalis Al-Alam, salah satu jurnalis perempuan Palestina yang ditahan adalah Farah Abu Ayyash. Ia ditangkap dari rumahnya di Beit Ummar, Hebron, Tepi Barat Palestina, pada Agustus 2025 (Mordad 1404) dan hingga kini masih berada dalam tahanan.
Kisah Farah merupakan bagian dari realitas kehidupan para jurnalis perempuan Palestina yang menghadapi penangkapan dan menjadi sasaran langsung rezim Zionis. Meski demikian, mereka terus berupaya menyampaikan kebenaran mengenai berbagai peristiwa di tengah segala kesulitan yang dihadapi.
Menurut laporan jurnalis Al-Alam, kisah-kisah tersebut kembali diangkat dalam pertemuan “Memboikot Kebenaran” yang diselenggarakan di Teheran bertepatan dengan peringatan 7 Oktober. Pertemuan itu membahas kondisi para jurnalis perempuan Palestina serta upaya rezim Zionis untuk membungkam suara mereka.
Shokooh Navabinejad, Ketua Jaringan Organisasi Nonpemerintah Perempuan di Iran, dalam wawancara dengan jurnalis Al-Alam di sela-sela pertemuan tersebut menegaskan, “Ketika para jurnalis ditangkap, persoalannya bukan sekadar penahanan seseorang. Yang dipertaruhkan adalah pembungkaman suara kebenaran dan upaya mencegah masyarakat dunia mengetahui apa yang sedang terjadi di Gaza akibat mesin pembantaian massal rezim Zionis.”
Namun, penangkapan jurnalis perempuan Palestina bukan satu-satunya bentuk penargetan dan upaya menutupi kebenaran. Di Gaza, para jurnalis perempuan juga menghadapi serangan militer, pembunuhan, dan luka-luka, yang menurut laporan tersebut bertentangan dengan hukum internasional.
Sheyda Eslami, Direktur Hubungan Internasional Press TV, mengatakan kepada jurnalis Al-Alam, “Pentingnya apa yang telah dilakukan para jurnalis perempuan di Palestina selama tiga tahun terakhir tidak dapat disangkal. Buktinya, banyak dari mereka menjadi sasaran, terbunuh, terluka, dan ditangkap oleh tentara pendudukan Zionis hanya karena meliput peristiwa dan menyampaikan suara orang-orang yang tertindas kepada dunia.”
Sementara itu, Marzieh Hashemi, jurnalis dan aktivis media kelahiran Amerika Serikat, menambahkan bahwa pertemuan di Teheran tersebut berfokus pada pentingnya melanjutkan penyampaian kebenaran mengenai apa yang sedang terjadi di Gaza, serta perlunya meminta pertanggungjawaban para pemimpin rezim Zionis atas upaya mereka membungkam media bebas dan menghalangi penyampaian fakta mengenai berbagai peristiwa.
Oleh karena itu, pertemuan tersebut menegaskan bahwa apa yang terjadi di Palestina tidak boleh dilupakan. Suara penderitaan rakyat Gaza yang tidak berdaya harus terus digaungkan, dan media tidak boleh bungkam. Sebab, penangkapan mungkin dapat membungkam suara kebenaran, tetapi tidak akan menghapus kenyataan kejahatan yang dilakukan oleh rezim Zionis.


