Purna Warta – Perang di Gaza sekarang merupakan perang terpanjang yang pernah dilancarkan oleh rezim Zionis Israel sejak awal pendudukan wilayah Palestina 77 tahun lalu. Bahkan para pejabat Israel sendiri mengakui bahwa tidak ada akhir yang jelas bagi perang ini dan mereka kini terperangkap dalam sebuah perang abadi.
Di tengah berlanjutnya kejahatan brutal Zionis terhadap warga sipil di Gaza yang telah menciptakan bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, para penjajah sendiri juga telah mengalami kerugian besar, yang menunjukkan kedalaman kegagalan strategis dan politik mereka.
Selama perang ini, rakyat Palestina — terutama warga Gaza — memang menanggung beban yang sangat berat. Namun di sisi lain, kerugian yang dialami Israel secara domestik dan global juga sama-sama menghancurkan dan sulit dipulihkan. Militer Israel, yang selama ini didukung penuh oleh Amerika dan Barat serta mengklaim sebagai salah satu kekuatan militer terkuat di dunia dan terunggul di kawasan, ternyata tidak mampu meraih kemenangan militer yang menentukan bahkan di wilayah kecil seperti Gaza.
Ratusan tank dan kendaraan militer Israel, termasuk tank Merkava yang canggih, hancur atau rusak dalam operasi penyergapan oleh pejuang Palestina, yang hanya menggunakan peralatan dan sumber daya terbatas. Korban jiwa di kalangan tentara Israel pun sangat tinggi, menimbulkan rasa malu besar di tubuh komando militer mereka dan memicu keraguan luas terhadap strategi militer dan keamanan rezim tersebut.
Sektor ekonomi Israel juga menjadi salah satu yang pertama terdampak keras oleh perang ini. Ribuan bisnis Israel tutup, sektor pariwisata runtuh, pasar saham mengalami gejolak besar, dan lembaga pemeringkat Moody’s untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade menurunkan peringkat kredit Israel secara drastis. Lembaga tersebut juga memperingatkan tentang rapuhnya situasi keuangan Israel akibat pengeluaran militer berkepanjangan dan tekanan politik dalam negeri.
Di sisi sosial dan psikologis, warga Israel kini hidup dalam ketakutan yang terus-menerus, dengan jutaan pemukim dalam kondisi siaga dan siap lari ke tempat perlindungan kapan saja terdengar sirene peringatan.
Secara internasional, reputasi Israel juga mengalami kerusakan paling parah sepanjang sejarahnya, meskipun sebelumnya dibela mati-matian oleh Amerika dan negara-negara Barat. Media dan tokoh-tokoh Israel sendiri mengakui bahwa saat ini Israel adalah negara yang paling dibenci di dunia. Akibat terungkapnya kebenaran tentang kejahatan brutal Israel terhadap warga sipil Palestina, bahkan pemerintahan Barat pun mulai mengambil sikap yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Israel karena tekanan opini publik dunia.
Seiring dengan semakin banyaknya seruan dari lembaga internasional untuk menghentikan pengiriman senjata ke Israel, kampanye boikot terhadap Israel dalam bidang budaya dan akademik di Barat juga meningkat tajam. Tekanan ini memuncak ketika Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, karena kejahatan terhadap kemanusiaan.
Hampir dua tahun telah berlalu sejak dimulainya serangan besar-besaran Israel ke Gaza dengan dukungan penuh Amerika, namun hingga kini Israel gagal mencapai satupun tujuan yang mereka umumkan. Perlawanan Palestina masih terus aktif dan melanjutkan operasi mematikan terhadap militer Israel di berbagai front. Selain itu, puluhan tawanan Israel masih berada di Gaza, dan satu-satunya jalan untuk membebaskan mereka adalah melalui gencatan senjata dan pertukaran tahanan.
Pada kenyataannya, Israel memulai perang ini dengan slogan “menghancurkan Hamas” dan “mengembalikan efek jera Israel”. Namun kini, setelah lebih dari 600 hari, mereka justru berada dalam situasi di mana ekonomi mereka hancur, militer mereka kelelahan, front domestik mereka runtuh, dan reputasi internasional mereka terpuruk.
Brigadir Elias Hanna, seorang analis militer kawasan, menyatakan bahwa selama perang ini, penjajah telah membunuh sekitar 55.000 warga sipil Palestina — mayoritas dari mereka perempuan dan anak-anak — dan menghancurkan seluruh wilayah Gaza, tetapi tetap gagal dalam mencapai tujuan mereka: mengakhiri perlawanan, membebaskan tawanan Israel, dan mendemiliterisasi Gaza.
Ia menambahkan bahwa Israel juga gagal mengubah “keberhasilan” militer menjadi kemenangan politik. Mereka tak mampu mengembalikan efek jera mereka yang hilang sejak Operasi Badai al-Aqsa. Dunia menyaksikan bagaimana Israel, karena kegagalannya, membalas dendam pada warga sipil dengan membantai perempuan dan anak-anak.
Hanna menekankan bahwa Israel terjerumus dalam medan perang yang telah dirancang dan dikuasai oleh kelompok perlawanan. Rezim tersebut telah beberapa kali mengganti taktik militer, namun hasilnya tetap nihil.
Sementara itu, Sari Arabi, pakar urusan Israel, mengatakan bahwa kegagalan dalam memanfaatkan pencapaian militer untuk keuntungan politik menjadi penyebab utama dari krisis politik dalam negeri Israel. Ketika semua kalangan Zionis awalnya bersatu dalam dukungan terhadap perang, kini banyak warga Israel yang menuntut agar perang segera dihentikan demi mencegah kerugian lebih lanjut.
Arabi menekankan bahwa rezim Israel tidak mampu mengatasi dampak perpecahan internal ini, karena perpecahan tersebut menyangkut masa depan negara itu sendiri. Warga Israel kini melihat bahwa pemerintahan ekstrem kanan yang dipimpin Netanyahu lebih mementingkan kepentingan pribadinya dibanding kepentingan nasional, dan hal ini membawa Israel ke tepi jurang kehancuran dan mempercepat proses keruntuhannya.
Dr. Laqā’ Makki, peneliti di Al Jazeera Center for Studies, menyatakan bahwa bahaya paling besar dari perpecahan ini adalah dampaknya terhadap eksistensi Israel itu sendiri, sebuah entitas tanpa akar sejarah yang kini menghadapi perang paling besar dan paling menghancurkan sepanjang sejarahnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun Gaza telah membayar harga sangat mahal dalam perang ini, namun pihak Israel juga mengalami kerugian mematikan di semua lini. Bahkan Amerika dan Barat kini memandang Israel sebagai beban politik dan sosial yang besar. Proses normalisasi antara negara-negara Arab dengan Israel pun telah rusak parah akibat Operasi Badai al-Aqsa dan tidak bisa berjalan sesuai rencana Tel Aviv.
Makki menegaskan bahwa perlawanan Palestina, meski mengalami banyak pengorbanan yang memang sudah diperkirakan, tetap berhasil meraih kemenangan politik penting, termasuk memaksa Amerika untuk bernegosiasi langsung dengan Hamas.
Ia menutup dengan mengatakan bahwa semua pihak dalam perang ini telah membayar harga masing-masing, namun kerugian moral yang dialami Israel tidak akan bisa dipulihkan, bahkan jika kerugian ekonomi dan militernya suatu hari bisa dikompensasi. Seluruh dunia kini menyadari watak sejati Israel yang brutal, dan sejumlah negara Eropa pun mulai menyuarakan pengakuan atas negara Palestina. Jika perlawanan Palestina dapat keluar dari perang ini tanpa dilucuti, maka secara de facto mereka telah berhasil memaksakan narasi mereka atas musuh dan membuktikan bahwa rakyat Gaza tidak bisa dimusnahkan.


