Tehran, Purna Warta – Komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Esmail Qa’ani, mengatakan bahwa perlawanan Palestina akan membuka jalan bagi pembebasan al-Quds, dengan menarik paralel terhadap kemenangan gerakan perlawanan di Iran dan Lebanon.
Brigadir Jenderal Esmail Qa’ani merujuk pada pembebasan Khorramshahr pada 24 Mei 1982 dalam perang Iran-Irak, yang menurutnya menjadi landasan bagi “epopea gemilang” pada 25 Mei 2000 ketika Hizbullah berhasil mengusir rezim Israel dari Lebanon selatan.
“Selama penarikan itu, tentara Israel melarikan diri sementara radio-radio mereka masih menyala, dan seluruh perlengkapan mereka ditinggalkan di parit-parit,” kata Qa’ani.
Ia menyimpulkan bahwa perlawanan “Palestina tercinta hari ini dan Lebanon yang heroik” juga pada akhirnya akan membawa kepada pembebasan al-Quds.
Tanggal 24 Mei menandai peringatan pembebasan Khorramshahr pada tahun 1982. Kemenangan besar tersebut terjadi dalam Operasi Beit al-Moqaddas setelah 578 hari pendudukan oleh tentara Ba’ath Irak.
Di Lebanon, rezim Israel menarik pasukannya dari wilayah tersebut pada 25 Mei 2000 setelah 22 tahun pendudukan, menyusul kekalahan memalukan di tangan gerakan perlawanan Hizbullah.
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok-kelompok perlawanan Palestina di Gaza dan Tepi Barat semakin memperkuat koordinasi militer dan politik mereka di tengah meningkatnya operasi militer Israel. Sejumlah analis regional menilai bahwa strategi perang asimetris yang digunakan oleh kelompok perlawanan Palestina memiliki kemiripan dengan model perlawanan yang sebelumnya diterapkan Hizbullah di Lebanon selatan.
Perang Gaza yang dimulai pada Oktober 2023 juga memicu meningkatnya dukungan dari kelompok-kelompok poros perlawanan di kawasan, termasuk Hizbullah Lebanon, Ansarullah Yaman, dan faksi-faksi bersenjata di Irak. Mereka menyatakan bahwa perjuangan Palestina merupakan bagian dari front regional melawan pendudukan Israel.
Sementara itu, al-Quds atau Yerusalem tetap menjadi isu utama dalam konflik Palestina-Israel. Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka, sedangkan Israel mengklaim seluruh kota itu sebagai ibu kotanya. Status kota tersebut hingga kini masih menjadi salah satu isu paling sensitif dalam politik Timur Tengah.
Dalam pidato-pidato para pejabat Iran dan kelompok perlawanan regional, pembebasan al-Quds sering dijadikan simbol perjuangan jangka panjang melawan pendudukan dan dominasi Israel di kawasan.


