Gaza, Purna Warta – Israel terus meningkatkan pengerahan pasukan menjelang ofensif besar-besaran untuk merebut Kota Gaza, meskipun tekanan internasional semakin kuat agar menghentikan kampanye genosida terhadap wilayah Palestina tersebut. Media Israel melaporkan pada Selasa bahwa militer telah mulai memobilisasi sekitar 60.000 pasukan cadangan untuk operasi tersebut.
Baca juga: Hamas: PBB Bertindak setelah Serangan Udara Israel Tewaskan 21 Warga Palestina
Militer Israel menyatakan bahwa 60.000 pasukan cadangan itu akan dilengkapi dengan senjata, perlengkapan pribadi, dan peralatan taktis penuh. Unit-unit tersebut juga menjalani latihan tempur di medan perkotaan maupun terbuka guna “meningkatkan kesiapan” menjelang serangan mendatang.
Langkah ini menyusul deklarasi militer Israel pada Jumat lalu bahwa Kota Gaza adalah “zona tempur berbahaya,” yang menandakan persiapan untuk sepenuhnya menduduki kota terbesar di wilayah Palestina yang terkepung itu setelah hampir dua tahun perang.
Peningkatan kekuatan ini terjadi di tengah laporan investigasi internal militer Israel yang mengungkap lonjakan angka bunuh diri di kalangan tentaranya, sebagian besar terkait trauma psikologis berat dan paparan kondisi ekstrem selama kampanye genosida yang berlangsung di Gaza.
Temuan itu menunjukkan bahwa sebagian besar kasus bunuh diri berasal dari paparan pertempuran berkepanjangan, pengalaman traumatis di medan perang, dan beban psikologis akibat kehilangan rekan seperjuangan.
Kini, militer Israel bersiap melancarkan serangan ke Kota Gaza — pusat perkotaan terbesar di wilayah tersebut — meskipun ada seruan internasional agar menahan diri, di tengah kekhawatiran bahwa serangan itu dapat menimbulkan korban massal dan memaksa sekitar satu juta warga Palestina yang tengah berlindung di kota itu untuk mengungsi.
Juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, mengatakan pada Selasa bahwa jet tempur Israel mengebom sebuah bangunan tempat tinggal di barat daya Kota Gaza, menewaskan 10 orang.
Helikopter Israel juga menyerang sebuah apartemen di bagian barat kota, menewaskan tiga orang dan melukai sejumlah lainnya, tambah Bassal.
Kota Gaza tetap menjadi salah satu tempat perlindungan terakhir di bagian utara Jalur Gaza, di mana ratusan ribu warga sipil bertahan hidup di tengah ancaman pertempuran dan kelaparan.
Kelaparan secara resmi diumumkan bulan lalu oleh Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang didukung PBB.
Sejak 2 Maret, otoritas Israel menutup seluruh perlintasan perbatasan Gaza, membuat 2,4 juta penduduk wilayah terkepung itu semakin terjerumus dalam krisis pangan.
Sejak badan otoritatif dunia untuk krisis pangan menyatakan bulan lalu bahwa Kota Gaza mengalami kelaparan, jumlah kematian akibat malnutrisi terus meningkat.
Kementerian Kesehatan Gaza pada Selasa melaporkan bahwa total 185 orang meninggal akibat kekurangan gizi pada bulan Agustus — angka bulanan tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Jumlah korban tewas akibat kelaparan di Gaza telah meningkat menjadi 361 sejak 7 Oktober 2023, ketika Israel melancarkan serangan brutal yang masih berlangsung di wilayah pesisir tersebut.
Korban jiwa akibat perang genosida Israel di Gaza kini telah mencapai 63.633 orang, dengan lebih dari 160.900 lainnya terluka.
Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan menteri perangnya, Yoav Gallant, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait perang genosida di wilayah Palestina yang terkepung tersebut.


