Al-Quds, Purna Warta – Sebuah surat kabar Zionis mengakui bahwa penerimaan gencatan senjata oleh Tel Aviv terjadi karena ketidakmampuan rezim tersebut untuk menghadapi Hizbullah.
Menurut laporan surat kabar Zionis Israel Hayom mengakui bahwa pandangan kini semakin menguat bahwa, mengingat menurunnya kapasitas tentara rezim Zionis untuk mengelola perang gesekan (war of attrition), upaya melenyapkan Hizbullah melalui kekuatan militer dalam kondisi saat ini adalah sesuatu yang tidak realistis.
Dalam laporan tersebut, mengutip seorang pejabat Zionis, disebutkan bahwa secara praktis tidak ada sarana militer yang mampu menghentikan sepenuhnya serangan roket Hizbullah, dan Tel Aviv hanya dapat melemahkannya.
Berdasarkan laporan itu, kalangan militer rezim Zionis menghadapi tantangan yang semakin besar terkait keletihan operasional, disertai ketergantungan besar pada pasukan cadangan di berbagai front.
Sebuah operasi menyeluruh melawan Hizbullah membutuhkan peningkatan besar-besaran jumlah pasukan, yang dalam kondisi saat ini dianggap mustahil.
Menurut pengakuan para pejabat rezim Zionis, realitas ini menjadikan gencatan senjata bukan hanya sebuah kebutuhan politik, tetapi juga kebutuhan operasional dengan tujuan mengurangi tekanan terhadap tentara pendudukan dan memprioritaskan kembali sasaran-sasarannya setelah berbulan-bulan perang berkelanjutan di banyak front.
Rezim Zionis secara efektif telah beralih dari strategi kemenangan militer menuju perang gesekan jangka panjang, dan tujuan untuk melenyapkan Hizbullah telah dikesampingkan.
Israel Hayom menambahkan bahwa para pejabat militer mengakui Hizbullah belum dikalahkan secara militer.
Perang ini, akibat tersebarnya gambar dan laporan kehancuran di Lebanon selatan, telah membawa biaya politik dan diplomatik yang semakin besar bagi rezim Zionis, khususnya di Eropa dan Amerika Serikat.
Media Israel lainnya seperti Haaretz, Yedioth Ahronoth, dan Maariv dalam beberapa pekan terakhir juga menyoroti meningkatnya tekanan terhadap militer Israel di front utara.
Laporan-laporan tersebut menyebut bahwa serangan roket, drone, dan rudal anti-tank Hizbullah terus memaksa evakuasi puluhan ribu pemukim dari wilayah utara Palestina yang diduduki.
Beberapa analis militer Israel memperingatkan bahwa Hizbullah masih memiliki kapasitas tembak harian yang tinggi, meskipun mengalami kerusakan infrastruktur di Lebanon selatan.
Mereka menilai sistem pertahanan udara seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow tidak mampu memberikan perlindungan penuh terhadap serangan berlapis yang dilancarkan Hizbullah.
Laporan dari media Barat juga menunjukkan bahwa Amerika Serikat telah menekan Tel Aviv agar menghindari perang skala penuh dengan Hizbullah, karena konflik besar di Lebanon dapat menyeret kawasan ke perang regional yang lebih luas dan semakin menguras cadangan senjata Amerika.
Di sisi lain, Hizbullah menegaskan bahwa serangan mereka akan terus berlanjut selama agresi Israel di Gaza tidak dihentikan.
Pemimpin Hizbullah sebelumnya menyatakan bahwa front Lebanon dibuka sebagai front dukungan untuk Gaza dan untuk menguras kemampuan militer Israel.
Sejumlah pengamat menilai bahwa strategi Hizbullah dalam perang gesekan berhasil mengikat sebagian besar pasukan Israel di utara, menghambat operasi di Gaza, dan menambah tekanan politik terhadap pemerintahan Benjamin Netanyahu.
Dengan pengakuan dari media Zionis seperti Israel Hayom, semakin terlihat bahwa tujuan awal Israel untuk menghancurkan Hizbullah secara militer semakin sulit dicapai, dan gencatan senjata dipandang sebagai jalan keluar sementara untuk mengurangi kerugian militer, politik, dan ekonomi.


