Israel Dilaporkan Menggelontorkan 50 Juta Dolar AS untuk Kampanye Propaganda di Amerika Serikat

Israel xx

Al-Quds, Purna Warta – Israel dilaporkan telah mengeluarkan puluhan juta dolar AS di Amerika Serikat untuk menjalankan kampanye propaganda yang bertujuan memperbaiki citranya yang mengalami penurunan di mata publik Amerika.

Baca juga: Moshe Ya’alon: Kami Terjebak; Tujuan Perang Melawan Iran Tidak Tercapai

Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ) pada Minggu, Israel mendanai kampanye pengaruh senilai 50 juta dolar AS di Amerika Serikat dengan memanfaatkan teks berbasis kecerdasan buatan (AI) serta media konservatif untuk meningkatkan citra publiknya.

Kampanye berskala nasional tersebut diluncurkan dengan tujuan memperbaiki reputasi Israel di kalangan masyarakat Amerika, terutama karena dukungan terhadap Israel disebut mengalami penurunan, khususnya di kalangan generasi muda.

Laporan WSJ menyebutkan bahwa jutaan warga Amerika menerima pesan yang dibuat menggunakan AI dari nama-nama seperti “Emma,” “Sarah,” dan “John”, serta dari kelompok-kelompok dengan nama seperti “Friends for Peace” dan “Partners in Peace.”

Pesan-pesan tersebut berisi pertanyaan dan narasi yang menggambarkan Israel sebagai sekutu strategis Amerika Serikat, sekaligus mengarahkan penerima pesan menuju konten yang mendukung pemerintah Israel.

WSJ melaporkan bahwa kampanye pengaruh yang didanai Israel tersebut dipimpin oleh Clock Tower X, perusahaan yang dipimpin oleh Brad Parscale, mantan direktur digital kampanye presiden Donald Trump tahun 2016 dan mantan manajer kampanye Trump tahun 2020.

Menurut laporan tersebut, Parscale menerima pembayaran sekitar 1,5 juta dolar AS per bulan dari perusahaan periklanan global Havas atas nama Israel untuk menjalankan kampanye influencer yang mendukung Israel.

Baca juga: Laporan Militer Israel: Hamas Mempertahankan Sebagian Besar Kekuatan Militernya Meskipun Menghadapi Perang Berkepanjangan

WSJ menyatakan bahwa salah satu tujuan kampanye tersebut adalah mencegah kaum konservatif muda Amerika menjadi kritis terhadap Israel serta mendorong kritik terhadap keputusan gencatan senjata antara Trump dan Iran.

Laporan tersebut juga membahas aktivis konservatif muda Charlie Kirk, yang disebut pernah berencana meninggalkan jaringan lobi pro-Israel. Kirk, yang sebelumnya dikenal sebagai pendukung kuat Trump dan Israel, dilaporkan pernah menyampaikan kekecewaannya terhadap pengaruh besar kelompok lobi pro-Israel dalam politik Amerika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *