Israel Bunuh Komandan Hamas, Namun Media Ibrani Akui Strategi Pembunuhan Terarah Gagal

Hamas kill

Al-Quds, Purna Warta – Israel telah membunuh komandan senior Hamas, Izz al-Din al-Beik, di Gaza utara. Namun, media Israel mengakui bahwa kampanye pembunuhan terarah yang dilakukan rezim tersebut gagal mencegah kelompok perlawanan Palestina itu membangun kembali struktur militer dan organisasinya.

Baca juga: Mengapa 7 Oktober Tidak Dapat Dipisahkan dari Puluhan Tahun Pendudukan, Penindasan, dan Perampasan Hak Rakyat Palestina

Al-Beik dibunuh pada Selasa dini hari dalam serangan Israel yang menyasar sebuah gedung apartemen di kawasan Nasser, Kota Gaza, menurut para petugas medis dan sumber-sumber Hamas.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Urusan Militer Israel, Israel Katz, menyatakan dalam unggahan bersama di platform X bahwa pasukan Israel telah membunuh al-Beik.

Al-Beik mengambil alih komando Brigade al-Qassam di Gaza utara selama perang Israel di wilayah tersebut, menggantikan komandan senior Ahmed al-Ghandour.

Sebuah analisis berbahasa Ibrani yang diterbitkan Israel Hayom menyebutkan bahwa Hamas mampu menunjuk pengganti bagi para komandannya yang tewas. Para wakil komandan dan tokoh berpengalaman lainnya telah dipersiapkan untuk mengambil alih kepemimpinan ketika para komandan terbunuh.

Laporan tersebut menyebut Mohammed Yazouri, yang pernah bertugas sebagai komandan Hamas di Khan Younis, sebelumnya menduduki sejumlah posisi senior, termasuk wakil komandan brigade, komandan batalion, dan kepala sebuah unit intelijen. Naael Abu Obeid, yang diidentifikasi sebagai komandan Hamas di Rafah, juga pernah menjabat sebagai wakil komandan brigade dan komandan batalion.

Pola tersebut menunjukkan bahwa pembunuhan terarah yang dilakukan Israel tidak cukup untuk membongkar struktur komando Hamas, karena organisasi tersebut tetap memiliki sejumlah komandan berpengalaman yang mampu mengambil alih posisi-posisi senior.

Agresi militer Israel telah menewaskan banyak anggota generasi lama kepemimpinan Hamas, termasuk Mohammed Deif, Ahmed al-Ghandour, Izz al-Din al-Haddad, Mohammed Sinwar, dan Marwan Issa. Namun, laporan tersebut mengakui bahwa Hamas kini memiliki generasi komandan baru yang telah memperoleh pengalaman tempur luas selama bertahun-tahun konflik.

Perkembangan tersebut kembali memunculkan pertanyaan di Israel mengenai apakah kebijakan pembunuhan terarah mampu mencegah Hamas membangun kembali kemampuan militer dan organisasionalnya.

Laporan itu juga mengakui bahwa Hamas masih mempertahankan sejumlah unsur kemampuan operasional dan organisasionalnya meskipun agresi militer Israel berlangsung dalam skala besar.

Pada saat yang sama, laporan tersebut menyoroti meningkatnya seruan regional agar Hamas menyerahkan senjatanya. Amerika Serikat, Mesir, dan sejumlah negara Teluk Persia telah menuntut agar kelompok tersebut menyerahkan senjatanya kepada otoritas lain.

Baca juga: Iran Peringatkan Negara-Negara Regional tentang Niat Jahat Israel setelah Muncul Laporan Kunjungan Netanyahu ke UEA

Namun, Hamas dilaporkan hanya menyetujui penyerahan senjata berat, sementara tetap bersikeras mempertahankan senjata ringan. Hal itu akan memungkinkannya mempertahankan keberadaan dan pengaruhnya di lapangan serta melindungi diri dari kemungkinan serangan kelompok-kelompok bersenjata rival di Gaza.

Karena itu, keberlanjutan pembangunan kembali struktur Hamas kembali memunculkan pertanyaan di Israel mengenai hasil kampanye militer tersebut dan apakah pembunuhan terarah dapat mencegah kelompok Palestina itu membangun kembali kepemimpinan dan kemampuannya.

Perkembangan tersebut juga kembali mendorong seruan di Israel agar dibentuk sebuah komisi investigasi untuk menyelidiki kegagalan yang berkaitan dengan serangan 7 Oktober serta jalannya dan hasil perang setelahnya.

Pemukim Israel Membakar Properti Palestina

Sementara itu, para pemukim Israel memblokir jalan, membakar bangunan dan kendaraan, serta melempari pasukan Israel dengan batu di desa Jalud, Tepi Barat yang diduduki, pada malam hari, menurut otoritas Israel.

Militer Israel mengatakan tiga polisi terluka dan dua tersangka ditahan untuk menjalani pemeriksaan.

Para petugas “akan memasuki wilayah tersebut untuk mengumpulkan temuan dan bukti sebagai bagian dari penyelidikan yang telah dimulai,” kata militer Israel.

Sejak Oktober 2023, Tepi Barat yang diduduki mengalami peningkatan serangan oleh tentara Israel dan para pemukim. Serangan-serangan tersebut telah mengakibatkan tewas dan ditangkapnya ribuan warga Palestina.

Dalam pidatonya pada Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York pada Selasa lalu, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan bahwa kekerasan Israel, pemindahan paksa penduduk, dan perluasan permukiman di Tepi Barat yang diduduki telah merusak prospek perdamaian serta meningkatkan “bayang-bayang pembersihan etnis”.

Menurut data resmi Palestina, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 1.206 warga Palestina, termasuk 254 anak-anak, dan melukai sekitar 13.350 lainnya sejak Israel melancarkan perangnya di Gaza pada Oktober 2023.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *