Iran Kecam Kekerasan Polisi Belanda terhadap Istri Hamil Warga Palestina, Tuntut Pertanggungjawaban

Palestinian

Tehran, Purna Warta – Iran mengecam keras tindakan kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian Belanda terhadap istri seorang pria Palestina yang sedang hamil. Teheran mendesak otoritas Belanda untuk menyelidiki insiden tersebut secara menyeluruh dan meminta agar pihak-pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin menanggapi beredarnya sebuah video yang dipublikasikan oleh Al Jazeera. Video tersebut memperlihatkan seorang petugas polisi Belanda mendorong dengan kasar seorang perempuan hamil hingga terjatuh ke tanah dan kemudian menyeretnya saat proses penangkapan suaminya yang berkewarganegaraan Palestina.

“Ini adalah tindakan yang sangat brutal dan tidak dapat diterima. Tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan tindakan polisi Belanda yang menyerang secara kasar seorang perempuan hamil hanya karena ia ingin tetap mendampingi suaminya yang ditahan dan merupakan warga Palestina,” tulis Baghaei.

Juru bicara tersebut juga mendesak pemerintah Belanda untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang nyata tersebut dan memastikan para pelakunya dimintai pertanggungjawaban.

“Otoritas Belanda harus menjamin akuntabilitas penuh atas pelanggaran hak asasi manusia yang terang-terangan ini. Insiden seperti ini menunjukkan adanya bias dan diskriminasi sistemik dalam aparat penegakan hukum mereka,” tambahnya.

Insiden tersebut terjadi pada 19 Mei di kota Zeist, Belanda, namun baru mendapat perhatian luas pada akhir pekan setelah video kejadian itu beredar di media sosial. Rekaman tersebut menunjukkan seorang petugas polisi menarik lengan seorang perempuan yang sedang hamil besar dengan paksa hingga menyebabkan dirinya terjatuh ke tanah.

Menurut laporan Al Jazeera, suami perempuan tersebut ditahan setelah diduga merusak sebuah televisi ketika menerima kabar meninggalnya salah satu anggota keluarganya di Gaza. Sang istri menyatakan bahwa suaminya telah bekerja sama secara kooperatif dan hormat dengan polisi. Namun, ketika ia meminta izin untuk mendampingi suaminya, dirinya justru dibatasi geraknya secara paksa dan dijatuhkan ke tanah oleh petugas.

Laporan Al Jazeera juga menyebutkan bahwa akibat trauma yang dialaminya, perempuan tersebut mengalami persalinan lebih awal dari perkiraan dan kemudian melahirkan seorang bayi perempuan sebelum waktunya.

Meskipun dilaporkan tidak ada cedera serius yang dialami ibu maupun bayinya, insiden tersebut memicu sorotan publik dan kembali menimbulkan pertanyaan mengenai tindakan aparat kepolisian yang terlibat.

Dalam pernyataannya, juru bicara Kepolisian Belanda mengatakan bahwa pihaknya akan “menelaah secara cermat seluruh fakta dan keadaan yang terjadi,” termasuk mengevaluasi penggunaan kekuatan oleh para petugas yang bertugas saat itu.

“Kami perlu meneliti apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana urutan kejadiannya,” demikian bunyi pernyataan kepolisian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *