Tehran, Purna Wart a- Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras meningkatnya serangan militer dan operasi yang disebutnya sebagai tindakan teror oleh Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Iran juga menuduh Amerika Serikat turut bertanggung jawab atas berlanjutnya genosida di Gaza karena memberikan dukungan penuh kepada Israel, serta mendesak masyarakat internasional mengambil langkah nyata untuk menghentikan pembunuhan dan meminta pertanggungjawaban para pemimpin Israel.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Rabu, Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk serangan Israel terhadap pusat kepolisian Jabalia yang dilaporkan menewaskan seorang komandan polisi beserta sejumlah anggotanya. Iran juga mengecam penangkapan, penyiksaan, penyitaan tanah, penghancuran infrastruktur, serta pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Pernyataan tersebut menyoroti apa yang disebut sebagai pelanggaran sistematis terhadap gencatan senjata di Gaza. Menurut Iran, sejak gencatan senjata diberlakukan sembilan bulan lalu, Israel telah melanggarnya lebih dari 3.600 kali, yang mengakibatkan lebih dari 1.100 warga Palestina tewas, termasuk banyak perempuan dan anak-anak.
Iran juga mengutuk berlanjutnya blokade terhadap Jalur Gaza yang, menurutnya, menghambat masuknya kebutuhan pokok bagi penduduk sipil.
Teheran menegaskan bahwa Amerika Serikat ikut bertanggung jawab atas tindakan Israel karena memberikan dukungan militer, politik, dan media secara penuh, serta dinilai menghambat berbagai mekanisme pertanggungjawaban di tingkat internasional.
Kementerian Luar Negeri Iran menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), negara-negara anggotanya, khususnya negara-negara Islam, agar menjalankan kewajiban hukum dan moral untuk menghentikan genosida, mengakhiri pendudukan, serta mengadili para pelaku yang bertanggung jawab atas kejahatan tersebut.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sejak gencatan senjata diberlakukan, serangan Israel telah menyebabkan 1.122 warga Palestina tewas dan 3.599 lainnya terluka.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan bahwa sejak dimulainya operasi militer Israel pada Oktober 2023, lebih dari 73.200 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 173.700 lainnya mengalami luka-luka.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan pasukan Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina di Gaza. Disebutkan bahwa lebih dari 21.000 anak tewas, termasuk lebih dari 11.000 pelajar dan sedikitnya 441 guru.
Di Tepi Barat, situasi keamanan juga dilaporkan terus memburuk. Sejak Oktober 2023, sedikitnya 1.087 warga Palestina dilaporkan tewas akibat tindakan pasukan Israel maupun pemukim Israel. Dalam satu pekan terakhir saja, delapan warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 225 orang ditangkap.
Laporan tersebut juga menyebut bahwa PBB telah mendokumentasikan dugaan kejahatan perang yang dilakukan Israel di Tepi Barat, termasuk dugaan penargetan terhadap anak-anak.
Pada Februari 2026, Israel dilaporkan menyetujui kebijakan yang mempermudah proses pendaftaran tanah dan akuisisi properti oleh warga Israel di Tepi Barat yang diduduki, yang menurut laporan tersebut mempercepat perluasan penguasaan wilayah.


