Hamas: Rakyat Palestina Tidak Gentar Menghadapi Kejahatan Brutal Pendudukan Israel

Hamas

Al-Quds, Purna Warta – Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, menyampaikan apresiasi terhadap operasi yang mereka sebut sebagai “aksi heroik” yang terjadi di dekat permukiman Gush Etzion, selatan Bethlehem. Hamas menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak akan takut terhadap kejahatan yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel maupun para pemukim.

Dalam sebuah pernyataan, Hamas menyatakan bahwa operasi tersebut menunjukkan bahwa rakyat Palestina tidak akan pernah gentar menghadapi tindakan yang mereka gambarkan sebagai kejahatan pendudukan dan kekerasan para pemukim. Hamas menegaskan bahwa rakyat Palestina tidak akan tinggal diam menghadapi serangan yang terus berlanjut terhadap tanah, tempat-tempat suci, dan hak-hak mereka.

Gerakan tersebut juga menyampaikan belasungkawa atas tewasnya pelaku operasi tersebut, Amjad Jawad Abdel Fattah Natsheh, warga berusia 31 tahun dari al-Khalil (Hebron). Hamas menyatakan bahwa mereka akan tetap berkomitmen untuk melanjutkan jalan yang disebutnya sebagai jalan perlawanan, keteguhan, dan pengorbanan hingga tercapainya kebebasan serta berakhirnya pendudukan.

Hamas menegaskan bahwa Israel tidak akan berhasil memaksakan proyek-proyek permukiman, kebijakan Yahudisasi, aneksasi wilayah Palestina, maupun upaya pemindahan paksa warga Palestina. Menurut pernyataan itu, kebijakan-kebijakan tersebut akan menghadapi kemarahan dan perlawanan yang terus meningkat dari rakyat Palestina yang, menurut Hamas, tidak akan melepaskan hak-hak dan tanah mereka.

Gerakan tersebut juga menyerukan kepada pemuda Palestina di Tepi Barat untuk meningkatkan perlawanan dan memperbanyak operasi yang dapat mengganggu perhitungan keamanan Israel serta mencegah berlanjutnya tindakan yang mereka sebut sebagai kejahatan terhadap rakyat dan tempat-tempat suci Palestina.

Gerakan Al-Ahrar: Operasi Bethlehem Merupakan Respons atas Tindakan Israel

Sementara itu, Palestinian Al-Ahrar Movement juga mengeluarkan pernyataan yang memuji operasi di persimpangan Gush Etzion, selatan Bethlehem. Gerakan tersebut menyebut aksi itu sebagai respons yang wajar terhadap tindakan Israel yang menurut mereka terus berlangsung terhadap rakyat Palestina.

Dalam pernyataannya, Al-Ahrar menyebut bahwa langkah-langkah keamanan dan militer Israel, termasuk operasi penangkapan serta tindakan represif terhadap warga Palestina, menunjukkan kegagalan Israel dalam mewujudkan keamanan yang diklaimnya maupun memaksa rakyat Palestina untuk menyerah.

Gerakan itu juga menyatakan bahwa Israel, yang terus melanjutkan operasi militernya di Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memperluas permukiman dan serangan para pemukim, merupakan pihak yang bertanggung jawab atas meningkatnya ketidakstabilan dan ketegangan di kawasan.

Al-Ahrar menambahkan bahwa rakyat Palestina, yang telah memberikan pengorbanan besar dalam mempertahankan tanah, tempat-tempat suci, dan hak-hak nasional mereka, akan tetap berpegang pada prinsip-prinsip tersebut dan menolak segala bentuk pengusiran, aneksasi, maupun dominasi, terlepas dari besarnya tantangan yang dihadapi.

Gerakan tersebut juga menyerukan persatuan nasional Palestina guna memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai rencana yang dianggap mengancam hak-hak mereka. Selain itu, Al-Ahrar menekankan pentingnya memanfaatkan semua cara yang memungkinkan untuk mempertahankan hak-hak nasional Palestina serta mencapai kemerdekaan dan kebebasan.

Menurut laporan, Amjad Jawad Abdel Fattah Natsheh, seorang warga Palestina berusia 31 tahun, tewas ditembak pasukan Israel pada Minggu malam setelah melakukan operasi anti-Israel di persimpangan Gush Etzion, dekat Bethlehem di Tepi Barat.

Media Israel melaporkan bahwa empat warga Israel mengalami luka-luka dalam insiden tersebut, dua di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis.

Insiden di kawasan permukiman Gush Etzion itu terjadi di tengah meningkatnya serangan yang dilakukan kelompok-kelompok bersenjata Palestina terhadap sasaran Israel di Tepi Barat dalam beberapa bulan terakhir, yang oleh para pelakunya disebut sebagai respons terhadap tindakan militer dan kebijakan Israel terhadap rakyat Palestina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *