Gaza, Purna Warta – Gerakan perlawanan Palestina Hamas merilis narasi kedua terkait Operasi Badai Al-Aqsa melawan Israel pada 7 Oktober 2023, dengan menegaskan bahwa perlawanan rakyat Palestina terhadap rezim genosida telah membuktikan bahwa mereka tidak dapat dimusnahkan.
Dalam narasi terbarunya yang berjudul “Narasi Kami… Badai Al-Aqsa: Dua Tahun Keteguhan dan Kehendak untuk Pembebasan”, Hamas menyatakan bahwa selama dua tahun terakhir, rakyat Palestina telah menempa “sebuah epos keteguhan dan ketahanan” dalam menghadapi salah satu perang pemusnahan paling brutal yang bertujuan menghancurkan kehendak mereka dan memaksa mereka menyerah.
Hamas menyebutkan bahwa sepanjang perang genosida tersebut, Israel berupaya menyangkal keberadaan rakyat Palestina melalui pengusiran, kelaparan, serta penghancuran brutal rumah-rumah dan infrastruktur sipil lainnya di seluruh Jalur Gaza yang terkepung.
“Setelah dua tahun genosida dan keteguhan, narasi kami berdiri jelas dan nyata: sebuah bangsa yang tidak dapat dihapuskan, sebuah perlawanan yang tidak dapat dikalahkan, dan sebuah ingatan yang tidak dapat dilupakan,” ujar Hamas dalam dokumen setebal 42 halaman itu.
Israel melancarkan serangan brutalnya ke Gaza pada 7 Oktober 2023, setelah Hamas melakukan operasi bersejarah sebagai balasan atas meningkatnya kekejaman Israel terhadap rakyat Palestina.
Namun demikian, Israel gagal mencapai tujuan-tujuan yang dideklarasikannya meskipun telah membunuh sedikitnya 70.942 warga Palestina—sebagian besar perempuan dan anak-anak—serta melukai 171.195 orang lainnya.
Rezim tersebut akhirnya terpaksa menyetujui gencatan senjata dengan Hamas yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Sejak saat itu, Israel terus melanggar gencatan senjata dengan serangan hampir setiap hari ke Gaza.
Hamas menegaskan bahwa Operasi Badai Al-Aqsa bukanlah peristiwa mendadak, melainkan bab lanjutan dalam perjuangan berkelanjutan melawan pendudukan Israel, sekaligus menandai tahap bersejarah dan menentukan dalam perjalanan perjuangan Palestina.
“Bagi kami dan bagi massa luas di seluruh dunia, Badai Al-Aqsa bukan sekadar peristiwa militer, melainkan momen kelahiran yang gemilang dan munculnya kesadaran merdeka yang terbebas dari penipuan dan pemalsuan,” jelas Hamas.
Kelompok perlawanan itu juga menyatakan bahwa rakyat Palestina kini semakin percaya diri terhadap kemampuan mereka untuk bertahan hidup, sementara Israel dibebani oleh kekalahan psikologis dan hilangnya daya gentar.
Lebih lanjut ditegaskan bahwa narasi Israel telah runtuh dan mulai berubah menjadi entitas yang terisolasi serta terasing di mata dunia.
Genosida di Gaza, menurut Hamas, mengungkap bahwa Israel adalah “entitas rasis, brutal, dan agresif, yang didukung oleh negara-negara penipu dan penindas yang menipu dunia dengan slogan perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan, sementara pada saat yang sama menjadi mitra langsung dalam kejahatan tersebut.”
Pada saat yang sama, Hamas menegaskan kembali tekad perlawanan yang telah berlangsung selama 77 tahun untuk melanjutkan perjuangan membebaskan Palestina dari pendudukan Israel, memulangkan para pengungsi ke tanah air mereka, serta mendirikan negara Palestina yang berdaulat dengan Al-Quds sebagai ibu kotanya.


