Gerakan Amal: Perundingan dengan Israel “Tidak Dapat Dibenarkan” Saat Warga Sipil Lebanon Dibantai

Amal

Beirut, Purna Warta – Seorang anggota sayap politik Gerakan Amal mengecam sikap diam gerakan tersebut terhadap pembantaian warga sipil akibat serangan Israel di Lebanon selatan. Ia menilai perundingan langsung dengan rezim Tel Aviv tidak dapat dibenarkan ketika warga sipil terus menjadi korban.

Inaya Ezzeddine, anggota blok parlemen Development and Liberation yang merupakan sayap politik Gerakan Amal Lebanon, mengatakan pada Senin bahwa jejak agresi dan kehancuran Israel terlihat di berbagai wilayah Lebanon selatan, mulai dari kawasan Majdal Zoun hingga Kounine dan Deir Seryan, dari Zawtar al-Sharqiyah hingga Kfar Tebnit, serta dari kota al-Mansouri hingga Bint Jbeil, Ansar, dan Deir al-Zahrani.

“Pembantaian warga di wilayah selatan telah menjadi hal yang biasa, sementara para pejabat Lebanon memilih bungkam mengenai persoalan ini,” ujarnya.

“Yang paling memprihatinkan adalah perempuan dan anak-anak merupakan sebagian besar korban dalam serangan berdarah yang terus berlangsung ini. Sementara itu, sejumlah partai dan faksi politik Lebanon berupaya mengecilkan jumlah korban dan menggambarkannya sebagai korban biasa dalam kehidupan sehari-hari,” tambah Ezzeddine.

Ia mengatakan bahwa hal yang lebih berbahaya daripada kejahatan itu sendiri adalah “menjadi terbiasa dengannya.”

“Apa yang lebih mengerikan daripada menyaksikan pembantaian warga Lebanon biasa adalah menyadari bahwa kematian satu keluarga secara keseluruhan telah menjadi kejadian yang biasa,” ujarnya.

Ezzeddine kemudian mengecam sikap tidak peduli sebagian politikus Lebanon terhadap pembantaian warga sipil oleh Israel di Lebanon selatan. Ia menyoroti bahwa sejumlah pihak justru menganggap kekejaman tersebut sebagai bagian biasa dari kehidupan sehari-hari di kawasan itu.

Anggota parlemen Lebanon tersebut mengatakan Israel tidak lagi sekadar menargetkan penduduk Lebanon selatan dan properti mereka. Menurutnya, rezim tersebut secara langsung menyerang demografi, identitas, dan mata pencaharian masyarakat setempat agar mereka tidak dapat kembali ke kota dan desa mereka ataupun membangun masa depan di sana.

“Rumah-rumah diledakkan, permukiman dihancurkan, sekolah dan klinik dirusak, dan hamparan lahan dibakar. Tujuannya bukan sekadar menghancurkan kehidupan saat ini, tetapi juga menghilangkan kemungkinan adanya kehidupan di masa depan,” lanjutnya.

Ketika Lebanon selatan terus membayar harga yang mahal setiap hari dengan darah penduduknya, tanah dan masa depannya, pemerintah Lebanon justru memindahkan perundingan langsung dengan musuh Zionis dari Washington ke Roma. Ezzeddine menilai ketergantungan pada mekanisme, sarana, dan pendekatan semacam itu tidak akan menghasilkan sesuatu yang berbeda.

“Ada ungkapan terkenal yang mengatakan: kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang kali sambil mengharapkan hasil yang berbeda,” pungkas anggota parlemen Lebanon tersebut.

Hezbollah melancarkan operasi militer terhadap Israel pada 2 Maret sebagai respons terhadap agresi AS-Israel terhadap Iran, pelanggaran berulang Israel terhadap gencatan senjata 2024, serta berlanjutnya pendudukan Israel atas wilayah Lebanon di bagian selatan.

Sejak saat itu, meskipun perundingan telah berlangsung selama berbulan-bulan, Israel terus melancarkan ofensif militernya terhadap Lebanon. Menurut otoritas Lebanon, serangan tersebut telah menewaskan 4.346 orang, melukai 12.301 orang, dan menyebabkan lebih dari 1 juta orang mengungsi.

Israel juga masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Sebagian kawasan telah diduduki selama puluhan tahun, sementara wilayah lainnya diduduki sejak perang 2023–2024. Dalam ofensif yang sedang berlangsung, pasukan Israel telah menembus lebih dari 10 kilometer ke wilayah Lebanon.

Pada 26 Juni, Lebanon dan Israel menandatangani kesepakatan kerangka yang dimediasi Amerika Serikat mengenai penarikan pasukan Israel secara bertahap dari wilayah Lebanon yang diduduki.

Rencana tersebut pada tahap awal mencakup pengaturan percontohan di dua wilayah. Penarikan lebih lanjut akan dikaitkan dengan pengambilalihan tanggung jawab keamanan oleh tentara Lebanon serta pelucutan senjata kelompok-kelompok perlawanan, termasuk Hezbollah.

Hezbollah menolak kerangka tersebut dan memperingatkan bahwa kesepakatan itu pada dasarnya melegitimasi pendudukan Israel atas Lebanon selatan.

Putaran ketujuh perundingan Lebanon-Israel berakhir di Roma awal bulan ini tanpa terobosan dalam isu-isu teritorial utama. Putaran perundingan berikutnya untuk sementara dijadwalkan pada 1 September.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *