Gaza, Purna warta – Di sebuah jalan yang nyaris tak lagi bisa disebut jalan, seorang perempuan Palestina lanjut usia—punggungnya membungkuk namun tetap melangkah dengan tekad—berdiri di hadapan kamera yang merekam sejarah. Ia menegaskan:
“Aku akan menumpahkan tetes darah terakhirku di tanah ini, tetapi aku tidak akan pernah meninggalkan negeriku.”
Baca juga: Hamas Kecam Keras Pernyataan Provokatif Netanyahu di PBB
Suaranya menggema bersama ribuan suara lainnya, suara-suara yang memandang Gaza bukan semata kota yang terkepung, melainkan panggung bagi pelajaran terbesar bagi kemanusiaan hari ini: pelajaran untuk tetap berakar pada tanah air sendiri.
Dimensi kemanusiaan: Kisah-kisah kecil di tengah tragedi besar
Gaza hari ini lebih banyak didefinisikan bukan oleh peta atau laporan sosial, melainkan oleh detail kehidupan sehari-hari. Seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun duduk di tangga rumahnya yang hancur; kita tak tahu siapa anggota keluarga yang masih mendampinginya di jalan sulit ini. Seorang saudara berdiri dalam antrean air. Seorang ayah menggenggam kunci rumahnya—rumah yang kini sudah tiada, namun tetap menjadi bagian dari identitas dirinya.
Jika dilihat bersama, gambaran ini lebih dari sekadar tragedi; ia adalah simbol keteguhan. Dalam wacana Palestina, keteguhan ini disebut Sumud—sebuah istilah yang melampaui perlawanan militer, bermakna tetap berakar di tanah sendiri dan menjaga warisan leluhur.
Puisi dan sastra perlawanan Palestina
Sejak pertengahan abad ke-20, para penyair Palestina seperti Mahmoud Darwish, Samih al-Qasim, Fadwa Tuqan, dan lainnya, berkali-kali kembali pada satu tema yang sama: ikatan tak terputus antara rakyat dan tanah air mereka. Di Palestina, puisi dan sastra bukan sekadar karya seni; ia menjadi bahasa politik dan budaya bagi generasi yang dirampas aksesnya ke media maupun forum resmi.
Maka, ketika kita melihat seorang perempuan Palestina berdiri di tengah reruntuhan sambil menggendong bayinya, sesungguhnya ia sedang menyuarakan kebenaran yang dahulu disampaikan para penyair itu melalui metafora dan bait-bait: bahwa tanah air bukan sesuatu yang bisa dibawa pergi atau dijual—ia adalah tempat yang harus tetap dijaga, bahkan dalam kondisi paling pahit sekalipun.
Makna “tetap tinggal” dalam politik dan sejarah
Bagi banyak warga Gaza, meninggalkan rumah bukan sekadar soal menyelamatkan diri; itu berarti menyerahkan sejarah. Ingatan tentang Nakba 1948 masih membekas, ketika ratusan ribu warga Palestina meninggalkan rumah mereka dengan harapan bisa kembali—namun tak pernah bisa. Hari ini, mereka yang memilih bertahan di tengah reruntuhan sejatinya sedang berdialog dengan sejarah: jangan biarkan apa yang pernah terjadi, terulang kembali.
Gaza kini dapat dipandang sebagai salah satu paradoks terbesar abad ini: sebidang tanah kecil yang sekaligus menjadi “tempat paling mematikan di bumi” dan “kelas terbesar tentang cinta tanah air.” Perempuan lanjut usia yang berdiri di tengah reruntuhan itu mungkin takkan pernah tercatat namanya dalam buku sejarah; namun ia, dan ribuan orang sepertinya, telah memberi makna baru pada sebuah kata: tanah air—yang bahkan di tengah sekaratnya mesin oksigen dan panjangnya antrean air—tetap hidup.


