Qatar, Purna Warta – Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Muslim Internasional (International Union of Muslim Scholars/IUMS), Ali al-Qaradaghi, mengecam sikap bungkam internasional terhadap kekejaman Israel yang terus berlangsung terhadap warga Palestina di Gaza sebagai sebuah pengkhianatan terhadap prinsip-prinsip Islam.
Qaradaghi mengatakan penderitaan warga Palestina di Gaza—yang menghadapi genosida, memburuknya kondisi kemanusiaan, dinginnya musim dingin, serta badai—menunjukkan ketidakpedulian umat Islam (Ummah) terhadap sebuah bangsa yang hidup di tengah kematian, pengepungan, dan kelaparan.
Ia menegaskan bahwa membantu pihak yang tertindas merupakan kewajiban agama dan moral, sementara sikap diam sama artinya dengan pengkhianatan terhadap nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.
Qaradaghi menyebut pemandangan tenda-tenda yang tersapu angin, terendam hujan, serta perempuan dan anak-anak yang ditinggalkan tanpa tempat berlindung sebagai bukti nyata kedalaman bencana kemanusiaan di Gaza.
Ketua IUMS itu menambahkan bahwa musibah besar ini tidak hanya menguji kesabaran para korban, tetapi juga menjadi tolok ukur sikap seluruh komunitas internasional.
Ia juga menyatakan bahwa warga Palestina di Gaza mengalami penindasan dan agresi yang terang-terangan, serta menyerukan kepada negara-negara dunia, pemerintah, serta lembaga keagamaan dan kemanusiaan agar memikul tanggung jawab mereka dan melakukan upaya serius untuk menghentikan kejahatan yang terus berlangsung serta memberikan bantuan kepada para korban.
“Saat ini, Gaza berdiri sebagai tolok ukur moral, yang mencerminkan sikap umat dan suara hati kolektif kemanusiaan,” ujar Qaradaghi.
Qaradaghi juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas krisis yang terus berlangsung di Gaza, seraya menyoroti bahwa pelanggaran berulang Israel terhadap perjanjian gencatan senjata telah menghambat pengiriman sekitar 300.000 tenda serta rumah-rumah prefabrikasi.
Kondisi cuaca ekstrem semakin menambah penderitaan warga Palestina yang mengungsi di Gaza, yang telah menghadapi pengeboman berkelanjutan, pengepungan yang melumpuhkan, dan kerugian besar selama lebih dari dua tahun perang genosida Israel.
Israel terus menghalangi masuknya pasokan tempat tinggal dan bantuan penting ke wilayah tersebut.
Pada Senin, tenda-tenda yang rapuh terendam air dan kamp-kamp darurat tertutup lumpur setelah hujan musim dingin yang lebat mengguyur wilayah itu selama beberapa hari terakhir.
Pada Minggu, seorang perempuan berusia 30 tahun meninggal dunia ketika dinding yang sebagian hancur runtuh menimpa tendanya di kawasan Remal, sebelah barat Kota Gaza, akibat angin kencang.
Otoritas setempat telah mengimbau warga agar tidak berlindung di bangunan yang rusak. Namun, tenda-tenda pengungsian hanya memberikan perlindungan yang sangat terbatas dari hujan deras dan sama sekali tidak mampu mencegah banjir.
Pejabat lokal di Gaza melaporkan sedikitnya 15 orang, termasuk tiga bayi, meninggal dunia bulan ini akibat hipotermia yang disebabkan oleh hujan lebat dan turunnya suhu udara.
Sejak Oktober 2023, militer Israel telah membunuh lebih dari 71.200 orang—sebagian besar perempuan dan anak-anak—serta melukai lebih dari 171.200 lainnya di Gaza.
Meski gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, Israel tetap menutup perlintasan Gaza dan membatasi masuknya rumah-rumah mobil serta bahan-bahan rekonstruksi.


