Al-Quds, Purna Warta – Seorang cendekiawan Palestina, sastrawan, dan penyair Palestina terkemuka meninggal dunia akibat malnutrisi parah yang disebabkan oleh blokade berkepanjangan Israel atas Jalur Gaza, ketika rezim tersebut terus melancarkan perang genosida di wilayah Palestina.
Menurut laporan media lokal, Omar Harb wafat pada Kamis setelah kondisi kesehatannya memburuk dalam beberapa pekan terakhir. Jumlah keseluruhan korban jiwa terkait kelaparan di Gaza kini meningkat menjadi 370 orang, yang sebagian besar adalah anak-anak, perempuan, dan lanjut usia.
Cendekiawan Palestina berusia 60 tahun itu mengalami kesulitan besar dan penurunan kondisi fisik akibat perang dan blokade. Harb juga kehilangan sedikitnya 26 anggota keluarga, termasuk istrinya, beberapa anak, dan cucu-cucunya. Selain itu, lima rumah milik keluarganya hancur akibat serangan Israel.
Sebelum Oktober 2023, Harb memiliki berat sekitar 120 kilogram. Dalam salah satu penampilan terakhirnya di media, berat badannya turun drastis hingga tidak lebih dari 40 kilogram.
Ia tampak sangat kurus dalam wawancara tersebut dan menyampaikan kesedihannya atas penderitaan yang dialami, khususnya kehilangan orang-orang terkasih. Ia juga meminta bantuan berupa makanan, obat-obatan, perawatan medis, bahkan kursi roda baru — namun semuanya tidak pernah tiba tepat waktu untuk menyelamatkannya.
Harb, lulusan Universitas al-Azhar Mesir dengan berbagai kualifikasi di bidang psikologi, aktif dalam keilmuannya hingga pecahnya perang Israel di Gaza, dan kerap menghadiri forum regional.
Sejak Israel memberlakukan blokade atas Gaza pada 2007, kehidupan 2,2 juta penduduk di wilayah itu sangat terdampak. Harb berusaha membantu sesama dengan memberikan dukungan psikologis bagi mereka yang mengalami penderitaan.
Kesehatannya mulai menurun setelah serangan Israel menghancurkan rumah keluarganya dan menewaskan kerabat-kerabatnya.
Meskipun sempat diberitahu bahwa dirinya akan dievakuasi dari Gaza pada bulan Ramadan tahun lalu, ia kemudian menerima telepon yang menyatakan bahwa namanya tidak masuk dalam daftar evakuasi ke Mesir.
“Saya melihat foto saya sebelum dan sesudah, dan saya berpikir: ‘tidak mungkin ini orang yang sama’,” kenangnya.
“Kami tidak lagi tahu mengapa kami sampai pada titik ini. Rakyat menderita dan tidak ada yang memperhatikan penderitaan ini. Kami menunggu Allah, Yang Mahaagung, untuk bersama kami.”
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa 1,9 juta orang saat ini mengalami malnutrisi, termasuk setidaknya 641.000 orang yang menghadapi tingkat kelaparan paling parah.
Pada akhir Agustus, Integrated Food Phase Classification (IPC) — pemantau kelaparan global yang didukung PBB — secara resmi menyatakan terjadinya kelaparan di Gaza untuk pertama kalinya.
IPC adalah kerangka kerja internasional yang diakui dalam mengklasifikasikan tingkat keparahan krisis pangan. Suatu wilayah dinyatakan mengalami kelaparan jika memenuhi tiga kriteria: minimal 20% rumah tangga kekurangan pangan kritis, setidaknya 30% anak-anak menderita malnutrisi akut, dan dua dari setiap 10.000 orang meninggal setiap hari akibat “kelaparan total.”
Militer Israel telah melancarkan perang brutal di Gaza sejak 7 Oktober 2023, mengabaikan seruan internasional untuk gencatan senjata. Serangan tersebut telah menewaskan sedikitnya 64.231 warga Palestina, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.


