Banyak Perusahaan Israel di Ambang Kebangkrutan di Tengah Krisis yang Kian Memburuk

Bangkrut

Al-Quds, Purna Warta – Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa banyak perusahaan besar di wilayah pendudukan Israel berada di ambang kebangkrutan akibat krisis ekonomi yang terus memburuk. (Foto ilustrasi)

Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa banyak perusahaan besar di wilayah pendudukan Israel selama dua tahun terakhir terpaksa mengambil pinjaman baru untuk melunasi utang lama mereka, dan kini berada di ambang kebangkrutan.

Menurut harian ekonomi berbahasa Ibrani Globes, sejumlah perusahaan konstruksi besar, baik milik Israel maupun asing, sedang berupaya memperoleh pinjaman baru guna memenuhi kewajiban pembayaran surat utang serta kewajiban finansial lainnya.

Laporan tersebut menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan itu, akibat kondisi ekonomi yang dialami rezim Israel selama dua tahun terakhir, terpaksa mencari pembiayaan melalui pinjaman, utang baru, maupun penjualan proyek secara pra-peluncuran dalam skala besar guna memenuhi kebutuhan minimum operasional mereka, terutama untuk melunasi pinjaman yang telah jatuh tempo.

Situasi ini terjadi ketika Perusahaan Hotel Barclays mencatatkan sahamnya di bursa efek sembari mengumumkan defisit anggaran sebesar 90 juta shekel serta neraca keuangan negatif dalam laporan kepada manajemennya.

Globes juga mencatat bahwa banyak pemukim Israel tidak lagi berminat berinvestasi di sektor perumahan dan telah mengalihkan modal mereka ke sektor-sektor lain.

Akibatnya, banyak perusahaan konstruksi menghadapi berbagai tantangan serius, tulis harian ekonomi tersebut.

Sejak dimulainya perang di Gaza pada Oktober 2023, Israel telah mengalokasikan sumber daya finansial dan manusia dalam jumlah besar untuk operasi militernya di wilayah tersebut.

Bank Sentral Israel memperkirakan total dampak ekonomi perang mencapai sekitar 352 miliar shekel (sekitar 112 miliar dolar AS). Angka tersebut mencakup sekitar 243 miliar shekel untuk pengeluaran militer langsung, 33 miliar shekel untuk dana kompensasi pajak properti, 57 miliar shekel untuk biaya sipil, serta 19 miliar shekel untuk kewajiban pembayaran bunga.

Pada awal 2025, terkait perang Gaza saja, Gil Pinchas, mantan penasihat ekonomi militer utama Israel, memperkirakan bahwa operasi militer tersebut telah menelan biaya sekitar 150 miliar shekel (48 miliar dolar AS), atau rata-rata sekitar 300 juta shekel (96 juta dolar AS) per hari.

Pinchas juga menyatakan bahwa Israel telah menghabiskan sekitar 340 miliar shekel (108 miliar dolar AS) untuk amunisi sejak dimulainya operasi militer tersebut, meskipun sebagian besar persenjataan itu belum digunakan.

Sebagian besar pengeluaran tersebut juga dialokasikan untuk pembelian senjata dari produsen dalam negeri, yang dinilai membantu mengurangi sebagian dampak negatif perang terhadap perekonomian Israel.

Sementara itu, The Wall Street Journal memperkirakan bahwa operasi militer Israel terhadap Iran pada Juni 2025 menelan biaya sekitar 200 juta dolar AS per hari. Biaya tersebut terutama digunakan untuk mencegat rudal yang diluncurkan ke arah Israel, dengan jumlah intersepsi yang pada beberapa kesempatan mencapai 400 rudal per hari, dengan biaya per rudal pencegat berkisar antara 700 ribu hingga 4 juta dolar AS.

Selain itu, serangan Israel terhadap sistem komunikasi Hizbullah pada September 2024 dilaporkan membebani kas negara Israel sekitar 1 miliar shekel (318 juta dolar AS).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *