Al-Quds, Purna Warta – Pusat-pusat kajian strategis rezim Zionis telah menyusun daftar panjang ancaman terhadap keamanan internal rezim tersebut dan mengklasifikasikannya berdasarkan tingkat prioritas.
Menurut laporan Al Mayadeen, banyak kalangan politik di wilayah pendudukan sepakat bahwa rezim ini tengah menghadapi realitas baru dalam dimensi keamanan, politik, dan ekonomi. Mereka meyakini bahwa perang melawan Iran dan Poros Perlawanan, perubahan di Timur Tengah, tekanan di tingkat internasional, serta berbagai tantangan internal telah menghadirkan tantangan-tantangan baru bagi para pengambil keputusan terkait masa depan Israel dan bentuknya dalam satu dekade mendatang.
Dalam konteks tersebut, kelompok kajian surat kabar Yedioth Ahronoth, bekerja sama dengan “Institut Keamanan Nasional” rezim Zionis, pada 27 Juli 2026 menyelenggarakan konferensi keamanan nasional yang dihadiri oleh para politisi, pejabat senior lembaga keamanan dan militer, peneliti, serta para pakar. Konferensi tersebut bertujuan mengkaji perubahan realitas keamanan di wilayah pendudukan serta peta ancaman yang dihadapi rezim Zionis.
Konferensi ini untuk pertama kalinya mempresentasikan hasil “Indeks Ancaman yang Dihadapi Israel” yang disusun oleh Institut Keamanan Nasional. Indeks tersebut merupakan sebuah studi komprehensif yang menggabungkan survei opini publik di wilayah pendudukan dengan kajian mendalam yang melibatkan lebih dari 100 pakar di bidang keamanan, politik, ekonomi, dan sosial.
Studi tersebut memetakan ancaman-ancaman paling menonjol yang dihadapi rezim Zionis. Di antara ancaman yang menempati posisi teratas adalah Iran, Palestina, posisi internasional rezim Zionis, ketahanan internal, serta tantangan ekonomi.
Konferensi tersebut menyatakan bahwa situasi keamanan yang tegang di wilayah pendudukan, serangan Iran terhadap garis depan domestik rezim ini, konflik di front utara, peningkatan kekuatan Hamas di Jalur Gaza, meningkatnya ketegangan di Tepi Barat, ancaman dari Yaman, serta tantangan dari Turki merupakan sejumlah risiko paling penting yang dihadapi rezim Zionis dalam periode sensitif saat ini. Selain itu, nasib pemilu internal di wilayah pendudukan juga harus dimasukkan ke dalam daftar tersebut, mengingat seluruh faksi politik Zionis menyebutnya sebagai pemilu yang menentukan.
Dalam menjelaskan “Peta Ancaman yang Dihadapi Israel pada 2026”, konferensi tersebut menyimpulkan bahwa Tel Aviv dalam beberapa tahun terakhir menghadapi rangkaian krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Krisis tersebut bermula dari konflik internal terkait pemerintahan, berlanjut hingga serangan mendadak pada 7 Oktober, kemudian diikuti oleh hampir tiga tahun perang multimedan dan gejolak regional.
Dalam hal ini, Institut Keamanan Nasional rezim Zionis mengevaluasi 14 skenario berbeda berdasarkan tingkat keparahan ancaman, kemungkinan terjadinya, serta besarnya potensi kerugian. Selanjutnya, empat dari 14 skenario tersebut—yang mencakup bidang keamanan, politik, sosial, ekonomi, dan lingkungan—dipilih untuk disebut sebagai “ancaman terbesar bagi Israel dalam lima tahun mendatang.”
Penyelenggara konferensi menempatkan empat ancaman utama berikut di posisi teratas daftar ancaman yang dihadapi rezim Zionis:
- Pecahnya konflik kekerasan antarkelompok masyarakat Zionis (39%).
- Iran memperoleh senjata nuklir (39%).
- Serangan rudal berskala besar terhadap garis depan domestik (35%).
- Melemahnya “karakter demokratis Israel” (31%).
Skenario-skenario yang ada menunjukkan bahwa tantangan keamanan bukanlah satu-satunya ancaman yang dihadapi rezim Zionis. Masuknya “pelemahan karakter demokratis negara” ke dalam empat ancaman utama rezim Zionis menunjukkan bahwa kohesi internal di wilayah pendudukan merupakan salah satu pilar utama keamanannya.
Sekitar sepertiga warga Israel menempatkan skenario ini di antara tiga ancaman paling berbahaya. Sebanyak 68 persen meyakini bahwa dampak persoalan tersebut akan berbahaya, sementara 76 persen berpendapat bahwa “kabinet” tidak memiliki kesiapan yang memadai untuk menghadapi konsekuensi dari tantangan tersebut.
Dari berbagai perspektif mengenai tantangan yang dihadapi rezim Zionis terlihat bahwa opini publik terutama berfokus pada ancaman keamanan langsung. Sementara itu, para pakar memberikan bobot yang lebih besar kepada ancaman jangka panjang yang berdampak terhadap masyarakat, sistem pemerintahan, dan posisi internasional rezim Zionis.
Para penyusun studi tersebut pada akhirnya menyimpulkan:
“Selama bertahun-tahun, kita terbiasa mengajukan satu pertanyaan: apa ancaman terbesar yang dihadapi Israel? Namun, tampaknya pertanyaan tersebut tidak lagi tepat. Pertanyaan yang sebenarnya adalah: apa yang akan terjadi jika beberapa ancaman terwujud secara bersamaan?”
Brigadir Jenderal (Purn.) Yuval Eyalon, penanggung jawab utama studi tersebut sekaligus peneliti senior di Institut Keamanan Nasional rezim Zionis, merangkum kondisi rezim ini sebagai berikut:
“Gambaran mengenai ancaman ini pada dasarnya merupakan sebuah gambaran yang kompleks; ini bukan hanya satu ancaman, melainkan keseluruhan dari semua ancaman tersebut. Hal yang sangat mengkhawatirkan opini publik adalah ancaman internal dan hilangnya dukungan internasional terhadap kabinet Israel.”


