Analisis Media Ibrani tentang Kondisi Pasar Energi Global

Energi

Al-Quds, Purna Warta – Sebuah media berbahasa Ibrani mengklaim bahwa pasar minyak dunia pekan lalu kembali menerima pukulan berat untuk kedua kalinya.

Surat kabar ekonomi berbahasa Ibrani, Calcalist, dalam sebuah analisis mengenai kondisi pasar energi, khususnya minyak dunia, menulis bahwa pasar minyak global pekan lalu kembali menerima pukulan besar setelah kelompok Houthi (Angkatan Bersenjata Yaman) menguasai Selat Bab al-Mandab dan melancarkan serangan terhadap jalur pipa minyak vital East-West Arab Saudi. Menyusul peristiwa tersebut, Laut Merah, yang sejak dimulainya krisis Selat Hormuz berfungsi sebagai jalur pertahanan dan rute alternatif bagi ekspor minyak kawasan, kini mulai kehilangan posisi tersebut.

Skenario yang lebih mungkin terjadi adalah berlanjutnya penurunan dan pengurasan cadangan minyak, lonjakan harga minyak per barel, serta meningkatnya biaya transportasi laut.

Laporan tersebut selanjutnya menyebutkan bahwa dinamika dan laju pergerakan Houthi (Angkatan Bersenjata Yaman) dalam beberapa hari terakhir mengubah makna perang Yaman bagi pasar energi. Dalam waktu singkat, Houthi berhasil menguasai kota pesisir Mokha, mencapai kawasan Bab al-Mandab, serta menguasai Pulau Mayyun, Zuqar, dan sejumlah pulau lainnya yang sebelumnya berada di bawah kendali pasukan pendukung pemerintah Yaman.

Dengan demikian, Houthi secara de facto telah menyempurnakan penguasaannya atas pantai barat Yaman dan kawasan selat.

Penguasaan tersebut tidak serta-merta berarti bahwa Houthi mampu mencegah setiap kapal melintas antara Yaman dan Tanduk Afrika. Namun, sistem rudal, drone, pengawasan, serta kapal-kapal kecil yang mereka miliki kini membuat mereka semakin dekat dengan salah satu jalur perdagangan paling sensitif di dunia.

Waktu terjadinya peristiwa ini memberikan arti yang sangat penting terhadap perkembangan di Yaman. Sejak dimulainya perang dengan Iran, Laut Merah telah menjadi bagian dari sistem pendukung ekspor energi dari kawasan Teluk. Menurut data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), volume minyak dan produk minyak yang melewati Selat Bab al-Mandab mengalami lonjakan signifikan, dari 5,4 juta barel per hari pada kuartal terakhir 2025 menjadi 8,1 juta barel per hari pada kuartal kedua 2026.

Dalam periode yang sama, volume transit melalui Selat Hormuz turun dari 21,6 juta barel per hari menjadi 4,9 juta barel per hari. EIA menjelaskan bahwa peningkatan lalu lintas melalui Bab al-Mandab tersebut terutama disebabkan oleh pengalihan rute ekspor Arab Saudi melalui jalur pipa East-West menuju Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.

Dengan demikian, muncul ketergantungan baru. Selama bertahun-tahun, jalur pipa East-West berfungsi sebagai semacam polis asuransi bagi Arab Saudi terhadap segala bentuk gangguan di Selat Hormuz.

Jalur pipa tersebut menghubungkan pusat-pusat produksi minyak di bagian timur kerajaan dengan pantai barat. Perusahaan Saudi Aramco meningkatkan kapasitas maksimalnya menjadi 7 juta barel per hari pada kuartal pertama tahun ini. Saat itu, CEO raksasa minyak Saudi tersebut, Amin Nasser, menggambarkannya sebagai “jalur kehidupan bantuan” yang memungkinkan pengelolaan keterbatasan pelayaran di Selat Hormuz.

Kamis lalu, polis asuransi tersebut juga mengalami kerusakan. Kementerian Energi Arab Saudi mengumumkan bahwa jalur pipa tersebut menjadi sasaran serangan di beberapa titik di wilayah Riyadh dan Madinah, serta bahwa operasinya dihentikan sebagai tindakan pencegahan.

Menurut media berbahasa Ibrani tersebut, Arab Saudi kini menghadapi tiga titik kerentanan sekaligus: Selat Hormuz mengalami pembatasan, jalur darat yang seharusnya menjadi alternatif untuk menghindarinya telah diserang, sementara di ujung baratnya, Bab al-Mandab kini berada di bawah ancaman Houthi yang jauh lebih dekat dibandingkan sebelumnya.

Masalah ini bahkan telah terlihat jelas dalam data produksi sebelum serangan terhadap jalur pipa tersebut. Dalam laporan yang dirilis Badan Energi Internasional (IEA) pada Jumat, produksi minyak Arab Saudi pada Agustus diperkirakan sekitar 5,97 juta barel per hari, sedangkan pada Juli angkanya mencapai 8,24 juta barel per hari. Selisih antara produksi aktual dan target yang ditetapkan untuk Agustus mencapai 4,45 juta barel per hari. Arab Saudi memiliki kapasitas produksi berkelanjutan di atas 12 juta barel per hari, menurut perkiraan IEA. Oleh karena itu, data tersebut menunjukkan perbedaan antara kapasitas produksi secara teoritis dan kemampuan untuk memasok serta mengekspor minyak secara aman dalam kondisi perang.

Bahkan harga minyak mentah Brent yang berada di sekitar 105 dolar AS per barel ketika laporan IEA diterbitkan belum tentu menjadi kabar baik bagi Riyadh. Setiap barel yang berhasil dijual memang menghasilkan pendapatan tambahan, tetapi produksi dan ekspor Arab Saudi masih jauh di bawah kapasitas sebenarnya. Selain itu, terdapat biaya pertahanan, pemulihan infrastruktur, asuransi, dan transportasi yang harus diperhitungkan. Anggaran Arab Saudi untuk 2026 sebelumnya telah dirancang dengan defisit sekitar 44 miliar dolar AS. Dengan tetap berlanjutnya pendanaan pemerintah terhadap berbagai program jangka panjang “Visi 2030”, penurunan pendapatan minyak dapat semakin mendorong perlunya menentukan prioritas proyek serta menyesuaikan kecepatan pelaksanaannya.

Masalah utama Arab Saudi terletak pada jumlah barel minyak yang mampu mereka pasok ke pasar. Dalam beberapa dekade terakhir, pasar minyak telah belajar menjadikan “kapasitas produksi cadangan” sebagai jaminan utama dalam menghadapi berbagai krisis. Peristiwa yang sedang berlangsung saat ini mengingatkan bahwa apabila jalur ekspor itu sendiri berubah menjadi hambatan, kapasitas produksi cadangan tidak akan memberikan manfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *