Aktivis Brasil dari Kapal Bantuan Gaza yang Disita Lakukan Mogok Makan di Penjara Israel

Brazilian

Al-Quds, Purna Warta – Thiago Avila, aktivis asal Brasil yang ditahan di atas kapal bantuan yang hendak menuju Gaza, telah memulai mogok makan sebagai bentuk protes terhadap serangan Israel terhadap kapal Madleen di perairan internasional.

Laporan media pada hari Rabu mengonfirmasi bahwa Avila telah memulai mogok makan dan minum tanpa batas waktu.

Menurut sumber, aksi tersebut akan dilakukan tanpa mengonsumsi makanan dan air sama sekali.

Pada hari Selasa, empat aktivis telah dideportasi oleh rezim Israel, termasuk aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, sementara delapan orang lainnya, yang menolak menandatangani surat perintah deportasi, ditahan di Penjara Givon yang terletak di kota Ramla, wilayah yang diduduki Israel sejak 1948.

Kedelapan aktivis tersebut telah dihadapkan ke pengadilan penahanan Ramla pada hari Selasa atas surat perintah deportasi yang dikeluarkan oleh otoritas Israel.

Para aktivis tersebut berasal dari berbagai negara, yaitu Brasil, Prancis, Belanda, Jerman, Swedia, Spanyol, dan Turki. Mereka semua tergabung dalam Koalisi Armada Kebebasan yang bertujuan untuk mematahkan blokade atas Gaza.

Tim hukum yang mewakili para aktivis tersebut menuntut agar mereka segera dibebaskan tanpa syarat dan dikembalikan ke kapal Madleen agar mereka dapat menyelesaikan misi pengiriman bantuan ke Gaza sebelum kembali ke negara asal masing-masing.

Para pengacara menegaskan bahwa Israel tidak memiliki yurisdiksi hukum, karena kapal tersebut dicegat di perairan internasional, sehingga penahanan dan surat perintah deportasi dinyatakan tidak sah.

Para aktivis yang ditahan menyatakan bahwa mereka telah “diculik” dan secara paksa dibawa ke wilayah yang diduduki Israel sejak 1948, menekankan bahwa satu-satunya tujuan mereka adalah mematahkan pengepungan Israel dan mengirimkan bantuan kepada warga Gaza, demikian disampaikan tim hukum.

Tim tersebut juga menyatakan bahwa para aktivis dibawa secara paksa dari perairan internasional ke wilayah yang diduduki Israel, lalu secara tidak sah dilabeli sebagai “penyusup ilegal” tanpa dasar hukum.

Selain itu, para aktivis juga mengeluhkan kondisi yang tidak higienis selama dalam penahanan, termasuk serangan kutu kasur dan air keran yang tidak layak minum.

Pasukan Israel menyita kapal tersebut di perairan internasional pada Senin pagi, dan menahan 12 aktivis dari berbagai negara saat mereka berusaha mencapai Jalur Gaza dengan membawa bantuan kemanusiaan untuk menantang blokade Israel.

Para pengacara mengutuk blokade Israel atas Gaza sebagai bentuk hukuman kolektif yang melanggar hukum dan bertujuan membuat warga sipil kelaparan, serta melanggar langkah-langkah sementara yang telah ditetapkan oleh Mahkamah Internasional (ICJ) dalam kasus genosida yang diajukan oleh Afrika Selatan terhadap Israel.

Mereka menyatakan bahwa para aktivis tersebut bertindak dalam kerangka hukum yang sah untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, yang saat ini berada dalam risiko kelaparan ekstrem.

Pasukan Israel pada hari Senin menyerang kapal bantuan kemanusiaan yang sedang menuju Gaza saat kapal tersebut mendekati perairan pantai wilayah Palestina yang terkepung tersebut.

Thiago Avila, yang berada di atas kapal Madleen, menulis di media sosial pada Senin pagi bahwa kapal mereka telah dikepung oleh kapal-kapal militer Israel.

Ia menyebut bahwa pasukan rezim telah menyerang Madleen, kapal bantuan kemanusiaan yang berusaha menembus blokade laut Israel atas Gaza.

Badan-badan PBB dan organisasi bantuan besar telah memperingatkan bahwa Gaza berada di ambang kelaparan jika bantuan tidak segera masuk. Mereka mengatakan pembatasan oleh Israel, keruntuhan hukum dan ketertiban, serta penjarahan luas telah membuat pengiriman bantuan ke sekitar 2 juta penduduk Gaza menjadi sangat sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *