6 Warga Palestina Tewas, 8 Terluka Akibat Tembakan Israel di Gaza Saat Krisis Kelaparan Terus Berlanjut

6 Palestina Killed

Gaza, Purna Warta – Israel telah menewaskan enam warga Palestina dan melukai delapan lainnya dalam serangan di seluruh Jalur Gaza, sementara pelanggaran gencatan senjata terus berlangsung tanpa henti dan keluarga-keluarga menghadapi kekurangan parah serta kehancuran yang meluas.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, rumah-rumah sakit di wilayah pesisir yang dilanda perang itu menerima enam jenazah selama 24 jam terakhir, sementara delapan orang lainnya dirawat di fasilitas medis untuk mendapatkan pengobatan.

Korban tersebut mencakup lima warga Palestina yang tewas akibat serangan Israel, serta satu korban lain yang kemudian meninggal dunia akibat luka-luka sebelumnya.

Kementerian itu menyatakan bahwa korban tambahan masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang hancur, dan tim ambulans serta pertahanan sipil belum dapat menjangkau mereka.

Korban terbaru ini menambah jumlah warga Palestina yang tewas sejak diumumkannya gencatan senjata pada 11 Oktober 2025 menjadi sedikitnya 904 orang, disertai lebih dari 2.710 korban luka.

Sementara itu, puluhan warga Palestina yang mengungsi berkumpul di Gaza tengah pada hari Minggu untuk memprotes memburuknya kelaparan, kekurangan makanan, dan pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Para demonstran menuntut akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan serta pembukaan kembali perbatasan.

Peserta aksi mengibarkan bendera Palestina dan membawa spanduk yang mengecam memburuknya kondisi kehidupan serta kekurangan pangan.

Beberapa demonstran membawa panci masak kosong sebagai simbol semakin dalamnya krisis kelaparan yang dihadapi keluarga-keluarga di seluruh Gaza.

Ali al-Shashniya, koordinator dan juru bicara komite suku dan komite rakyat di kamp pengungsi al-Bureij, mengatakan bahwa kondisi kemanusiaan terus memburuk akibat blokade dan kekurangan yang terus berlangsung.

Ia mengatakan bahwa ribuan warga Palestina yang mengungsi kini hampir sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan memperingatkan bahwa situasi dapat semakin memburuk jika pembatasan tetap diberlakukan.

Hassan Rayyan, seorang warga Palestina yang mengungsi dari Gaza utara, juga menggambarkan kondisi yang dihadapi banyak keluarga yang kehilangan rumah dan mata pencaharian mereka.

“Kami ingin hidup dengan bermartabat. Kami kehilangan rumah-rumah kami dan kondisi kemanusiaan kami menjadi sangat sulit,” katanya.

Lembaga-lembaga internasional terus memperingatkan mengenai tingkat kerawanan pangan yang parah di seluruh Gaza.

Menurut Program Pangan Dunia (WFP), sekitar 1,6 juta warga Palestina — mewakili 77 persen populasi Gaza — menghadapi tingkat kerawanan pangan akut yang parah.

Lembaga tersebut mengatakan bahwa angka itu mencakup lebih dari 100.000 anak-anak dan sekitar 37.000 perempuan hamil serta ibu menyusui.

Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa perang genosida Israel di wilayah terkepung tersebut sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan sedikitnya 72.797 warga Palestina dan melukai 172.821 lainnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, organisasi-organisasi bantuan internasional berulang kali memperingatkan bahwa sistem kesehatan dan distribusi pangan di Gaza berada di ambang kehancuran total. Banyak rumah sakit beroperasi dengan kapasitas terbatas akibat kekurangan bahan bakar, obat-obatan, dan peralatan medis.

Sejumlah lembaga PBB juga menyoroti meningkatnya risiko kelaparan massal, terutama di kalangan anak-anak. Beberapa laporan menyebut bahwa ribuan keluarga kini hanya mampu makan sekali sehari, sementara harga bahan makanan melonjak tajam akibat blokade dan terbatasnya distribusi bantuan.

Selain krisis pangan, jutaan warga Gaza juga menghadapi kekurangan air bersih, tempat tinggal layak, dan layanan sanitasi. Sebagian besar pengungsi kini tinggal di tenda-tenda darurat atau di bangunan rusak yang tidak aman untuk dihuni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *