Purna Warta – Sebanyak 28 aktivis dari 13 negara memulai aksi mogok makan tanpa batas waktu sebagai bentuk solidaritas terhadap anggota Konvoi Global Bantuan Kemanusiaan untuk Gaza yang saat ini ditahan.
Menurut laporan Pusat Informasi Palestina, kekhawatiran mengenai nasib 10 relawan sipil anggota Konvoi Global Bantuan Darat untuk Gaza yang ditahan oleh pasukan di Libya timur terus meningkat.
Para relawan tersebut hari ini memasuki hari kedelapan mogok makan tanpa batas waktu sebagai bentuk protes terhadap berlanjutnya penahanan mereka.
Delegasi Sumud Maroko juga melaporkan memburuknya kondisi kesehatan para tahanan dan menyatakan bahwa sejumlah kasus pingsan berulang telah tercatat, terutama di kalangan perempuan, sementara fasilitas serta perawatan medis yang memadai tidak tersedia di tempat penahanan mereka.
Perkembangan ini berkaitan dengan penahanan sekelompok relawan internasional yang tergabung dalam Global Sumud Land Convoy, sebuah konvoi kemanusiaan yang berupaya mengirim bantuan ke Jalur Gaza melalui jalur darat. Menurut Amnesty International, 10 aktivis kemanusiaan dari sembilan negara ditangkap pada 24 Mei 2026 di dekat Sirte, Libya timur, ketika sedang berusaha bernegosiasi dengan otoritas setempat untuk melanjutkan perjalanan konvoi menuju Gaza. Amnesty menyatakan bahwa para relawan tersebut ditahan secara sewenang-wenang dan menyerukan pembebasan segera mereka.
Amnesty International juga mengungkapkan bahwa beberapa dari para tahanan sempat mengalami penghilangan paksa selama beberapa hari sebelum keberadaan mereka diketahui. Organisasi tersebut menyebut para relawan ditahan atas tuduhan berkumpul tanpa izin, meskipun tim hukum konvoi menyatakan bahwa persiapan perjalanan telah dikoordinasikan selama berbulan-bulan dengan berbagai pihak terkait.
Menurut pernyataan Global Sumud Flotilla, aksi solidaritas internasional kini melibatkan puluhan aktivis dari 13 negara di berbagai benua. Mereka melakukan mogok makan untuk menekan pemerintah masing-masing agar mengambil langkah diplomatik guna membebaskan para relawan yang ditahan. Organisasi tersebut memperingatkan bahwa kondisi kesehatan para tahanan terus memburuk akibat aksi mogok makan yang berkepanjangan.
Sejumlah negara telah mulai memberikan perhatian terhadap kasus ini. Pemerintah Italia, misalnya, secara resmi meminta akses konsuler dan pembebasan dua warga negaranya yang termasuk di antara para tahanan. Laporan Reuters menyebutkan bahwa para relawan telah melakukan mogok makan dan menolak asupan makanan sebagai bentuk protes terhadap penahanan serta dugaan perlakuan buruk yang mereka alami selama berada dalam tahanan.
Laporan media internasional juga menyebutkan bahwa para relawan yang ditahan terdiri dari dokter, pekerja kemanusiaan, dan aktivis sipil dari berbagai negara, termasuk Spanyol, Italia, Amerika Serikat, Argentina, Portugal, Tunisia, Uruguay, dan Polandia. Mereka merupakan bagian dari konvoi yang beranggotakan lebih dari 200 peserta dan membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza.
Kasus ini terjadi di tengah meningkatnya berbagai inisiatif internasional yang bertujuan menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui jalur darat maupun laut. Namun sejumlah upaya tersebut dalam beberapa bulan terakhir menghadapi hambatan keamanan, pembatasan administratif, dan penahanan aktivis di beberapa negara transit di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah.


