Mantan Perwira Intelijen Israel: Bukankah Lebih Baik Ayatullah Khamenei dan Larijani Tetap Berada di Arena?

Intelijen Israel

Al-Quds, Purna Warta – Seorang peneliti senior Program Iran dan Poros Syiah di Institute for National Security Studies (INSS) sekaligus mantan perwira intelijen militer Israel, dalam sebuah unggahan di platform X, mempertanyakan efektivitas ancaman dan opsi militer terhadap Iran. Ia berpendapat bahwa baik tekanan militer maupun serangan Amerika Serikat tidak akan mampu memaksa Teheran menerima kesepakatan berdasarkan syarat-syarat Washington, dan bahwa kelanjutan pendekatan tersebut hanya akan semakin menjauhkan kedua pihak dari jalur diplomasi.

Danny (Denis) Citrinowicz menulis di platform X sebagai tanggapan atas serangan terbaru Amerika Serikat terhadap Iran:

“Baik ancaman maupun serangan militer Amerika Serikat kemungkinan besar tidak akan mampu memaksa Iran mundur dari posisinya saat ini, terutama ketika Teheran memandang Washington sebagai pihak yang kontradiktif dan tidak dapat dipercaya dalam memenuhi komitmennya.”

Ia menambahkan bahwa kembalinya situasi ke konfrontasi militer yang lebih luas akan memperkecil peluang tercapainya kesepakatan diplomatik, bukan sebaliknya.

“Dari sudut pandang Iran, tindakan-tindakan terbaru di bidang maritim sudah ditafsirkan sebagai pelanggaran terhadap kerangka gencatan senjata.”

Menurutnya, sebagian pihak mungkin merasa kecewa atau tidak puas dengan posisi Iran. Namun jika tujuan utamanya adalah mencapai kesepakatan, maka akan lebih bijaksana apabila tokoh-tokoh seperti Ali Khamenei sebagai pengambil keputusan utama, dan Ali Larijani yang sebelumnya memainkan peran penting dalam menjembatani kesenjangan antara para pihak, tetap berada dalam proses dan arena pengambilan keputusan.

Ia kemudian mengajukan pertanyaan:

“Jika tujuan sebenarnya adalah menggulingkan sistem pemerintahan, lalu mengapa sejak awal melakukan perundingan dengan mereka?”

Citrinowicz menilai bahwa situasi saat ini merupakan hasil langsung dari ketidakpercayaan yang mendalam di kedua belah pihak, yang diperparah oleh meningkatnya keyakinan bahwa status quo saat ini tidak lagi dapat dipertahankan.

“Jika dalam waktu dekat tidak tercapai kesepakatan, maka eskalasi yang lebih besar sangat mungkin terjadi. Namun demikian, peningkatan ketegangan dengan sendirinya kecil kemungkinan akan menghasilkan konsesi yang berarti dari Iran.”

Ia menyimpulkan bahwa tidak ada operasi militer—baik yang terbatas maupun berskala besar, jangka pendek maupun jangka panjang—yang kemungkinan mampu memaksa Iran menerima kesepakatan berdasarkan syarat-syarat Amerika Serikat.

“Yang lebih mungkin terjadi adalah bahwa respons Iran justru akan semakin menjauhkan kedua pihak dari jalur diplomasi.”

Menurutnya, inilah realitas yang saat ini dihadapi pemerintah Amerika Serikat.

“Jika Presiden Trump benar-benar menginginkan tercapainya suatu kesepakatan, maka ia pada akhirnya harus bersedia berinteraksi dan berkompromi setidaknya dengan sebagian tuntutan utama Iran. Namun jika ia tidak bersedia melakukannya, maka ia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi konfrontasi jangka panjang, bukan solusi yang didasarkan pada negosiasi dan kesepakatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *