Purna Warta – Masalah mendasar dalam perseteruan antara Iran-AS setelah kegagalan Operasi Epic Fury adalah bahwa AS masih yakin telah menang dan mengharapkan pihak Iran untuk menyerah. Persepsi ini menyebabkan kebuntuan diplomatik. AS yang menginisiasi perang, lalu mengajukan gencatan senjata usai tak satu pun tujuannya tercapai dan mengalami kekalahan strategis justru mengklaim kemenangan dan melancarkan blokade laut.
Dinukil dari Israel Hayom, di Teheran, tidak ada tanda-tanda menyerah. Blokade laut AS mengganggu, tetapi Iran yang terbiasa dengan tekanan ekonomi berhasil beradaptasi dan menemukan jalan keluar. Pada tahap ini, tidak ada indikasi bahwa Iran bersedia menerima tuntutan pemerintahan AS.
Realitas ini meningkatkan frustrasi di Washington, mengingat harapan bahwa Iran akan menyerah dengan segera. Harapan itu didasarkan pada asumsi yang salah bahwa Iran memasuki negosiasi dari posisi lemah, setelah berbagai macam gempuran udara Israel dan AS yang menghantam berbagai lokasi strategis dan menewaskan tokoh-tokoh penting di Iran.
Namun, harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.
Iran tidak puas dengan keadaan bukan perang maupun damai saat ini. Teheran menginginkan hasil yang berbeda, yang mencakup jaminan keamanan jangka panjang, kompensasi ekonomi, perginya kekuatan AS dari kawasan dan tuntutan-tuntutan lainnya.
Dengan situasi lapangan menunjukkan bahwa blokade laut tampak tidak terlalu berhasil, Trump harus memutuskan apakah akan mencabut blokade dan menyerah di hadapan Iran menghindari eskalasi; atau meningkatkan eskalasi dengan memulai kembali perang. Keduanya akan memberikan kerugian yang tidak sedikit terhadap AS baik secara ekonomi, politik maupun pengaruh.
Pada akhirnya, semuanya bermuara pada satu poin dasar: Iran yang ada di posisi kuat memiliki tuntutan dalam mengakhiri perang dan AS sebagai kekuatan arogan utama dunia tak sudi untuk mengumumkan kegagalan perang. Kedua belah pihak mengaku berada di atas angin, hanya saja yang satu benar-benar demikian dan satunya hanya sebatas klaim yang terus diulang sejak Perang Vietnam, Perang Irak, Perang Afghanistan dan lainnya.


