Moskow, Purna Warta – Kementerian Luar Negeri Rusia melayangkan protes resmi kepada Kuasa Usaha Inggris di Moskow Danae Dholakia pada Kamis, menyusul informasi bahwa salah satu staf Kedutaan Besar Inggris memiliki afiliasi dengan badan intelijen Inggris.
Dinas Keamanan Federal Rusia FSB menyatakan telah mengidentifikasi seorang perwira intelijen Inggris yang tidak dideklarasikan, yang beroperasi di Moskow dengan kedok jabatan sekretaris di Kedutaan Inggris. Menindaklanjuti temuan tersebut, Kementerian Luar Negeri Rusia memanggil Dholakia untuk menyampaikan nota protes resmi.
Menurut koresponden RIA Novosti, Dholakia tiba di gedung kementerian sekitar pukul 10.00 waktu setempat dan meninggalkan lokasi sekitar 15 menit kemudian, di tengah kehadiran sekelompok demonstran muda yang menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan Inggris.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam keberadaan personel intelijen asing yang tidak dideklarasikan dan menegaskan bahwa Moskow tidak akan menoleransi aktivitas semacam itu. Pemerintah Rusia juga memperingatkan bahwa jika London meningkatkan eskalasi, Moskow akan memberikan “respons balasan yang tegas dan setara” demi kepentingan keamanan nasional.
FSB menyatakan akreditasi staf tersebut telah dicabut dan yang bersangkutan diperintahkan meninggalkan wilayah Rusia dalam waktu dua minggu.
Pola Pengusiran Diplomat Terkait Spionase
Insiden terbaru ini terjadi di tengah rangkaian panjang pengusiran diplomat Inggris yang dituduh terlibat dalam kegiatan intelijen. Pada Maret 2025, FSB mengumumkan pengusiran dua individu yang terkait dengan Kedutaan Inggris di Moskow, dengan tuduhan spionase dan aktivitas yang mengancam keamanan nasional Rusia.
Kedua individu tersebut adalah Alkesh Odedra, yang menjabat sebagai sekretaris kedua kedutaan, serta Michael Skinner, suami dari Tabasum Rashid, sekretaris pertama di departemen politik kedutaan. Menurut FSB, keduanya memberikan informasi yang tidak akurat saat mengajukan izin masuk ke Rusia, sehingga melanggar hukum setempat.
FSB mengklaim memiliki bukti bahwa Odedra dan Skinner terlibat dalam operasi intelijen serta aktivitas subversif yang membahayakan keamanan Federasi Rusia. Badan tersebut juga secara konsisten menuduh intelijen Inggris mendukung operasi sabotase Ukraina dan upaya pembunuhan terhadap pejabat Rusia.
Tuduhan Berulang terhadap Inggris
Pada September 2024, Rusia juga mengusir enam staf departemen politik Kedutaan Inggris dengan alasan pengumpulan intelijen dan kegiatan yang ditujukan untuk merongrong stabilitas negara. Saat itu, FSB menyatakan telah memperoleh dokumen yang mengaitkan pemerintah Inggris dengan upaya meningkatkan ketegangan militer, serta menunjuk Direktorat Eropa Timur dan Asia Tengah di Kementerian Luar Negeri Inggris sebagai pusat koordinasi kegiatan tersebut.
Kasus serupa kembali mencuat pada November 2024, ketika FSB menuduh Edward Pryor Wilkes, sekretaris kedua di departemen politik Kedutaan Inggris, melakukan aktivitas intelijen dan subversif. Otoritas Rusia menyatakan Wilkes juga memberikan keterangan menyesatkan dalam proses permohonan masuk ke Rusia.
Serangkaian insiden ini mencerminkan memburuknya hubungan diplomatik antara Rusia dan Inggris, dengan isu spionase dan keamanan nasional terus menjadi sumber ketegangan utama di antara kedua negara.


