New, York, Purna Warta – Rachel Accurso, atau lebih dikenal sebagai Ms. Rachel, sosok edukator anak yang dicintai jutaan keluarga di seluruh dunia, menyatakan kesiapannya untuk mengorbankan karier demi membela anak-anak Gaza. Dalam wawancara bersama NPR’s Here and Now pada Selasa, ia menegaskan:
“Saya bukan Ms. Rachel jika saya tidak benar-benar peduli pada semua anak… Saya akan mempertaruhkan segalanya, dan saya akan terus mempertaruhkan karier saya untuk membela mereka.”
Dari YouTube ke Aksi Kemanusiaan
Ms. Rachel dikenal melalui konten edukatifnya di YouTube, dengan lebih dari 15 juta pelanggan. Gaya khasnya—overall, ikat kepala merah muda, dan nada lembut—telah menjadi bagian penting dalam pendidikan dini anak-anak. Ia juga memiliki serial di Netflix dalam 33 bahasa dan lini produk anak-anak yang sukses.
Baca Juga : Tokoh Evangelis Pro-Israel Pimpin Yayasan Bantuan Gaza di Tengah Kontroversi
Namun sejak Mei 2024, ia menggunakan platformnya untuk mengadvokasi anak-anak terdampak perang, termasuk di Gaza. Salah satu momen paling menyentuh adalah saat ia menyanyikan lagu Hop Little Bunnies bersama Rahaf, gadis Gaza berusia 3 tahun yang kehilangan kedua kakinya akibat serangan udara Israel — video ini menggugah emosi dunia dan memperkuat pesannya.
Dikecam Kelompok Pro-Israel, Tapi Tetap Teguh
Pasca aksi kemanusiaannya, Ms. Rachel menjadi sasaran kelompok pro-Israel StopAntisemitism, yang menuduhnya menyebarkan “propaganda pro-Hamas” dan bahkan mendesak investigasi hukum oleh Jaksa Agung AS terkait apakah ia menerima imbalan atas dukungannya.
Namun, kepada NPR, Ms. Rachel mengungkapkan beban emosional yang ia hadapi:
“Ini sangat menyakitkan. Saya harus mengingatkan diri sendiri bahwa orang tidak mengenal hati saya. Mereka mencoba mendikte siapa diri kita, tapi kita tahu siapa kita sebenarnya. Saya tahu seberapa dalam dan setara saya peduli pada semua anak.”
Pesan Kasih, Kesetaraan, dan Empati
Pada hari yang sama, ia membagikan pernyataan menyentuh di media sosial:
“Saya menentang semua bentuk kebencian dan kekerasan: antisemitisme, kebencian terhadap Palestina, Arab, Muslim, dan segala bentuk kebencian yang memecah dan melukai kita.”
Baca Juga : Netanyahu Pertimbangkan Pecat Edelstein di Tengah Sengketa RUU Wajib Militer Haredi
Ia menegaskan pentingnya mengajarkan empati dan nilai kemanusiaan kepada anak-anak:
“Ketika kita membenci, menyangkal hak asasi, dan saling menyerang, kita semua menderita. Tapi ketika kita mencintai dan menunjukkan kasih sayang, kita semua bangkit bersama.”
Situasi Gaza Memburuk, Dunia Soroti Israel
Sementara itu, situasi di Gaza terus memburuk. PBB memperingatkan risiko kelaparan massal di seluruh Gaza, dan menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak 18 Maret, tercatat 4.149 kematian baru, menjadikan total korban tewas akibat perang Israel melebihi 53.000 orang, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.


