Guardian: Israel Adalah Ancaman Keamanan Utama di Kawasan

Netanyahu Bahaya

London, Purna Warta – The Guardian dalam artikel terbarunya menulis: “Ini bukan pertama kalinya Israel melakukan serangan agresif bersamaan dengan berlangsungnya perundingan dan upaya diplomatik. Dalam dua tahun terakhir, Israel telah melakukan aksi teror besar dan berbagai serangan — di Lebanon terhadap Hizbullah, di Suriah terhadap pemerintahan baru yang dipimpin Mohammad Jolani, di Yaman terhadap gerakan Houthi, dan bahkan terhadap Iran dalam perang 12 hari pada bulan Juni, saat Teheran sedang bernegosiasi dengan Washington.”

Baca juga: Krisis Kesehatan Gaza Menjangkiti Tentara Israel: Penyakit Kulit Merebak di Kalangan Pasukan Pendudukan

Guardian menambahkan, serangan Israel ke Qatar dengan dalih menargetkan para pemimpin Hamas tidak hanya memicu gelombang kecaman internasional dan pernyataan resmi keras, tetapi juga menyalakan alarm bahaya mengenai ambisi ekspansionis rezim Tel Aviv di kawasan Asia Barat.

Media Inggris itu menekankan bahwa Israel kini telah berubah menjadi ancaman keamanan nomor satu di kawasan. Pembunuhan negosiator Hamas di Doha oleh Israel telah melewati “garis merah” yang bahkan sekutu Arab terdekatnya pun tak bisa abaikan. Selama ini, Tel Aviv selalu membenarkan serangan pendahuluan lintas-batas sebagai upaya menjaga keamanannya.

Dalam dua tahun terakhir, Israel telah menyerang enam negara kawasan pasca peristiwa 7 Oktober 2023, dengan alasan menyingkirkan ancaman terhadap keamanan nasionalnya. Namun, penargetan ibu kota Qatar — sebuah kerajaan kaya di Teluk Persia, mitra keamanan sekaligus sekutu non-NATO AS, serta lokasi negosiasi sensitif antara Israel dan Hamas — bukan sekadar operasi pembunuhan lain. Peristiwa ini menandai sebuah perubahan mendasar: negara-negara Arab kini mulai menyebut Israel, bukan Iran, sebagai faktor utama ketidakstabilan kawasan.

Guardian menilai, serangan Israel kerap diatur waktunya untuk menggagalkan perundingan atau menunjukkan bahwa Tel Aviv enggan memisahkan diplomasi dari kekerasan dan pemaksaan. Serangan ke Doha masuk dalam pola ini, namun memiliki dampak jangka panjang yang lebih luas.

Harian itu menulis bahwa insiden tersebut merupakan serangan kedua dalam beberapa bulan terakhir, kali ini dilakukan oleh salah satu sekutu terdekat Amerika Serikat. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas dukungan Washington.

Artikel itu juga menekankan bahwa kelambanan AS memperkuat kesan bahwa baik pemerintahan Joe Biden maupun Donald Trump sama-sama enggan mengekang agresi militer Israel. Serangan ke Qatar memaksa para pemimpin Teluk menghadapi kenyataan bahwa Washington tidak mau atau tidak mampu mengendalikan sekutu terdekatnya.

Baca juga: Pengadilan Israel Klaim Seorang Yahudi Ortodoks Bekerja Sama dengan Intelijen Iran Selama Perang

Guardian memperingatkan bahwa akibat dari situasi ini adalah terkikisnya rasa jaminan keamanan, sebab perjanjian Abraham dan rencana normalisasi hubungan yang digadang-gadang untuk mengelola keamanan kawasan kini terbukti tidak efektif. Selama krisis Gaza masih berlanjut, rencana semacam itu praktis tidak dapat dijalankan.

Harian Inggris itu menutup laporannya dengan menegaskan bahwa para penguasa Teluk kini semakin serius mencari kemandirian strategis, serta bertekad mengurangi risiko ketergantungan pada Amerika Serikat. Serangan ke Doha pada akhirnya bisa menjadi titik balik historis: sebuah momen yang meneguhkan bahwa tatanan tradisional kawasan tengah runtuh, sementara kedaulatan negara-negara Arab sekutu AS terlalu sering dikorbankan atas nama “keamanan”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *