Purna Warta – Harga minyak mencatat kenaikan tipis dalam perdagangan di pasar Asia, didorong oleh data pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan di China. Data ini meningkatkan optimisme terhadap permintaan dari negara yang merupakan importir minyak terbesar di dunia.
Meski demikian, pasar minyak masih berada di bawah tekanan setelah mengalami kerugian tajam sepanjang pekan ini. Hal ini dipengaruhi oleh ekspektasi meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serta kemungkinan dimulainya kembali pembicaraan gencatan senjata, yang membatasi kenaikan harga lebih lanjut.
Menurut laporan Bloomberg, kontrak minyak mentah Brent naik sekitar 0,1 persen menjadi 95,06 dolar per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) relatif stabil di kisaran 88,06 dolar per barel.
Data menunjukkan bahwa ekonomi China tumbuh melampaui ekspektasi pada kuartal pertama 2026, didukung oleh kuatnya permintaan ekspor serta perbaikan relatif dalam konsumsi domestik setelah beberapa tahun melemah. Kondisi ini memperkuat prospek peningkatan permintaan energi global.
Namun, harga minyak tetap mengalami tekanan karena faktor geopolitik. Upaya pejabat AS untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai dengan Iran—meskipun belum menghasilkan kesepakatan konkret—memberikan harapan pasar terhadap stabilitas pasokan energi, sehingga menahan lonjakan harga.
Selain itu, peringatan dari International Energy Agency dan OPEC mengenai potensi melemahnya permintaan akibat ketidakpastian global turut menambah tekanan pada pasar.
Kenaikan harga minyak ini terjadi di tengah dinamika global yang kompleks, khususnya terkait konflik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk ancaman terhadap jalur strategis seperti Selat Hormuz, terus menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar energi dunia.
Di sisi lain, negara-negara konsumen besar di Asia mulai mencari alternatif pasokan dan memperkuat cadangan energi untuk mengantisipasi gangguan distribusi. Beberapa analis juga memperingatkan bahwa jika konflik kembali meningkat atau jalur distribusi terganggu, harga minyak dapat kembali melonjak secara signifikan.
Dengan kombinasi faktor ekonomi dan geopolitik, pasar minyak global diperkirakan akan tetap bergejolak dalam waktu dekat, dengan sensitivitas tinggi terhadap perkembangan diplomasi dan situasi keamanan di kawasan penghasil energi utama.


