Beijing, Purna Warta – China menyatakan kesediaannya untuk mempercepat proses persetujuan ekspor mineral langka ke Uni Eropa (UE), sebagai upaya meredakan ketegangan dagang yang terus meningkat antara kedua belah pihak. Langkah ini diumumkan setelah China sempat menangguhkan sebagian ekspor mineral langka pada bulan April, yang memicu kekhawatiran di Eropa terkait pasokan bahan penting bagi industri teknologi tinggi dan energi ramah lingkungan.
Baca Juga : Kapal Perang Korea Utara Terbalik, Balon Raksasa Jadi Alat Penyelamat
Juru bicara Kementerian Perdagangan China menyebut pihaknya akan membuka “jalur hijau” bagi pengajuan izin ekspor yang memenuhi syarat. Jalur ini bertujuan mempercepat persetujuan dan mempermudah akses UE terhadap bahan-bahan strategis tersebut.
Dialog Dagang di Tengah Persaingan Teknologi
Pernyataan ini muncul setelah pertemuan di Paris antara Menteri Perdagangan China Wang Wentao dan Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi UE, Maros Sefcovic. Keduanya membahas sejumlah isu sensitif, mulai dari pembatasan ekspor mineral, kendaraan listrik asal China, hingga ekspor brandy dari Eropa.
Wang menyerukan kerja sama yang lebih erat dan berharap UE juga bersedia mengambil langkah nyata demi perdagangan yang adil dan saling menguntungkan. China juga mengungkap bahwa pihaknya sedang mengkaji usulan teknis baru dari UE demi menstabilkan hubungan dagang yang kini makin kompetitif, terutama di sektor kendaraan listrik dan semikonduktor.
Baca Juga : Ibukota Afghanistan Terancam Kehabisan Air Total pada 2030
Kasus Brandy dan Mobil Listrik Masih Jadi Sorotan
Selain mineral langka, China juga menyoroti penyelidikan anti-dumping terhadap produk brandy asal Eropa yang dimulai awal tahun ini. Produsen besar seperti Hennessy dan Martell telah mengajukan proposal harga, dan keputusan final dari otoritas China diperkirakan akan diumumkan sebelum 5 Juli.
Di sisi lain, UE tengah menyelidiki subsidi pemerintah China terhadap kendaraan listrik, yang telah menyebabkan pengenaan tarif sementara. Walaupun belum semua masalah terselesaikan, kedua pihak dikabarkan sedang merampungkan pembahasan terkait harga minimum sebagai solusi non-tarif.
Jalan Panjang Membangun Kepercayaan
Meski ada sinyal positif dari Beijing, pelaku industri di Eropa masih mengeluhkan lambatnya proses perizinan dan kurangnya transparansi dari pihak China. Di tengah persaingan global dan ketegangan geopolitik, baik UE maupun China menghadapi tekanan besar untuk menjaga stabilitas rantai pasok mineral penting.
Baca Juga : Thailand dan Kamboja Sepakat Tarik Mundur Pasukan ke Posisi Tahun 2024
Langkah China ini bisa menjadi titik awal dialog baru, namun masih banyak hal yang harus dinegosiasikan jika kedua kekuatan ekonomi ini ingin menghindari konflik dagang yang lebih luas.


