Araqchi: Iran dan Jepang Dapat Memimpin Gerakan Global Hapus Senjata Pemusnah Massal

Teheran, Purna Warta – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengusulkan agar Iran dan Jepang dapat memimpin gerakan global untuk menghapuskan senjata pemusnah massal.

Dalam sebuah artikel yang disumbangkan kepada surat kabar Jepang Asahi Shimbun menjelang peringatan 80 tahun pengeboman atom Hiroshima dan Nagasaki, Araqchi mengatakan bahwa Iran, yang diserang dengan senjata kimia selama perang yang dipaksakan oleh Irak pada tahun 1980-an, mengalami penderitaan yang sama dengan Jepang.

Baca juga: Iran Nyatakan Kemampuan Pengayaan Uraniumnya Masih Utuh, Peringatkan AS terhadap Agresi Militer

Ia juga menyerukan agar kedua negara “memimpin gerakan global” untuk menghapuskan senjata pemusnah massal, termasuk senjata nuklir dan kimia.

Berikut teks artikelnya:

Warisan Penderitaan Bersama: Mengapa Iran dan Jepang Harus Bergandengan Tangan untuk Mengakhiri Senjata Pemusnah Massal?

Saat Jepang bersiap memperingati 80 tahun pengeboman atom Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus, dunia akan berhenti sejenak untuk merenungkan salah satu babak tergelap dalam sejarah manusia.

Dua hari di tahun 1945 itu tak hanya menjadi bukti kekuatan dahsyat senjata nuklir, tetapi juga meninggalkan luka permanen di hati nurani umat manusia.

Kehancuran yang ditimbulkannya—lebih dari 210.000 nyawa melayang dan generasi-generasi diwarnai penderitaan—tetap menjadi pengingat yang menyadarkan akan biaya perang bagi manusia dan perlunya menolak Senjata Pemusnah Massal (WMD) dalam segala bentuknya.

Bagi Hibakusha, rasa sakit tidak berakhir ketika bom jatuh. Kengerian itu terus menghantui mereka selama beberapa dekade dalam bentuk kanker dan penyakit lain yang terkait radiasi. Banyak penyintas menanggung luka fisik dan psikologis yang tak kunjung sembuh oleh waktu. Mereka telah menjalani hidup mereka di bawah bayang-bayang ledakan nuklir tersebut, mengubah trauma mereka menjadi perjuangan tanpa henti untuk perdamaian dan pelucutan senjata.

Karena alasan inilah, pernyataan Presiden AS Donald Trump pada KTT NATO baru-baru ini di Den Haag menimbulkan keterkejutan dan kemarahan yang begitu besar. Dalam perbandingan yang meresahkan, ia menyamakan pengeboman ilegal AS terhadap fasilitas nuklir Iran yang damai dengan serangan atom di Hiroshima dan Nagasaki. Pernyataan itu lebih dari sekadar kesalahan sejarah; pernyataan itu merupakan penghinaan mendalam terhadap kenangan para korban tewas dan martabat mereka yang masih hidup dengan konsekuensi pengeboman tersebut.

Tanggapan Jepang cepat dan tegas. Wali Kota Hiroshima dan Nagasaki, serta Nihon Hidankyo (Konfederasi Organisasi Korban Bom Atom dan Hidrogen Jepang) peraih Hadiah Nobel Perdamaian, mengecam komentar tersebut karena dianggap meremehkan tragedi kemanusiaan. Rekan saya yang terhormat, Menteri Luar Negeri Takeshi Iwaya, menekankan bahwa identitas nasional Jepang telah dibentuk oleh komitmen untuk tidak pernah membiarkan kengerian seperti itu terulang kembali. Mengatakan bahwa pengeboman atom merupakan titik perbandingan—atau lebih buruk lagi, pembenaran—untuk agresi militer di masa mendatang adalah hal yang berbahaya dan sangat ofensif.

Baca juga: Presiden Iran Desak Kerja Sama Umat Muslim dalam Kunjungan ke Pakistan

Kemarahan bergema hingga ke luar Jepang. Di Iran, perbandingan itu disambut dengan kepedihan dan amarah yang mendalam. Bagi sebuah negara yang telah menderita akibat senjata pemusnah massal (WMD) dalam sejarah modernnya sendiri, gema Hiroshima dan Nagasaki terasa begitu familiar.

Pada tahun 1987, kota Sardasht di Iran menjadi sasaran pesawat tempur Irak yang dipersenjatai dengan gas mustard dan sarin—senjata kimia yang dilarang berdasarkan hukum internasional. Warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, menjadi korban utama. Lebih dari 130 orang tewas seketika; ribuan lainnya mengalami cacat permanen.

Hingga saat ini, sekitar 100.000 warga Iran hidup dengan efek senjata kimia yang berkepanjangan: gagal napas, luka bakar parah, kebutaan, nyeri kronis, dan PTSD. Para penyintas ini—Hibakusha Iran—adalah cerminan dari korban WMD di Jepang sendiri. Namun, penderitaan mereka sebagian besar diabaikan oleh komunitas global. Tidak ada pengadilan internasional yang menegakkan keadilan. Tidak ada kekuatan dunia yang mengaku bertanggung jawab.

Keheningan ini bukanlah suatu kebetulan. Dokumen-dokumen AS yang telah dideklasifikasi telah mengonfirmasi bahwa Washington memberikan intelijen satelit kepada Saddam Hussein selama perang yang menghancurkan melawan Iran, sepenuhnya menyadari bahwa ia menggunakan senjata kimia terhadap rakyat dan pasukan kita. Lebih buruk lagi, para diplomat Amerika bekerja tanpa lelah di Dewan Keamanan PBB untuk melindungi Irak dari kecaman. Prekursor kimia yang digunakan dalam senjata Saddam ditelusuri kembali ke pemasok Barat, termasuk perusahaan-perusahaan di Jerman Barat. Keterlibatan dalam kejahatan ini merupakan noda di hati nurani Barat, yang kini juga dihancurkan di bawah beban standar ganda karena genosida Israel di Gaza diabaikan atau ditutup-tutupi.

Mengingat warisan penderitaan yang saling terkait ini, rakyat Iran dan Jepang memiliki otoritas moral yang unik dan kuat. Hanya sedikit negara yang memahami, sedalam kita, dampak WMD yang tak terelakkan. Dan dari tempat penderitaan bersama inilah kita harus menyuarakan suara kolektif kita untuk mengatakan: jangan pernah lagi.

Sudah saatnya untuk aliansi baru—yang dibangun bukan atas pakta militer, melainkan atas prinsip-prinsip moral. Jepang dan Iran harus memimpin gerakan global untuk penghapusan total semua WMD: nuklir, kimia, dan biologi. Ini bukan hanya tentang keadilan untuk masa lalu. Ini adalah ikrar untuk melindungi masa depan.

Masyarakat sipil Jepang telah lama berada di garda terdepan dalam perjuangan ini. Setelah komentar Presiden Trump, LSM yang menentang senjata atom dan kelompok penyintas segera bergerak. Kampanye Jepang untuk Menghapuskan Senjata Nuklir mengecam perbandingan tersebut dan memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir—betapa pun “bedahnya”—berisiko melepaskan bahan radioaktif dengan konsekuensi yang dahsyat. Tujuh organisasi penyintas yang berbasis di Hiroshima mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam tindakan militer sepihak AS terhadap fasilitas nuklir Iran sebagai pelanggaran Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), memperingatkan bahwa perilaku tersebut melemahkan upaya pelucutan senjata global.

Suara-suara Iran menggemakan sentimen ini. Para penyintas dari Sardasht telah mengungkapkan rasa hormat dan solidaritas mereka yang mendalam kepada Hibakusha Jepang. Mereka memahami, dengan cara yang mungkin tidak dipahami orang lain, beban bertahan hidup dari hal yang tak terkatakan—dan kekuatan yang dibutuhkan untuk mengubah rasa sakit itu menjadi advokasi perdamaian.

Kedua negara tahu bahwa Senjata Pemusnah Massal tidak membedakan antara tentara dan warga sipil, dewasa dan anak-anak, masa kini dan masa depan. Senjata tersebut meracuni generasi. Senjata tersebut memusnahkan budaya, ingatan, dan identitas. Senjata tersebut meninggalkan bukan kemenangan, melainkan abu.

Menjelang peringatan 80 tahun, janganlah kita biarkan Hiroshima dan Nagasaki menjadi simbol abstrak masa lalu. Keduanya adalah peringatan untuk masa kini. Keduanya adalah permohonan dari mereka yang telah meninggal maupun yang masih hidup: lepaskan senjata dan singkirkan standar ganda sebelum terlambat.

Kita harus menghormati warisan ini tidak hanya dengan upacara tetapi juga dengan tindakan. Jepang dapat menggunakan platform globalnya untuk memimpin inisiatif baru yang menyerukan penghapusan total WMD. Iran, sebagai korban senjata kimia sekaligus penandatangan NPT, memiliki suara kritis untuk memperjuangkan hal ini. Bersama-sama, kita dapat mengingatkan dunia bahwa keadilan bukanlah tentang balas dendam—melainkan tentang pencegahan.

Biarkan kisah Hiroshima, Nagasaki, dan Sardasht membangkitkan kesadaran global. Biarkan kisah-kisah itu menjadi bukti bahwa umat manusia telah cukup menderita. Biarkan kisah-kisah itu mendorong kita untuk memilih perdamaian.

Kita berutang kepada mereka yang telah meninggal. Kita berutang kepada mereka yang masih hidup. Namun yang terpenting, kita berutang kepada generasi-generasi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *