Washington, Purna Warta – Presiden AS Donald Trump mengancam akan membom Oman di tengah berlangsungnya pembicaraan antara Muscat dan Tehran mengenai Selat Hormuz.
Pada Senin, Trump menyampaikan ancaman tersebut ketika ditanya oleh Fox News mengenai perundingan paralel yang sedang berlangsung antara Iran dan Oman.
Trey Yingst, reporter Fox News, mengatakan: “Saya bertanya kepada presiden mengenai … pembicaraan paralel yang sedang berlangsung antara Iran dan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz.”
Trump menjawab: “Jika Oman menghalangi, kami akan menghancurkan mereka habis-habisan dengan bom.”
Trump juga menuntut agar Iran “mengibarkan bendera putih tanda menyerah”, meskipun ia mengklaim bahwa dirinya tidak terburu-buru untuk mencapai kesepakatan apa pun.
Iran dan Oman, yang masing-masing berbatasan dengan Selat Hormuz di sebelah utara dan selatan, telah melakukan perundingan intensif selama hampir tiga bulan untuk membentuk jalur pelayaran yang aman.
Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi pada Senin bahwa kedua pihak telah mencapai kesepahaman mengenai pengaturan transit yang diusulkan dan sedang menyelesaikan rincian untuk sebuah deklarasi bersama. Perundingan tersebut menghormati hak-hak kedaulatan negara-negara pesisir dan bertujuan menjamin pelayaran yang aman sesuai dengan hukum internasional.
Ini bukan pertama kalinya Trump mengancam sekutu Arab Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia tersebut. Pada Mei lalu, ia memperingatkan bahwa Oman harus “bersikap baik” atau AS akan “meledakkan” negara tersebut.
Iran membatasi lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz setelah dimulainya agresi Amerika Serikat-Israel pada akhir Februari. Pada 17 Juni, presiden Iran dan Amerika Serikat menandatangani sebuah memorandum kesepahaman yang dimediasi Pakistan secara daring, yang bertujuan mengakhiri perang.
Pasal 5 dalam kesepahaman tersebut memberikan tanggung jawab kepada Iran untuk membuka kembali dan mengelola selat tersebut, termasuk melakukan dialog dengan Oman mengenai pengelolaan dan layanan maritim di masa mendatang, dengan tetap menghormati hak-hak kedaulatan negara-negara pesisir.
Namun, langkah-langkah AS berikutnya, termasuk pembentukan koridor yang tidak aman di dekat perairan Oman dan kembali dilakukannya serangan udara, telah melanggar komitmen tersebut dan memaksa Iran kembali memberlakukan pembatasan.
Tehran secara konsisten menegaskan bahwa setiap pelonggaran pembatasan terhadap jalur perairan tersebut bergantung pada perubahan nyata dalam tindakan Amerika Serikat serta penghapusan sepenuhnya ancaman terhadap keamanan kawasan.


