Washington, Purna Warta – Di kantor Senat Amerika Serikat, polisi telah menangkap beberapa anggota kelompok Doctors Against Genocide (Dokter-Dokter Anti Genosida).
Kelompok tenaga medis pro-Palestina ini berencana menggelar konferensi pers untuk menyoroti penolakan Israel terhadap perawatan medis bagi warga Gaza yang dibombardir secara membabi buta, dilanda kelaparan, dan dikepung secara brutal.
Penangkapan ini bukan hal mengejutkan, karena suara-suara pro-Palestina di AS secara sistematis menjadi target—dilecehkan, dituntut secara hukum, bahkan dideportasi—dalam iklim diskriminasi yang disponsori negara dan tak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
“Dan kami akan terus melakukannya. Kami akan terus turun sampai ada perubahan yang nyata,” kata Phil Brewer dari Doctors Against Genocide.
“Tapi hal lain yang kami lakukan di sini adalah kami masuk ke kantor-kantor mereka, bertemu dengan senator, anggota dewan, dan staf mereka—dan kami menantang mereka secara langsung.”
Sejak dimulainya upaya genosida di Gaza, Israel telah melarang jurnalis asing masuk, menjadikan tenaga medis sebagai sumber utama laporan langsung dari lapangan tentang kondisi yang mengerikan.
“Situasi di Gaza sangat memprihatinkan, bukan hanya karena runtuhnya sektor kesehatan secara umum, tetapi juga karena kelaparan massal yang sejak 2 Maret makin menjadi. Bahkan sebelumnya, warga sudah menghadapi masalah kekurangan gizi,” ujar Maysa Hawwash dari Doctors Against Genocide.
“Sekarang lebih dari 90% populasi mengalami krisis ketahanan pangan. Bisa dibayangkan betapa hancurnya kondisi di sana. Itu benar-benar bencana,” lanjutnya.
“Para dokter ini bekerja di rumah sakit yang terus-menerus diserang, beberapa bahkan berada di tempat saat serangan terjadi. Ini benar-benar serangan tanpa henti terhadap sektor kesehatan.”
Satu bulan setelah serangan brutal dimulai, media arus utama Barat sempat menolak percaya bahwa Israel akan melanggar hukum internasional dan menyerang Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza.
Kini, 18 bulan kemudian, Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) melaporkan bahwa setidaknya 94% rumah sakit di Gaza telah rusak atau hancur, dan warga Gaza utara sama sekali tidak memiliki rumah sakit berfungsi untuk menerima perawatan medis.
“Ini adalah bagian dari strategi untuk menghancurkan masyarakat Palestina. Apa pilar dari setiap masyarakat? Pendidikan, pangan, tempat tinggal, dan perawatan kesehatan. Mereka telah menghancurkan semua universitas di Gaza—jumlahnya 12. Dan mereka merekamnya. Mereka juga secara efektif menghancurkan hampir semua rumah sakit,”
jelas Phil Brewer.


