Havana, Purna Warta – Presiden Miguel Díaz-Canel menyatakan bahwa negaranya siap menghadapi kemungkinan serangan dari Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan pada Kamis dalam pidato di hadapan ribuan warga di Havana, bertepatan dengan peringatan 65 tahun kegagalan invasi AS dalam peristiwa Invasi Teluk Babi.
Díaz-Canel menegaskan bahwa Kuba tidak menginginkan konfrontasi, namun memiliki kewajiban untuk bersiap mencegahnya. Ia menambahkan, jika konflik tidak dapat dihindari, Kuba siap untuk menghadapinya dan meraih kemenangan.
Menurut laporan Agence France-Presse, Kuba berada dalam status siaga setelah peringatan berulang dari Donald Trump yang menyebut negara tersebut sebagai “target berikutnya”. Meskipun Washington dan Havana telah melakukan pembicaraan untuk meredakan ketegangan, tidak ada kemajuan signifikan dalam hubungan kedua negara yang telah lama bermusuhan.
Díaz-Canel juga menolak narasi Amerika yang menggambarkan Kuba sebagai “negara gagal”. Ia menegaskan bahwa Kuba bukan negara yang runtuh, melainkan negara yang berada di bawah tekanan embargo. Ia menambahkan bahwa kesulitan ekonomi yang dialami Kuba terutama disebabkan oleh sanksi perdagangan AS yang telah berlangsung sejak era Raúl Castro.
Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, Trump memperketat kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Kuba. Pada Maret 2025, Washington memberlakukan sanksi baru dan melarang warga Amerika bepergian ke Kuba. Bahkan pada Februari 2026, Trump tidak menutup kemungkinan opsi serangan militer terhadap negara Karibia tersebut.
Ketegangan antara Kuba dan Amerika Serikat mencerminkan pola konflik geopolitik yang lebih luas dalam beberapa waktu terakhir. Selain Kuba, Washington juga menghadapi ketegangan serius dengan Iran, di mana ancaman militer dan sanksi ekonomi terus meningkat meskipun upaya diplomasi masih berlangsung.
Di kawasan Amerika Latin, sejumlah negara seperti Venezuela dan Nikaragua juga menyatakan kekhawatiran terhadap meningkatnya tekanan politik dan ekonomi dari AS. Pemerintah negara-negara tersebut menilai kebijakan luar negeri Washington cenderung mengarah pada intervensi dan eskalasi konflik.
Di sisi lain, para analis menilai bahwa kebijakan konfrontatif AS terhadap beberapa negara sekaligus berisiko memperluas ketegangan global, terutama di tengah situasi internasional yang sudah rapuh akibat konflik di Timur Tengah dan persaingan kekuatan besar dunia.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa dinamika hubungan internasional saat ini tidak hanya terbatas pada satu kawasan, tetapi saling terkait dan berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas jika tidak dikelola melalui jalur diplomasi.


