Usai Perang, Apapun Hasilnya Negara-Negara Teluk Akan Kehilangan Kekuatan

Perang

Purna WartaKonflik yang terjadi antara Israel dan Iran bukanlah eskalasi regional konvensional. Konflik ini mencerminkan penataan struktural ulang kekuatan di Timur Tengah. Hal ini terlihat dalam perluasan konflik ke ranah maritim, termasuk risiko eskalasi perang di sekitar Selat Hormuz dan integrasi infrastruktur Teluk yang semakin meningkat ke dalam teater operasional.

Konflik tersebut memperluas ruang pertempuran operasional di luar garis depan tradisional dan mengintegrasikan negara-negara Teluk ke dalam arsitektur eskalasinya. Asumsi bahwa kota-kota di Teluk dapat tetap terisolasi dari konflik regional menjadi semakin jauh dari kenyataan.

Pergeseran ini memiliki implikasi langsung. Pusat-pusat kota dan ekonomi bernilai tinggi seperti Dubai dan Abu Dhabi di UEA tidak lagi berada di pinggiran lingkungan konflik, kini mereka berada di dalamnya.

Argumen intinya sederhana: perang ini tidak membawa hasil bagi negara-negara Teluk Arab dalam skenario apa pun. Baik AS dan Israel berhasil membentuk tatanan politik mereka, Republik Islam Iran tetap bertahan ataupun Amerika Serikat akhirnya menarik diri, apapun itu posisi strategis negara-negara Teluk akan memburuk.

Prospek strategis Israel melebihi dari sekedar pembatasan kapasitas rudal dan nuklir Iran. Tujuan yang lebih dalam adalah konsolidasi supremasi militer di seluruh kawasan, suatu kondisi di mana Israel memegang kebebasan bertindak di berbagai medan perang.

Ini adalah ekspansionisme teritorial dan ideologis klasik. Ini juga merupakan ideologi dominasi AS yang ditampilkan secara nyata dalam bentuk: kemampuan untuk menentukan eskalasi, menetapkan garis merah dan meningkatkan kapasitas pencegahan yang semuanya dipasrahkan kepada Israel. Kebijakan ini memungkinkan penarikan AS dari Timur Tengah dan memulai pergeseran fokus strategis ke tempat lain seperti; Kuba, Greenland dan Pasifik.

Dalam struktur ini, Israel tak lagi berfungsi sebagai negara dalam arti kekuatan tradisional, melainkan berfungsi sebagai sentra keamanan dari sebuah sistem yang sudah diatur. Pergeseran tersebut memiliki implikasi mendalam bagi semua negara tetangga, khususnya negara-negara Teluk Arab yang secara struktural bergantung pada asumsi stabilitas.

Dimensi fatal dari perang saat ini adalah ekspektasi strategis AS. Kerangka awal Presiden Donald Trump tentang perseteruan dengan Iran mencerminkan asumsi “model Venezuela” dalam artian bahwa serangan cepat dan kuat dapat menggoyahkan struktur kepemimpinan, memaksa konsesi segera dan memungkinkan pengaturan ulang politik sesuai dengan kebijakan AS. Hal ini meliputi aksi cepat, kuat dan menentukan dalam rangka menghindari konflik berpanjangan.

Asumsi ini terbukti secara struktural tidak sesuai dengan situasi di Iran. Alih-alih penumpasan dan pengendalian yang cepat, perang menghasilkan eskalasi yang tersebar ke negara-negara Teluk Arab, serangan rudal dan drone berkelanjutan dan infrastrukutr pihak ketiga kian terpapar. Melesetnya kenyataan dari ekspektasi strategis ini memicu kecenderungan AS menuju penarikan strategis melalui transfer beban secara bertahap tanpa resolusi konflik.

Langkah-langkah terbaru AS harus dipahami sebagai sebuah tekanan bersifat temporal, bukan sebagai sebuah komitmen jangka panjang. AS mengerahkan angkatan laut untuk menegakkan blokade menyusul penegasan Tehran atas kendali Selat Hormuz. Langkah AS ini kendati terlihat sebagai penegasan kekuatan AS dan keterlibatannya yang lebih dalam terkait hal ini, namun langkah itu sebenarnya justru hanya sebagai instrumen pemaksa sementara demi menciptakan keseimbangan yang diinginkan dalam waktu cepat, bukan membangun kendali operasional dalam jangka panjang.

Iran mengumumkan pembukaan kembali selat untuk transit komersial dan memberi sinyal kembalinya negosiasi pada 17 April. Namun, setelah blokade AS berlanjut dan tidak ada tanda berhenti, Teheran kembali menutup akses ke selat Hormuz pada hari berikutnya. Washington tetap mempertahankan blokade meski ada penutupan kembali. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan AS saat ini bertujuan untuk memulihkan stabilitas yang diinginkan sekaligus mempertahankan daya tawar meskipun selat Hormuz masih berada di tangan Iran.

Gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran, yang dimediasi oleh Pakistan, diikuti oleh harapan akan adanya negosiasi ulang di wilayah Pakistan. Seandainya pembicaraan ini berkontribusi pada de-eskalasi atau bahkan penyelesaian formal, kemungkinan besar tidak akan membalikkan pergeseran strategis mendasar yang telah dimulai. Kerangka kerja apapun yang akan muncul usai berakhirnya konflik ini cenderung untuk memformalkan tatanan regional yang sudah dikonfigurasi ulang ketimbang menggantinya, apalagi mengembalikannya seperti semula.

Netralitas negara-negara Teluk tidak cukup. Dari perspektif Teheran, sekedar tidak mengizinkan serangan dari wilayah mereka tidak membuat mereka bersih secara politik dari upaya perang negara sekutu mereka. Iran sering menargetkan UEA karena Iran melihatnya sebagai negara Teluk yang paling bersekutu secara strategis dengan Israel. Normalisasi dan koordinasi keamanan mendalam menciptakan persepsi keterlibatan, meskipun UEA tidak secara langsung melancarkan perang.

Dari perspektif strategis, negara-negara Teluk Arab memiliki tiga kelemahan fatal: sentralisasi infrastruktur yang ekstrem (energi, desalinasi, pusat logistik), konsentrasi perkotaan yang sangat jelas dan relasi keamanan dengan Israel dan arsitektur keamanan regional AS.

Salah satu jalur eskalasi yang sangat berbahaya melibatkan serangan terhadap infrastruktur nuklir penting, termasuk fasilitas nuklir Bushehr di Iran. Serangan terhadap fasilitas tersebut dapat memicu tindakan balasan terhadap instalasi nuklir di Abu Dhabi, dengan risiko kebocoran radiasi yang dahsyat dan kontaminasi jangka panjang pada sistem air seluruh perairan Teluk.

Risiko ini diperparah oleh logika eskalasi di mana penargetan infrastruktur telah meluas melebihi tujuan militer ke sistem energi dan industri. Serangan AS dan Israel terhadap infrastruktur energi di Teheran secara luas digambarkan memiliki konsekuensi lingkungan yang parah, sementara serangan balasan terhadap fasilitas utama seperti kilang minyak Haifa dan infrastruktur energi di Ras Laffan, Qatar, menggarisbawahi betapa luasnya cakupan ekonomi dan lingkungan yang rawan dalam situasi perang.

Pada akhirnya, usai perang negara-negara Teluk akan makin bergantung pada jaminan keamanan Israel-AS dalam situasi kemenangan di pihak Israel-AS atau mereka akan berhadap-hadapan langsung dengan Iran, pemenang perang sekaligus negara yang selalu mereka khawatirkan pengaruhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *