Purna Warta – Pada 8 April, rezim Zionis melancarkan serangan mengerikan ke Beirut, menjatuhkan seratus bom di daerah pemukiman padat penduduk, menewaskan ratusan warga sipil dan melukai ribuan. Salah satu pembunuhan massal paling mengerikan di Lebanon sejak berakhirnya agresi Israel tahun 2024 terhadap negara itu.
Dengan bom yang terus berjatuhan bahkan ditengah negosiasi antara kedua negara, rezim Zionis bergerak cepat membangun kehadiran permanen di selatan negara itu.
Dalam menilai penundaan perang dengan Iran, upaya pencaplokan wiayah Lebanon tidak boleh dilupakan karena itu adalah ambisi besar rezim Zionis dalam mewujudkan “Israel Raya”.
Pada 23 Maret, Menteri Keuangan Tel Aviv, Bezalel Smotrich menjelaskan tujuan Israel dengan sangat gamblang. Ia mendesak rezim Zionis untuk secara resmi mencaplok Lebanon selatan. Sejak itu, lebih dari satu juta orang telah mengungsi, ribuan tewas dan infrastruktur sipil hancur.
Meskipun sebagian besar wilayah negara itu berhasil diduduki, kerugian Tel Aviv tetap sangat besar. Tembakan Hizbullah yang tak berhenti menyebabkan banyak korban jiwa dan kerugian peralatan serta kendaraan yang sangat besar.
Tel Aviv dilaporkan berencana untuk “mengurangi fokus saat ini pada Iran,” untuk mendukung “pasukan darat Israel yang berupaya merebut wilayah Lebanon.” Seandainya bukan karena serangan udara militer Israel, rezim Zionis saat ini akan berada dalam masalah besar.
Pada 5 April, kepala Komando Utara rezim Zionis mengakui bahwa Tel Aviv melebih-lebihkan kerusakan yang ditimbulkan terhadap Hizbullah selama invasi Oktober 2024 ke Lebanon. Para pemimpin politik dan militer Zionis mengklaim bahwa faksi Perlawanan telah hancur. rezim Zionis memperkirakan 70-80% kemampuan roket Hizbullah hancur selama perang 2024. Namun, khayalan ini hancur total oleh ratusan proyektil kelompok tersebut yang menyerang Tel Aviv setiap hari selama perang Zionis-Amerika melawan Iran.
Tidak heran jika konflik tersebut sekarang ditangguhkan. Hizbullah tetap menjadi musuh tangguh yang mampu menggagalkan aneksasi wilayah Lebanon oleh Tel Aviv dan mengusir pemukim Zionis dari Palestina utara. Hal ini mengacaukan ambisi “Israel Raya” yang secara terbuka diinginkan Benjamin Netanyahu sebagai warisan politiknya yang abadi. Oleh karena itu, Lebanon selatan harus dianeksasi dan Hizbullah harus dimusnahkan. Tetapi upaya tesebut sebagaimana sebelumnya akan selalu gagal.
Pada Juni 1982, militan Zionis menginvasi Lebanon, dengan dalih mengusir pejuang kemerdekaan Palestina. Namun dengan segera terungkap bahwa tujuan aksi tersebut adalah pembersihan etnis, pembantaian dan perampasan tanah. Seperti dalam catatan rahasia Dewan Intelijen Nasional AS Juli 1983, Zionis saat itu dan hingga kini menyerukan aneksasi total wilayah selatan Lebanon. Saat itu proyek ini berlanjut tanpa halangan, sampai akhirnya Hizbullah muncul dan mengusir mereka pada 2000.
Keberhasilan Hizbullah yang termasuk pemukulan mundur invasi Zionis pada tahun 2006 menginspirasi generasi baru pejuang Perlawanan, termasuk Hamas. Saat ini, faksi tersebut adalah kekuatan politik dan sosial yang paling populer dan berpengaruh di Lebanon. Jatuhnya Bashar Assad yang diasumsikan akan menyulitkan Iran dalam membantu Hizbullah ternyata tidak memiliki pengaruh signifikan. Kegagalan memahami kenyataan pahit ini telah membawa rezim Zionis ke dalam kehancuran.
Pada tanggal 27 Maret, kepala staf rezim Zionis, Eyal Zamir, mengeluarkan peringatan serius selama rapat kabinet keamanan. Yaitu, militer Israel akan runtuh dengan sendirinya karena tuntutan operasional yang meningkat dan kekurangan tenaga kerja yang parah.
Pada 3 April, rezim Zionis secara terbuka mengakui bahwa tujuan mereka untuk melucuti senjata Hizbullah itu tidak realistis. Karena untuk melakukan itu dibutuhkan invasi militer skala penuh ke Lebanon yang tidak mampu mereka lakukan. Dengan kata lain, Hizbullah tidak terkalahkan dan wilayah Lebanon tidak dapat direbut. Usai terlibat dalam perang multi-front sejak 7 Oktober 2023, entitas Zionis kelelahan dan tak memiliki kekuatan untuk mencapai tujuannya di Lebanon sambil menyerang Iran.
Israel telah begitu terdesak dan gagal dalam upaya memerangi Perlawanan, bahkan tanpa Ansarullah sekalipun, sehingga dilaporkan mempertimbangkan solusi putus asa. Yaitu, mengundang pemerintah ekstremis Suriah yang didukung MI6 untuk melawan Hizbullah. Rezim Ahmad al-Sharaa dipertahankan kekuasaannya secara eksklusif melalui aparat keamanan dan militer domestik. Media Israel Maariv melaporkan pada 5 April bahwa solusi baru ini sedang dipertimbangkan secara serius:
“Hanya dua pihak yang ingin melawan Hizbullah, yaitu; Israel dan rezim Suriah yang dipimpin oleh al-Sharaa. Menurut pejabat Israel, ini adalah kepentingan yang saling terkait, meskipun bukan aliansi dalam arti klasik. Menurut pandangan Israel, ini (rezim Suriah) adalah rezim yang membenci Hizbullah, melihatnya sebagai musuh dan mungkin akan menjadi rekan kepentingan di Lebanon…Kesepahaman antara Israel dan Suriah akan terbentuk.”
Di bawah naungan kesepahaman ini, militer Zionis akan mengambil alih Lebanon selatan, sementara Suriah akan bertindak di Lebanon utara melawan Hizbullah. Namun, skenario semacam ini kecil kemungkinannya akan terjadi. Kendati al-Sharaa dan pasukannya yang terdiri dari pejuang ISIS mungkin membenci Hizbullah, namun sebagian besar warga Suriah menolak aliansi dengan “Israel”, terlebih disaat unsur-unsur perlawanan mulai menguat di dalam.
Salah satu sumber utama ketidakpopuleran al-Sharaa di dalam negeri adalah upayanya yang tanpa henti dan hasratnya dalam menjalin hubungan baik dengan Tel Aviv. Pada Desember 2024 rezim Suriah dan rezim Zionis mencapai kesepakatan dan menandatangani mekanisme gabungan”. Melalui mekanisme ini, Suriah dan Israel akan berbagi informasi intelijen, dan menyelesaikan perselisihan lama dan baru secara damai.
Namun, selama kunjungan singkat al-Sharaa ke London pada akhir Maret, ia mengungkapkan bahwa meskipun ada dialog yang positif, rezim Zionis berubah pikiran pada menit terakhir dan normalisasi tidak terwujud. Alasan perubahan sikap mendadak ini tidak disebutkan. Pada September 2025, al-Sharaa memperingatkan bahwa negara-negara lain di Asia Barat dapat terpengaruh oleh ambisi gila Tel Aviv tentang “Israel Raya”. Sikap al-Sharaa ini bisa jadi merupakan salah satu alasan rezim Zionis merubah pikiran mereka dan membatalkan normalisasi dengan rezim Suriah.
Dengan Hizbullah yang konon telah dibubarkan dan Suriah akhirnya berubah menjadi negara boneka yang patuh, “Israel Raya” dapat dimajukan tanpa hambatan, setidaknya begitulah isi benak Netanyahu. Pada kenyataannya, “peluang besar” yang ia banggakan setelah jatuhnya Bashar al-Assad telah menjadi jebakan. Meskipun penghinaan al-Sharaa terhadap Hizbullah menciptakan peluang, akan tetapi mengandalkan Suriah untuk menangani kelompok tersebut pasti akan menjadi bumerang bagi kedua belah pihak.
Seperti yang ditunjukkan sejarah, rezim Zionis dan sekutu meremehkan Ansarullah, Hizbullah, Iran dan Kelompok Perlawanan.. Berulang kali selama beberapa dekade, strategi yang sama dan gagal terus diterapkan tanpa keberhasilan tanpa ada revisi. Kekalahan telak rezim di masa lalu oleh Perlawanan dinarasikan sebagai kemenangan atau segera dilupakan. Namun, di dunia nyata, mesin militer Zionis-Amerika terus melemah dan pembebasan Palestina semakin dekat.


