Setengah Abad Kesalahan Strategis: Apa yang Dibawa Pangkalan-Pangkalan AS ke Teluk Persia

Setengah abad

Purna Warta – Mungkin kenyataan paling penting sekaligus paling pahit bagi negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat adalah bahwa pangkalan-pangkalan tersebut tidak hanya gagal berfungsi sebagai alat pencegah serangan, tetapi justru berubah menjadi “magnet yang menarik serangan”.

Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat memperluas jaringan pangkalan militernya di negara-negara kawasan dengan dalih menjamin keamanan mereka. Namun, perang ketiga yang dipaksakan terhadap Iran menunjukkan bahwa keberadaan pangkalan-pangkalan tersebut tidak hanya gagal memberikan keamanan bagi negara-negara tuan rumah, tetapi juga menyebabkan wilayah mereka menjadi sasaran serangan. Oleh karena itu, negara-negara tetangga Iran perlu mempertimbangkan upaya menjaga keamanan mereka dan kawasan melalui pengeluaran pasukan Amerika dari wilayah mereka serta membangun inisiatif keamanan regional bersama Iran.

Kehadiran militer Amerika di Teluk Persia tidak terjadi dalam semalam. Kisah ini dimulai pada tahun 1971 ketika Inggris menarik diri dari kawasan timur Terusan Suez dan Angkatan Laut AS mulai hadir di Bahrain. Namun, titik balik utamanya terjadi setelah invasi Irak ke Kuwait pada tahun 1990. Setelah itu, Amerika Serikat menandatangani perjanjian pertahanan sepuluh tahun dengan Kuwait dan membangun pangkalan-pangkalan besar seperti Camp Arifjan. Secara bertahap, Washington memperluas jaringan pangkalannya di Qatar (Pangkalan Udara Al Udeid sebagai pangkalan terbesar di kawasan), Uni Emirat Arab (Pangkalan Udara Al Dhafra), Bahrain (Markas Armada Kelima), dan Arab Saudi (Pangkalan Udara Pangeran Sultan). Jaringan ini, yang menampung sekitar 40.000 hingga 50.000 personel militer, dibangun dengan janji memberikan “keamanan” bagi negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia.

Asuransi Keamanan yang Tidak Berhasil

Klaim pembelian keamanan telah menimbulkan biaya yang sangat besar bagi negara-negara tuan rumah. Menurut berbagai analisis, Amerika Serikat, dengan alasan memberikan perlindungan keamanan, telah membebankan biaya yang sangat tinggi kepada negara-negara tersebut. Namun, berdasarkan sejumlah laporan terdokumentasi, Amerika bahkan selama puluhan tahun kehadirannya tidak mampu mencegah serangan terhadap infrastruktur vital negara-negara tersebut.

Sebagai contoh, pada tahun 2019, fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi menjadi sasaran salah satu serangan drone paling kompleks dalam sejarah, yang untuk sementara melumpuhkan sekitar setengah produksi minyak negara itu. Puncak ketidakefektifan tersebut, menurut artikel ini, terlihat selama perang tahun 2026. Sebuah laporan Washington Post yang mengutip citra satelit mengungkapkan bahwa serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan menyebabkan kerusakan yang jauh lebih besar daripada yang sebelumnya dilaporkan. Ketidakmampuan tersebut disebut telah menimbulkan pertanyaan serius mengenai kredibilitas strategis Washington.

Dari Perisai Pertahanan Menjadi Magnet Serangan

Mungkin realitas paling penting dan paling pahit bagi negara-negara tuan rumah adalah bahwa pangkalan-pangkalan Amerika tidak hanya gagal berfungsi sebagai alat pencegah, tetapi justru berubah menjadi “magnet yang menarik serangan”.

Lembaga Middle East Institute dalam salah satu analisanya mengajukan pertanyaan mendasar: “Apakah pangkalan-pangkalan ini membawa keamanan bagi negara tuan rumah, atau justru menjadikan mereka sasaran serangan?”

Menurut artikel ini, jawabannya terlihat jelas selama perang tahun 2026, ketika Iran secara langsung menargetkan pangkalan-pangkalan Amerika yang berada di negara-negara tuan rumah. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa negara-negara tersebut telah membayar harga yang mahal karena menjadi tuan rumah bagi pasukan Amerika.

Pesan Tegas Teheran: Keamanan Tidak Bisa Diimpor

Di tengah perkembangan tersebut, pesan Iran kepada negara-negara kawasan disebut jelas dan tegas. Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Sayyid Mojtaba Khamenei, dalam pesan resmi pertamanya menyarankan kepada negara-negara tetangga:

“Saya menyarankan mereka untuk menutup pangkalan-pangkalan itu secepat mungkin, karena mereka pasti telah memahami bahwa klaim Amerika mengenai penciptaan keamanan dan perdamaian tidak lebih dari kebohongan.”

Menurut artikel tersebut, pernyataan itu sekaligus merupakan analisis atas kegagalan strategi “keamanan impor” dan ajakan untuk membangun arsitektur keamanan baru di kawasan.

Perubahan Pandangan: Peluang Baru untuk Kerja Sama

Kegagalan strategis ini bahkan memicu perdebatan di kalangan analis Barat mengenai kemungkinan penarikan pasukan Amerika dari kawasan.

Mark Kimmitt, mantan Wakil Asisten Menteri Pertahanan AS, dalam sebuah program televisi baru-baru ini menyinggung biaya dan konsekuensi dari kehadiran militer Amerika di Teluk Persia dan mengangkat kemungkinan penarikan pasukan dari kawasan tersebut.

Analis lain seperti Sultan Barakat, profesor di Universitas Hamad bin Khalifa di Qatar, juga berpendapat bahwa tujuan utama kehadiran militer Amerika di kawasan bukanlah menjaga keamanan negara-negara Arab, melainkan melindungi Israel dan mempertahankan pengaruh Washington.

Pada saat yang sama, menurut laporan yang dikutip artikel ini, beberapa negara kawasan juga mulai mempertimbangkan pendekatan baru. Arab Saudi dan Iran disebut sedang mengkaji sejumlah usulan untuk membentuk “pakta non-agresi regional”.

Rencana Baru: Menjadi Tuan Rumah Perdamaian, Bukan Perang

Berdasarkan pengalaman tersebut, artikel ini menyatakan bahwa sudah saatnya negara-negara kawasan membuka babak baru.

Langkah pertama yang dianggap penting adalah mengusulkan program penarikan pasukan Amerika dari kawasan. Menurut artikel tersebut, para pemimpin negara-negara Teluk dapat menjadikan langkah itu sebagai “fondasi perjanjian komprehensif dengan Iran”.

Penutupan pangkalan-pangkalan Amerika juga disebut dapat menjadi salah satu syarat utama Iran dalam tahap baru pengelolaan Selat Hormuz bersama negara-negara tetangganya.

Langkah kedua adalah membangun arsitektur keamanan regional yang bersifat lokal dan mandiri dengan partisipasi seluruh negara kawasan. Arsitektur tersebut, menurut penulis artikel, seharusnya didasarkan pada kepercayaan timbal balik dan kepentingan bersama, bukan pada ketergantungan terhadap kekuatan eksternal.

Artikel tersebut juga menegaskan bahwa dunia telah menyaksikan bagaimana Republik Islam Iran tetap bertahan meskipun menghadapi perang delapan tahun dengan Irak, puluhan tahun sanksi ekonomi yang berat, serta pembunuhan sejumlah pemimpin seniornya.

Sebaliknya, menurut pandangan yang disampaikan dalam artikel, negara-negara Arab di kawasan Teluk justru menanggung kerugian terbesar akibat perang-perang proksi dan serangan balasan yang terjadi selama beberapa dekade terakhir.

Sebagai penutup, artikel itu menyatakan bahwa pelajaran yang seharusnya dipetik selama puluhan tahun adalah bahwa keamanan tidak diperoleh dengan “membelinya” dari kekuatan yang berada ribuan kilometer jauhnya, melainkan melalui penerimaan terhadap tetangga dan pembangunan rumah bersama dengan mereka.

Menurut artikel tersebut, usulan penarikan pasukan Amerika dari kawasan sebagai imbalan bagi perjanjian keamanan komprehensif dengan Iran dapat menjadi fondasi bagi babak baru hubungan regional, dan para pemimpin negara-negara Teluk seharusnya mengambil inisiatif sendiri untuk mewujudkan keamanan yang berkelanjutan bagi rakyat mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *