Media Berbahasa Persia sebagai Instrumen Perang Psikologis Israel Melawan Iran

Semakin banyak bukti yang menegaskan bahwa beberapa “media” berbahasa Persia yang beroperasi di luar Iran—termasuk Iran International, BBC Persian, Radio Farda, Deutsche Welle Persian, dan Independent Persian—bertindak sebagai instrumen strategis perang psikologis Israel melawan rakyat Iran.

Baca juga: Menlu Iran Peringatkan Risiko Lingkungan yang Parah Akibat Serangan Israel dan AS

Jaringan media berbasa Persia ini, yang didanai secara langsung maupun tidak langsung oleh pemerintah Barat dan beberapa musuh regional, secara konsisten telah memajukan narasi yang sejalan dengan tujuan militer dan politik Israel terhadap Republik Islam dan kawasan yang lebih luas.

Peran mereka dalam membentuk persepsi publik, merusak persatuan nasional, dan mempromosikan wacana yang berpihak pada asing bukan lagi sekadar spekulasi, melainkan kampanye perang lunak yang terdokumentasi dan disengaja.

Sementara rudal dan drone mendominasi berita utama, perang yang lebih berbahaya dilancarkan melalui layar dan berita utama. Media berbahasa Persia ini telah menjadi pemain sentral di lini depan media, berusaha mendestabilisasi Iran dari dalam.

Taktik mereka canggih, terkoordinasi, dan tertanam kuat dalam strategi perang hibrida yang lebih luas. Dari pelaporan selektif hingga manipulasi emosional, konten mereka dirancang dengan cermat untuk mengikis kepercayaan publik, memperkuat perpecahan internal, dan menampilkan tokoh-tokoh yang didukung asing sebagai alternatif yang sah bagi kepemimpinan nasional yang dipilih secara demokratis.

Misalnya, ‘Iran Internasional’ telah menjadi pusat kampanye kejam ini. Selama perang agresi 12 hari baru-baru ini yang dipaksakan terhadap Iran oleh rezim Israel dengan dukungan Amerika, jaringan tersebut secara sistematis mengecilkan kerugian militer Israel sambil menggambarkan Iran sebagai negara yang tidak stabil dan di ambang kehancuran.

Liputan tersebut tidak hanya bias dan terdistorsi—tetapi juga dirancang untuk menciptakan ketidakseimbangan psikologis, secara keliru memproyeksikan kekuatan Israel dan kerentanan Iran.

‘BBC Persian’ mengikuti pola serupa selama peringatan Asyura, ketika Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, muncul di antara para pelayat setelah 12 hari absen.

Alih-alih melaporkan peristiwa tersebut sebagaimana adanya, karena Pemimpin Revolusi Islam telah menghadiri acara publik meskipun ada ancaman, jaringan tersebut justru membingkainya dengan narasi menyesatkan untuk membentuk opini publik.

Salah satu contoh paling mengerikan dari perang media ini terjadi setelah rezim Israel mengebom Lapangan Tajrish yang ramai di Teheran utara, yang menewaskan beberapa warga sipil yang sedang menunggu di lampu merah.

Baca juga:  Jenderal Iran: Sebagian Besar Kapasitas Militer Iran Masih Belum Dimanfaatkan

Sementara pengamat internasional mengecam serangan itu sebagai pelanggaran hukum humaniter, ‘Iran International’ menayangkan segmen di mana seorang analis tamu mengklaim serangan itu bukan merupakan kejahatan perang. Mengutip Pasal 52 Konvensi Jenewa, sang analis tamu berpendapat bahwa kematian warga sipil tersebut merupakan akibat dari kesalahan penargetan.

Pembenaran ini, yang disiarkan tanpa perlawanan, berfungsi untuk menormalisasi kekerasan yang tidak beralasan dan melanggar hukum terhadap warga sipil Iran, sekaligus melindungi rezim dari akuntabilitas.

Jaringan-jaringan ini sangat bergantung pada disinformasi. Sumber-sumber anonim, “pakar” yang samar, dan klaim-klaim yang tidak terverifikasi secara rutin disajikan sebagai fakta. Pernyataan resmi Iran disunting di luar konteks untuk mendistorsi maknanya, sementara frasa-frasa bermuatan emosional seperti “Iran sedang runtuh” ​​diulang-ulang di seluruh siaran untuk menciptakan kesan palsu tentang keniscayaan.

Seiring waktu, pengulangan ini membentuk keyakinan publik, terutama di kalangan khalayak muda yang mengonsumsi berita terutama melalui platform digital di era media baru ini.

Manipulasi visual merupakan taktik kunci lainnya. Protes-protes kecil digambarkan sebagai pemberontakan nasional. Rekaman dari negara-negara yang tidak terkait diberi label yang salah dan disajikan sebagai adegan-adegan dari Iran. Dalam beberapa kasus, visual yang direkayasa—seperti ban yang terbakar atau asap buatan—difilmkan dan disebarkan untuk mensimulasikan kekacauan yang meluas. Gambar-gambar ini dirancang untuk beresonansi dengan masyarakat Iran yang terhubung secara digital, membuat mereka merasa kecewa atau terasing.

Salah satu aspek paling terungkap dari kampanye media yang menjengkelkan ini adalah platform yang secara konsisten diberikan kepada Reza Pahlavi, putra mantan diktator Iran yang diasingkan. Pahlavi tanpa ragu telah memihak Israel, terutama sejak kunjungannya ke Tel Aviv pada tahun 2023, di mana ia bertemu dengan Perdana Menteri Netanyahu.

Kerja samanya dengan kepemimpinan Israel telah melampaui simbolisme karena ia secara aktif menyerukan “perubahan rezim” di Iran selama agresi militer Israel, membingkainya sebagai peluang untuk pemberontakan.

Para pendukung Pahlavi, terutama di kalangan monarki di luar negeri, juga menuai kritik atas perilaku mereka di demonstrasi—mengibarkan bendera Israel di samping bendera monarki, melecehkan demonstran pro-Palestina, dan membela agresi Israel terhadap Iran.

Mungkin yang paling meresahkan, media-media ini sebagian besar masih bungkam mengenai korban sipil yang disebabkan oleh serangan udara Israel di Iran. Meskipun

Oleh: Hoda Yaq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *