Krisis Energi Tetap Berlanjut Meski Selat Hormuz Dibuka Kembali

Selat Hormuz

Tehran, Purna Warta – Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dinilai tidak hanya dipenuhi kesalahan perhitungan militer, tetapi juga menciptakan ilusi berbahaya terkait dampak krisis energi global. Menurut analisis yang ditulis oleh Clyde Russell di Reuters, bahkan jika jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali dibuka, krisis energi tetap tidak dapat dihindari.

Russell menegaskan bahwa tidak ada pihak yang benar-benar keluar sebagai pemenang dari konflik di Timur Tengah. Meski terdapat gencatan senjata dan kemungkinan pemulihan lalu lintas kapal, dampak terhadap ekonomi global akan terus berlangsung dalam jangka panjang.

Empat ilusi berbahaya di tengah krisis

  1. Pertama, anggapan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz akan langsung menyelesaikan masalah pasokan minyak mentah, produk olahan, dan gas alam cair adalah keliru.
  2. Kedua, keyakinan bahwa pemerintahan Donald Trump bertindak sepenuhnya rasional dan mempertimbangkan dampak ekonomi terhadap sekutu di Teluk, Eropa, dan Asia juga dianggap sebagai ilusi.
  3. Ketiga, anggapan bahwa krisis ini hanya terkait harga minyak mentah, padahal sebenarnya menyangkut krisis pasokan produk energi olahan, terutama bagi negara-negara pengimpor bahan bakar.
  4. Keempat, kepercayaan bahwa kebijakan jangka pendek berbasis kepentingan nasional dapat melindungi suatu negara dari dampak krisis global juga dinilai menyesatkan.

Reaksi global dan guncangan pasokan

Penghentian ekspor bahan bakar olahan oleh China memang dapat melindungi pasokan domestik negara tersebut, tetapi berisiko menimbulkan efek domino di Asia jika negara-negara tetangga mengalami kekurangan energi.

Beberapa langkah mitigasi mulai terlihat. Australia, misalnya, meningkatkan impor bahan bakar dari Jepang dan Singapura dengan imbalan pasokan batu bara dan gas alam cair. Namun, pertanyaan besar tetap muncul: apakah dunia siap menghadapi hilangnya sekitar 12 juta barel per hari—lebih dari 10 persen permintaan global?

Berbeda dengan krisis saat pandemi COVID-19 yang dipicu penurunan permintaan, krisis saat ini didorong oleh gangguan pasokan. Hal ini menyebabkan lonjakan harga tajam, bahkan harga bahan bakar jet di Singapura dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat.

Risiko eskalasi dan skenario ke depan

Situasi diperburuk oleh dua faktor utama: Selat Hormuz masih praktis tertutup bagi banyak kapal, dan upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik belum membuahkan hasil.

Serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk juga memperbesar risiko. Iran dilaporkan telah menargetkan fasilitas energi di negara-negara seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Arab Saudi, meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

Dalam kondisi ini, Trump disebut memiliki tiga opsi: menarik diri sambil mengklaim kemenangan, meningkatkan eskalasi yang berisiko memicu krisis energi global lebih dalam, atau memilih jalur diplomasi yang kemungkinan lebih menguntungkan Iran—meskipun opsi terakhir dinilai paling kecil kemungkinannya.

Prospek ekonomi global yang suram

Penurunan permintaan global sekitar 10 persen tidak akan terjadi secara merata. Negara-negara miskin di Asia dan Afrika diperkirakan akan terdampak paling awal karena keterbatasan akses dan kemampuan membeli energi.

Efek lanjutan seperti inflasi tinggi, penurunan perdagangan global, kehilangan lapangan kerja, dan potensi ketidakstabilan sosial diperkirakan akan muncul pada paruh kedua tahun ini.

Analisis tersebut menyimpulkan bahwa pemerintah dunia perlu bekerja sama untuk menghadapi krisis ini, bukan mengambil langkah unilateral. Namun sebelum itu, mereka harus memahami secara realistis tingkat keparahan situasi yang sedang berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *