Al-Quds, Purna Warta – Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan hanya tujuan-tujuan yang diumumkan dalam operasi tersebut tidak tercapai, tetapi menurut pengakuan sejumlah pejabat Barat dan media Amerika, para agresor juga menghadapi kebuntuan strategis serta kekalahan di medan perang dan secara politik.
Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan hanya tujuan-tujuan yang diumumkan dalam operasi tersebut tidak tercapai, tetapi menurut pengakuan sejumlah pejabat Barat dan media Amerika, para agresor juga menghadapi kebuntuan strategis serta kekalahan di medan perang dan secara politik.
Perang yang diawali dengan serangan besar-besaran dan pembunuhan warga sipil, termasuk para pelajar yang tidak bersalah, dengan cepat berkembang menjadi krisis berdimensi kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang luas serta memicu beragam reaksi dari media internasional.
Media-media dunia, masing-masing dengan pendekatan khususnya, telah berupaya membentuk narasi mengenai perang ini. Menelaah berbagai pemberitaan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai situasi sebenarnya serta prospek perang.
Media Berbahasa Inggris
ABC News dalam laporan komprehensifnya memperingati enam bulan perang Iran dengan menulis bahwa konflik yang diperkirakan Donald Trump akan berlangsung selama “empat hingga lima minggu” kini telah berubah menjadi sebuah “rawa” atau kebuntuan yang menyeluruh.
Menurut laporan tersebut, serangan udara awal Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan sejumlah pemimpin senior Iran mendapat respons tegas dari Teheran, termasuk penutupan Selat Hormuz serta serangan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, Yordania, dan Irak.
ABC News menyatakan bahwa Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, pada awal Maret menyebut penutupan Selat Hormuz sebagai “tanda keputusasaan” Iran. Namun, enam bulan kemudian, “pembukaan kembali selat tersebut telah menjadi fokus utama misi.”
Laporan itu menyoroti besarnya biaya kemanusiaan dan ekonomi akibat perang: 18 personel militer Amerika Serikat tewas dan lebih dari 750 lainnya terluka; harga minyak dunia meningkat 25 persen dan rata-rata setiap rumah tangga Amerika harus mengeluarkan tambahan 700 dolar AS untuk bahan bakar; sementara biaya resmi perang diperkirakan mencapai 37,5 miliar dolar AS.
Berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos, hanya 31 persen warga Amerika yang mendukung serangan militer terhadap Iran, sementara tingkat popularitas Trump merosot ke titik terendah, yakni 33 persen.
ABC News menambahkan bahwa karena tidak adanya kemenangan militer yang menentukan, pemerintahan Trump kembali pada strategi “tekanan ekonomi”, yang disebutnya sebagai “D-Day ekonomi”.
Namun, perundingan telah terhenti, kesepakatan bulan Juni runtuh, dan harapan untuk mencapai kesepakatan apa pun—apalagi kesepakatan nuklir komprehensif—telah jatuh ke tingkat terendah.
Mike Johnson, Ketua DPR Amerika Serikat, juga mengakui adanya tekanan akibat pemilihan umum paruh waktu dan mengatakan bahwa mengakhiri perang sebelum pemilu akan “bermanfaat”.
Council on Foreign Relations (CFR) juga menerbitkan analisis komprehensif dalam rangka memperingati enam bulan perang Iran, yang memuat pandangan para pakarnya mengenai dampak konflik tersebut.
Steven Cook, pakar senior lembaga pemikir tersebut, secara tegas menyatakan bahwa “salah perhitungan Trump telah membawa Amerika Serikat menghadapi kekalahan strategis.”
Ia menekankan bahwa Trump tidak pernah memperkirakan tekad Iran untuk melakukan perlawanan. Akibatnya, muncul “gangguan parah terhadap kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, meningkatnya kerentanan mitra-mitra Amerika Serikat di Teluk Persia, serta semakin kuatnya dorongan Teheran untuk mempersenjatai program nuklirnya.”
Sebaliknya, Ed Husain, pakar dunia Arab, mengklaim bahwa “Semenanjung Arab kini lebih aman daripada sebelumnya” dan bahwa Iran telah mengisolasi dirinya sendiri dengan menyerang seluruh negara Arab.
Namun, Elliott Abrams, mantan pejabat pemerintahan Trump, sembari mengakui penguatan kerja sama militer Amerika Serikat dan Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya, juga menunjuk pada menurunnya popularitas Israel di mata publik Amerika serta menguatnya arus anti-Zionis.
Henry Barkey juga menyebut Turki sebagai “pemenang yang pasti” dalam perang ini, terlepas dari hasil akhirnya.
Secara keseluruhan, analisis tersebut menggambarkan kawasan yang telah berubah secara mendasar, dengan kepercayaan terhadap Amerika Serikat mengalami erosi yang sangat tajam.
Surat kabar The Guardian juga memaparkan perjalanan enam bulan perang Iran, mulai dari serangan pertama Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari hingga perebutan pengaruh atas Selat Hormuz.
Menurut laporan tersebut, tewasnya Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama serangan, penutupan Selat Hormuz, serta penurunan 80 persen lalu lintas pelayaran telah mengubah perang tersebut menjadi “konflik regional dengan konsekuensi ekonomi global”.
Harga minyak melonjak dari di bawah 70 dolar AS per barel menjadi lebih dari 120 dolar AS, sementara lalu lintas pelayaran melalui selat tersebut turun dari rata-rata 110 kapal per hari menjadi hanya dua kapal pada beberapa hari.
The Guardian, dengan mencatat secara rinci pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan dari kedua pihak, menunjukkan bahwa setiap peluang diplomatik selalu diikuti ancaman baru, kesepakatan yang kontroversial, dan serangan-serangan baru.
Trump berulang kali mengancam akan menghancurkan Iran, mulai dari ancaman “menghancurkan peradaban” hingga “mengebom pembangkit listrik”, sebelum kemudian menarik diri dari sejumlah ancaman serangan tersebut.
Sebaliknya, para pejabat Iran, termasuk Abbas Araghchi, menekankan bahwa “doktrin pertahanan kami jelas: mata dibalas mata”. Sementara itu, Mohammad-Bagher Ghalibaf menolak “diplomasi sandiwara” dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali pada kondisi sebelum perang serta menekankan hak-hak kedaulatan Iran.
Laporan tersebut menyatakan bahwa pola berulang berupa “gencatan senjata, keruntuhan, dan eskalasi” menunjukkan tidak adanya strategi yang koheren di Washington serta tekad kuat Teheran untuk menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekan.
Kesepakatan bulan Juni ditandatangani dengan optimisme awal, tetapi runtuh dalam waktu kurang dari dua minggu. Kini, meskipun terdapat perundingan regional dengan Oman dan Pakistan, kedua pihak masih menemui jalan buntu terkait kendali atas jalur air strategis tersebut.
Trump, dengan menyebut Selat Hormuz sebagai “wilayah Amerika”, pada praktiknya telah mengemukakan doktrin hukum baru yang mendapat respons tegas dari Teheran.
Media Arab
Al Mayadeen dalam sebuah artikel menganalisis mengapa Irak kemungkinan tidak akan menghadapi guncangan ekonomi besar meskipun sanksi Amerika Serikat terhadap Iran semakin meluas.
Penulis menjelaskan bahwa ketergantungan Irak terhadap Iran dalam bidang perdagangan, energi, dan impor, di satu sisi, serta ketergantungannya pada sistem keuangan global dan dolar Amerika Serikat, di sisi lain, menempatkan Baghdad dalam posisi yang sensitif.
Dengan mempertimbangkan pentingnya stabilitas politik dan keamanan Irak, Amerika Serikat kemungkinan akan menargetkan individu, perusahaan, dan jaringan keuangan yang terkait dengan Iran, alih-alih menjatuhkan sanksi menyeluruh terhadap Irak.
Pengecualian untuk impor listrik dan gas dari Iran juga dapat mengurangi tekanan. Perdagangan antara kedua negara kemungkinan tidak akan berhenti, tetapi jalur pembayaran dan mekanisme keuangannya akan mengalami perubahan.
Artikel tersebut menambahkan bahwa titik paling rentan bagi Irak adalah sektor perbankan serta kemungkinan digunakannya lembaga-lembaga Irak untuk menghindari sanksi. Oleh karena itu, Baghdad harus menyeimbangkan antara mempertahankan hubungan ekonomi dengan Iran dan mematuhi pembatasan Amerika Serikat.
Dengan demikian, dampak sanksi akan terasa, tetapi kemungkinan masih dapat dikendalikan.
Rai al-Youm dalam sebuah artikel menulis bahwa Amerika Serikat dan Donald Trump telah memasuki situasi terkait Iran yang jauh lebih sulit untuk ditinggalkan dibandingkan ketika konflik tersebut dimulai.
Penulis mengatakan bahwa Benjamin Netanyahu berhasil meyakinkan Trump bahwa tujuan serangan terhadap Iran dapat dicapai. Namun, perlawanan Iran dan kompleksitas pengaruh regionalnya membuat tercapainya sebuah “kemenangan” yang jelas menjadi sulit.
Menurut artikel tersebut, selama beberapa dekade Iran telah membangun jaringan yang kompleks dengan mengaitkan persoalan nuklirnya dengan pengaruhnya di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman. Jaringan tersebut tidak mudah untuk dihapuskan.
Washington, alih-alih mencari penyelesaian akhir, juga menggunakan strategi “konflik yang dikelola”, sanksi, serangan terbatas, dan mempertahankan kehadiran militernya.
Penulis menegaskan bahwa serangan terbaru menunjukkan keterbatasan kekuatan militer Amerika Serikat dan bahwa Trump telah terjebak dalam “rawa Iran”.
Dengan mengutip pernyataan Scott Ritter, penulis juga menilai ancaman ekonomi Trump tidak memiliki efektivitas nyata dan memperkirakan bahwa tekanan politik serta pemilihan umum paruh waktu akan memaksanya untuk mundur.
Al-Ahed dalam sebuah artikel menulis bahwa rezim Israel mengikuti dengan cermat dan dekat perang ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran, meskipun persoalan tersebut tidak mendapatkan sorotan media yang luas di Israel.
Persoalan utama bagi kalangan pengambil keputusan di Israel adalah sejauh mana sanksi Amerika Serikat berhasil, seberapa besar kerusakan yang ditimbulkannya terhadap perekonomian dan masyarakat Iran, dan yang lebih penting, bagaimana tekanan ekonomi tersebut memengaruhi keputusan strategis Teheran.
Penulis menekankan bahwa jika Iran menganggap tekanan tersebut sebagai ancaman eksistensial, Iran mungkin beralih dari upaya menanggung dan menghindari sanksi menuju tindakan ofensif dan eskalasi konflik.
Dalam kondisi seperti itu, respons Amerika Serikat juga akan memengaruhi perhitungan Iran dan Israel.
Menurut penulis, meskipun Israel memiliki kemampuan militer dan keamanan yang luas, negara tersebut tidak memiliki kebebasan bertindak strategis yang tidak terbatas terhadap Iran dan tetap bergantung pada posisi Amerika Serikat.
Oleh karena itu, kemungkinan Israel, dengan berkoordinasi dengan Washington, akan melanjutkan operasinya di Lebanon dan Suriah dalam kerangka yang terkendali untuk mencegah tekanan ekonomi berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.


