Teheran, Purna Warta – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan kesepakatan yang dicapai dengan Oman mengenai rute maritim baru di Selat Hormuz tidak berarti membuka kembali jalur air strategis tersebut.
Berbicara dalam wawancara dengan Al-Araby Al-Jadid, Araqchi mengatakan agenda pertemuan mendatang di Oman akan berpusat pada jalur maritim baru di Selat Hormuz.
Ia menegaskan, perjanjian dengan Kesultanan Oman sama sekali tidak boleh diartikan sebagai pembukaan kembali selat tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran mengatakan negara-negara peserta akan diberi pengarahan tentang rincian perjanjian yang dicapai dengan Muscat, serta peta terkait rute maritim baru tersebut.
Araqchi menyatakan, syarat Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz adalah agar AS kembali memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman Islamabad.
Ia juga menyatakan harapannya bahwa perundingan di Oman akan membuka jalan bagi konsultasi di masa depan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian negara-negara di kawasan.
Iran percaya bahwa negara-negara di kawasan itu sendiri bertanggung jawab untuk memastikan keamanan dan stabilitas mereka, tegasnya, seraya mengatakan bahwa keamanan berkelanjutan dapat dicapai ketika negara-negara di kawasan mencapai pemahaman mengenai isu-isu bersama tanpa campur tangan eksternal.
Araqchi menegaskan bahwa pertemuan di Oman tidak bertujuan untuk membentuk mekanisme keamanan regional yang baru, namun menggambarkannya sebagai peristiwa penting yang dapat berfungsi sebagai langkah membangun kepercayaan.
Mengenai Yaman, menteri luar negeri Iran mengatakan Teheran yakin tidak ada solusi militer terhadap konflik tersebut dan masa depan negara Arab harus ditentukan oleh rakyat Yaman sendiri melalui dialog.
Araqchi juga mengaitkan kurangnya keamanan maritim di Selat Hormuz dengan tindakan agresif dan intervensi ilegal AS, dan mengatakan bahwa tindakan Washington adalah faktor utama di balik tidak adanya keamanan di jalur air tersebut.
Komentar tersebut muncul ketika Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan para menteri luar negeri negara-negara Arab akan bertemu di Oman pada hari Senin, 14 September, untuk mencapai kesepakatan mengenai kerangka navigasi melalui Selat Hormuz dan mengkomunikasikan pengaturan tersebut kepada organisasi maritim internasional terkait. Dia mengatakan jalur tersebut akan terbuka berdasarkan hukum internasional jika AS menghentikan agresi dan serangannya, dan menambahkan bahwa Iran siap bekerja sama dengan negara-negara tetangga untuk menjaga keamanan regional dan memperluas hubungan ekonomi.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei juga mengatakan persiapan sedang dilakukan untuk pertemuan regional tersebut, yang akan mencakup Iran, Irak dan negara-negara pesisir Teluk Persia lainnya. Dia mengatakan para peserta akan membahas isu-isu regional serta hasil perundingan Iran-Oman mengenai penetapan rute aman untuk pelayaran komersial di Selat Hormuz. Baqaei menekankan bahwa meskipun Iran tetap berkomitmen untuk menjamin keamanan pelayaran melalui selat tersebut, keamanan tersebut tidak dapat dijamin selama tindakan agresif dan intervensi ilegal AS, termasuk blokade laut dan perang ekonomi, terus berlanjut.


