Washington, Purna Warta – JD Vance mengatakan bahwa tujuan utama perang dengan Iran adalah menjaga agar harga minyak dan bensin tetap rendah, bukan mencegah Iran membuat senjata nuklir.
Hampir enam bulan setelah dimulainya serangan Amerika Serikat–Israel terhadap Iran, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada Fox News bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir bukanlah prioritas utama dalam perang tersebut.
Ia mengatakan, prioritas utama Amerika Serikat dalam perang dengan Iran adalah menjaga harga minyak dan bensin tetap rendah bagi warga Amerika, sedangkan mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir berada di urutan kedua.
Pernyataan tersebut muncul ketika Presiden Donald Trump sebelumnya telah berulang kali menyebut berbagai tujuan perang dengan Iran, mulai dari perubahan pemerintahan Iran, penghancuran angkatan bersenjata dan kemampuan militernya, hingga pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir. Kini, wakil presidennya menyebut bahwa menjaga harga minyak tetap rendah merupakan tujuan utama perang.
ABC News, dalam pemberitaannya mengenai pernyataan JD Vance, menulis bahwa pernyataan tersebut juga semakin menegaskan kenyataan bahwa perang kini berpusat pada penguasaan Selat Hormuz. Iran telah menempatkan isu tersebut sebagai salah satu agenda utama dalam perundingan, padahal sebelum perang berlangsung, Selat Hormuz pada dasarnya berada dalam kondisi terbuka.
Pernyataan mengenai harga minyak tersebut menjadi semakin penting karena Selat Hormuz kini memang menjadi titik utama konflik AS–Iran. Reuters melaporkan pada 13 Agustus bahwa Amerika Serikat telah memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan bahwa Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan Angkatan Laut AS mampu mempertahankan blokade tersebut tanpa batas waktu melalui rotasi kapal. Konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 telah mengganggu lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz, salah satu jalur utama perdagangan minyak dan gas dunia.
Perkembangan itu juga memperlihatkan paradoks dari tujuan yang dikemukakan Vance. Jika tujuan utama Washington adalah menekan harga minyak dan bensin, gangguan terhadap Selat Hormuz justru berpotensi memberikan tekanan naik terhadap harga energi. Laporan terbaru mengenai kondisi pasar AS menyebut harga rata-rata bensin nasional telah mencapai sekitar US$4,07 per galon, sementara harga minyak meningkat sekitar 39% sejak dimulainya perang.
Di sisi lain, posisi pemerintah AS mengenai tujuan perang memang menunjukkan perubahan penekanan. Pada awal operasi militer, Gedung Putih secara resmi menyebut sejumlah tujuan: menghancurkan kemampuan rudal balistik Iran dan fasilitas produksinya, menghancurkan angkatan laut Iran, memutus dukungannya terhadap kelompok proksi, serta memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir. Pada 2 Maret, Vance sendiri menyatakan bahwa tujuan utama Presiden Trump adalah memastikan Iran tidak membangun bom nuklir.
Namun, sejak konflik berkembang, Selat Hormuz semakin menonjol sebagai sasaran strategis. Axios melaporkan pada Juli bahwa perang yang pada awalnya berfokus pada penghancuran kemampuan rudal dan program nuklir Iran telah berubah menjadi konflik yang lebih terbuka mengenai kendali atas salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Perkembangan terbaru pada Agustus semakin memperkuat hal tersebut. Reuters melaporkan bahwa Iran dan Amerika Serikat kini saling mengklaim kendali atas Selat Hormuz. Iran menyatakan selat tersebut berada di bawah kendalinya, sementara Trump sebelumnya mengatakan Amerika Serikat memiliki “kendali penuh” atas kawasan tersebut. Washington juga telah memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, sementara Tehran menyatakan kapal tidak dapat melewati selat tanpa izinnya.
Dari sisi diplomasi, Trump pada awal Agustus memutuskan untuk menunda serangan baru terhadap Iran dengan harapan tercapainya kesepakatan yang dapat mengakhiri ambisi nuklir Iran sekaligus membuka kembali Selat Hormuz. Beberapa hari kemudian, Trump mengatakan AS memilih pendekatan yang lebih rendah eskalasinya dan meningkatkan tekanan ekonomi daripada segera melancarkan ofensif militer baru.
Dengan demikian, pernyataan Vance dapat dibaca sebagai perubahan penekanan strategis Washington: isu nuklir tetap menjadi bagian dari agenda resmi, tetapi keamanan jalur energi, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan dampaknya terhadap harga minyak serta bensin kini menjadi kepentingan yang jauh lebih menonjol. Bahkan AP melaporkan bahwa Trump kembali menggunakan sanksi ekonomi sebagai alat tekanan, dengan tuntutan utama kepada Iran mencakup penghentian program senjata nuklir dan pembukaan kembali Selat Hormuz.


