“Saraya Awliya al-Dam” Menolak Menyerahkan Senjata Sebelum Pendudukan Atas Irak Diakhiri

Saraya Auliya

Baghdad, Purna warta – Kelompok perlawanan Irak “Saraya Awliya al-Dam” menolak menyerahkan senjata sebelum pendudukan atas Irak benar-benar diakhiri. Dalam pernyataan yang dirilis pada Jumat, kelompok yang berada di bawah naungan Kataib Sayyid al-Shuhada itu menegaskan bahwa mereka tidak akan meletakkan senjata ataupun menghentikan perlawanan sebelum apa yang mereka sebut sebagai “penindasan dan pendudukan” terhadap Irak berakhir.

Dalam pernyataannya, “Saraya Awliya al-Dam” menyebut bahwa para pejuang perlawanan dihormati saat perang, namun sering dilupakan ketika situasi damai. Mereka menekankan bahwa tanah air tidak dapat dijaga oleh pihak asing, melainkan oleh orang-orang yang setia mempertahankan Irak dalam berbagai krisis.

Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya politik yang terus berlangsung di Irak untuk menyelesaikan persoalan kelompok-kelompok bersenjata serta menjaga stabilitas keamanan dalam negeri. Pemerintah Irak dalam beberapa tahun terakhir berusaha menyeimbangkan hubungan antara negara, kelompok milisi bersenjata, dan keberadaan pasukan asing di wilayahnya.

Sebelumnya, sejumlah faksi perlawanan Irak diketahui melancarkan serangan menggunakan pesawat nirawak terhadap target-target militer Israel di wilayah Golan Heights sebagai respons atas perang Israel di Gaza Strip. Kelompok-kelompok tersebut juga secara rutin menyatakan kesiapan untuk melanjutkan perlawanan terhadap pasukan asing yang berada di Irak.

“Saraya Awliya al-Dam” turut menuduh United States memanfaatkan Irak sebagai basis tekanan terhadap Iran. Tuduhan seperti ini sering menjadi bagian dari narasi kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran di Irak yang menolak keberadaan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Berita terkait lainnya, pemerintah Irak belakangan meningkatkan pembicaraan internal mengenai integrasi kelompok bersenjata ke dalam struktur resmi negara guna mengurangi ketegangan keamanan. Di sisi lain, ketegangan regional akibat konflik di Gaza juga memicu peningkatan aktivitas kelompok-kelompok bersenjata di Irak dan Suriah, termasuk serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *