Moskow, Purna Warta – Seorang penulis Rusia menegaskan bahwa perang melawan Iran merupakan kekalahan paling memalukan dalam sejarah Amerika Serikat. Ia menulis bahwa meskipun demikian, kemungkinan besar Donald Trump akan berusaha menyebut dirinya sebagai pemenang dalam konflik tersebut dan merayakan “kemenangan” untuk dirinya sendiri.
Menurut laporan Vasily Zaitsev, seorang penulis Rusia, dalam surat kabar Gazeta menulis bahwa gencatan senjata dalam perang Amerika Serikat dan rezim Zionis melawan Iran merupakan momen yang memalukan bagi Washington.
Zaitsev meyakini bahwa Trump memasuki perang dengan janji-janji besar, termasuk menggulingkan pemerintahan Iran, merebut uranium yang telah diperkaya, dan memaksa Iran menyerah melalui kekuatan militer. Namun perang berakhir tanpa tercapainya tujuan-tujuan tersebut. Iran tidak hanya tidak kalah, tetapi justru keluar dari perang dengan kemampuan yang lebih besar untuk memaksakan syarat-syaratnya sendiri.
Penulis itu menambahkan bahwa penghinaan bagi Amerika tidak hanya terlihat dari kegagalan mencapai tujuan perang, tetapi juga dari langkah mundur yang diambil Washington. Trump, yang sebelumnya mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran, justru memilih gencatan senjata pada saat ia seharusnya membuktikan kredibilitas ancamannya.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun mengalami kekalahan yang memalukan, kemungkinan besar Trump tidak akan berhenti merayakan dan berpura-pura menang, sebagaimana gaya politiknya selama ini.
Berdasarkan laporan tersebut, dimensi terpenting dari kemenangan Iran adalah bahwa Teheran berhasil membuktikan bahwa ancaman Amerika dapat ditahan, dan pihak yang mampu bertahan lama menghadapi tekanan Washington pada akhirnya mungkin dapat memaksakan syarat-syaratnya sendiri kepada Amerika.
Penulis artikel itu pada akhirnya menyimpulkan bahwa petualangan militer Amerika Serikat dan Israel tidak hanya berakhir dengan kegagalan, tetapi juga mencatat kekalahan strategis paling memalukan dalam sejarah Amerika.
Sejumlah media internasional dan analis politik menyoroti bahwa konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengubah keseimbangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Banyak pengamat menilai Iran berhasil mempertahankan stabilitas internalnya sekaligus menunjukkan kemampuan militernya dalam menghadapi tekanan gabungan dari Washington dan Tel Aviv.
Di Amerika Serikat sendiri, kebijakan luar negeri Donald Trump kembali menjadi bahan perdebatan. Para kritikus menilai pendekatan agresif terhadap Iran justru gagal menghasilkan kemenangan strategis dan malah memperburuk citra Amerika di mata dunia. Sebaliknya, pendukung Trump berusaha menggambarkan gencatan senjata sebagai langkah taktis untuk menghindari perang berkepanjangan.
Sementara itu, di Israel, sejumlah mantan pejabat keamanan dan politik mulai mempertanyakan efektivitas koordinasi militer dengan Washington. Mereka menilai hasil konflik menunjukkan keterbatasan kekuatan militer dalam memaksa perubahan politik di Iran.
Di pihak Iran, media dan pejabat pemerintah menggambarkan berakhirnya konflik sebagai kemenangan diplomatik dan militer. Narasi bahwa Iran mampu bertahan dari tekanan maksimal Amerika dan Israel digunakan untuk memperkuat posisi pemerintah di dalam negeri serta meningkatkan pengaruh regionalnya di Timur Tengah.


