Analis Amerika: Bencana Ekonomi Berada di Depan Mata

Krisis Ekonomi

Washington, Purna Warta – Cenk Uygur, seorang analis Amerika dan pendiri jaringan The Young Turks, dalam sebuah pesan terkait klaim Donald Trump mengenai kemenangan dalam perang melawan Iran, menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat tersebut telah berbohong sepanjang waktu dan bahwa bencana ekonomi yang belum pernah terjadi dalam seumur hidup manusia kini berada sangat dekat.

Dalam unggahannya di platform X (sebelumnya Twitter), Uygur menyebut bahwa Trump memperpanjang tenggat perundingan damai karena sebenarnya tidak ada proses negosiasi yang nyata. Ia juga mengatakan bahwa pihak Iran menolak hadir dalam putaran perundingan berikutnya, sementara Wakil Presiden AS JD Vance tidak melakukan perjalanan ke Islamabad untuk pembicaraan tersebut.

Ia menambahkan bahwa setelah publik menyadari bahwa Trump “berbohong sepanjang waktu”, maka krisis ekonomi besar yang belum pernah terjadi dalam hidup generasi saat ini akan segera terjadi.

Uygur juga menyinggung pernyataan Trump yang memperkirakan harga minyak bisa mencapai 200 dolar per barel. Menurutnya, hal tersebut tidak terjadi karena pelaku pasar di Wall Street percaya pada narasi bahwa perang hampir selesai dan Amerika Serikat telah menang.

Ia memperingatkan bahwa ketika publik menyadari situasi tersebut tidak benar, harga minyak akan melonjak tajam dan ekonomi secara keseluruhan akan menghadapi kehancuran.

Menurut laporan, Trump sebelumnya menyatakan bahwa atas permintaan Pakistan, gencatan senjata dengan Iran diperpanjang hingga proposal dari pihak Iran diajukan dan perundingan mencapai hasil.

Trump juga mengatakan telah memerintahkan militer AS untuk melanjutkan “blokade” dan tetap dalam kondisi siaga penuh.

Gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terjadi setelah konflik selama 40 hari yang dimulai pada akhir Februari 2026. Gencatan senjata sementara diberlakukan pada awal April 2026 selama dua minggu, kemudian diperpanjang tanpa batas waktu pada 21 April 2026.

Perundingan antara Teheran dan Washington yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.

Konteks Ekonomi dan Pasar Global

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran terus memberikan dampak signifikan terhadap pasar energi global. Laporan menunjukkan bahwa gangguan di kawasan Selat Hormuz telah menyebabkan fluktuasi besar pada harga minyak dunia, karena jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi global.

Beberapa analisis pasar mencatat bahwa harga minyak sempat melonjak mendekati atau di atas 100 dolar per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan, sebelum kemudian berfluktuasi seiring munculnya kabar gencatan senjata dan negosiasi diplomatik.

Dalam skala yang lebih luas, sejumlah laporan ekonomi internasional memperingatkan bahwa ketidakstabilan di kawasan ini dapat memicu tekanan inflasi global, terutama karena energi dan logistik sangat bergantung pada jalur Timur Tengah. Lonjakan harga minyak juga berdampak langsung pada pasar saham, nilai mata uang, dan biaya transportasi global.

Di sisi lain, analis pasar memperkirakan bahwa ketidakpastian mengenai perundingan AS–Iran membuat harga energi tetap volatil, dengan kemungkinan lonjakan kembali jika negosiasi gagal atau konflik kembali meningkat.

Sejumlah lembaga ekonomi juga mencatat bahwa konflik berkepanjangan di kawasan dapat menimbulkan risiko stagflasi di beberapa negara, yaitu kondisi di mana inflasi meningkat sementara pertumbuhan ekonomi melambat akibat gangguan pasokan energi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *