Tehran, Purna Warta – Para pejabat militer Israel dan agen Mossad dilaporkan terkejut melihat betapa cepat pemulihan kemampuan militer utama Iran , hanya beberapa bulan setelah perang agresi Amerika Serikat-Israel pada 2026.
Perkembangan tersebut kembali menimbulkan kekhawatiran di Tel Aviv mengenai kemampuan Tehran untuk membangun kembali kekuatan rudalnya dan berbagai sistem strategis lainnya.
Menurut laporan harian berbahasa Inggris Israel, The Jerusalem Post, yang mengutip sumber-sumber Israel, para pejabat militer dan intelijen meyakini bahwa Iran telah menemukan “cara-cara kreatif” untuk memulihkan kemampuan-kemampuan pentingnya hanya empat bulan setelah fase utama agresi Amerika Serikat-Israel berakhir pada April.
Iran sedang mengisi kembali persediaan rudal balistik dan aset-aset militer penting lainnya jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan Israel, demikian laporan tersebut. Laporan itu juga secara independen menguatkan pernyataan para pejabat senior Iran bahwa Republik Islam kembali memproduksi senjata baru dengan tingkat produksi yang jauh lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya.
Media Barat dan Israel selama ini banyak menyampaikan spekulasi yang tidak berdasar mengenai persenjataan Iran. Sebagian pihak mengklaim bahwa Iran masih memiliki sekitar 500 hingga 1.000 rudal jarak jauh yang mampu menyerang wilayah-wilayah yang diduduki Israel setelah perang tahun ini.
Persoalan tersebut dianggap penting ketika Israel dan para pendukungnya di Barat berasumsi bahwa Tehran akan mengalami keterbatasan persenjataan selama bertahun-tahun dan hanya dapat mengandalkan persenjataan yang selamat dari perang.
Namun, informasi baru tersebut mengubah gambaran secara keseluruhan. Dengan kemampuan Iran untuk membangun kembali rudal balistik dalam waktu cepat, jumlah rudal yang tersisa setelah perang menjadi jauh kurang penting dibandingkan kecepatan pemulihan dan produksi kembali persenjataan tersebut, tambah laporan itu.
Jika produksi kembali mencapai 100–300 rudal per bulan, Iran dapat memulihkan persediaan rudalnya ke tingkat Juni 2025 pada awal hingga pertengahan 2027 dan berpotensi menimbulkan ancaman yang sangat sulit dihadapi Amerika Serikat dan Israel pada 2028, tulis surat kabar tersebut.
Bahkan dengan tingkat produksi yang lebih moderat, kemajuan yang terus berlangsung berarti “ancaman” rudal balistik Iran dapat kembali dengan kekuatan penuh hanya dalam waktu beberapa tahun, tambahnya.
Ini bukan pertama kalinya Israel dibuat terkejut. Militer Israel sebelumnya telah dua kali dikejutkan oleh pemulihan cepat Iran di bidang ini, yakni pada Oktober 2024 dan Januari 2025.
Laporan terbaru tersebut muncul ketika sejumlah media asing telah mempertanyakan narasi Israel bahwa serangan-serangannya telah membuat kompleks industri militer Iran mengalami kemunduran selama bertahun-tahun. Klaim tersebut telah beredar sejak Maret.
Sejumlah pejabat Israel kini tampaknya siap mengabaikan persoalan rudal balistik tersebut, dengan mencatat bahwa Presiden AS Donald Trump telah memperjelas bahwa isu tersebut bukan merupakan prioritas utamanya.
Sebelumnya, The New York Times melaporkan bahwa Iran berhasil menggunakan buldoser untuk membuka kembali fasilitas rudal bawah tanah yang sebelumnya tertutup, jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan Israel. Upaya tersebut memungkinkan Iran kembali mengakses persenjataan yang sebenarnya tidak pernah dihancurkan, melainkan hanya terhalang untuk sementara.
Amerika Serikat dan rezim Israel melancarkan perang agresi ilegal terhadap Iran pada 28 Februari. Namun, hanya 40 hari kemudian, pada 8 April, pihak-pihak agresor dipaksa menerima gencatan senjata setelah menghadapi perlawanan tegas Iran dan operasi pembalasan yang sangat efektif.
Para pengamat mencatat bahwa kinerja Iran yang mengesankan dalam mempertahankan diri dan melakukan serangan balasan telah membuat Republik Islam Iran memperoleh penghormatan luas di tingkat internasional.


